Tether (USDT) mencatat nilai transaksi jauh melampaui Bitcoin (BTC) di ekosistem perdagangan kripto Indonesia. Data terbaru Bursa Kripto CFX menunjukkan stablecoin berbasis dolar AS tersebut membukukan transaksi sekitar Rp279,43 miliar, lebih dari tiga kali lipat nilai transaksi Bitcoin.
Berdasarkan Ringkasan Perdagangan Harian Aset Kripto CFX, Bitcoin berada di posisi kedua dengan nilai transaksi sekitar Rp83,70 miliar. Dengan demikian, nilai transaksi USDT mencapai sekitar 3,34 kali transaksi BTC.
Ethereum (ETH) berada jauh di belakang keduanya dengan Rp25,72 miliar, diikuti XRP Rp22,28 miliar dan Solana (SOL) Rp15,77 miliar.
CFX menegaskan bahwa data nilai transaksi, volume dan frekuensi perdagangan tersebut dihimpun dari laporan anggota CFX. Karena itu, angka tersebut mencerminkan aktivitas dalam ekosistem anggota bursa dan tidak mencakup seluruh transaksi investor Indonesia melalui platform luar negeri maupun protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi).
USDT Kalah Frekuensi dari Bitcoin, tapi Uang yang Berputar Jauh Lebih Besar
Yang menarik, dominasi USDT tidak terjadi karena stablecoin tersebut memiliki frekuensi transaksi terbanyak.
Data CFX memperlihatkan Bitcoin mencatat 24.623 frekuensi transaksi, sedangkan USDT hanya 17.468. Namun, nilai uang yang berputar melalui USDT tetap lebih dari tiga kali lipat BTC.
Jika nilai transaksi dibagi secara sederhana dengan frekuensi yang tercatat, USDT menghasilkan sekitar Rp16 juta per frekuensi, dibandingkan sekitar Rp3,4 juta pada Bitcoin.
Pola tersebut juga bukan fenomena satu hari. Data CFX yang diperbarui pada 9 Juli 2026 menunjukkan USDT pernah membukukan transaksi sekitar Rp402,77 miliar, sementara Bitcoin hanya Rp39,73 miliar.
Saat itu, nilai transaksi USDT bahkan mencapai sekitar 10 kali lipat Bitcoin, meskipun frekuensi keduanya hampir sama, yakni 20.375 untuk USDT dan 20.792 untuk BTC.
Temuan tersebut menunjukkan USDT berulang kali memainkan peran besar dalam perputaran likuiditas di pasar kripto domestik.
Kenapa USDT Bisa Mengalahkan Bitcoin?
Besarnya transaksi USDT tidak serta-merta berarti investor Indonesia lebih memilih stablecoin tersebut sebagai investasi daripada Bitcoin.
Berbeda dengan BTC yang banyak diperlakukan sebagai aset investasi, USDT dirancang untuk mempertahankan nilai mendekati US$1. Stablecoin itu juga banyak digunakan sebagai pasangan perdagangan dan perantara ketika modal berpindah dari satu aset kripto ke aset lainnya.
Struktur perdagangan bursa domestik memberi gambaran mengenai fungsi tersebut. INDODAX, misalnya, menyediakan dua kategori utama berupa IDR Market dan USDT Market, dengan berbagai aset dapat diperdagangkan menggunakan pair USDT.
Artinya, USDT dapat terus berputar ketika trader keluar dari satu aset, memarkir modal sementara dalam stablecoin, kemudian kembali membeli aset lain.
Tren itu juga sejalan dengan perkembangan pasar Asia. OECD dalam Asia Capital Markets Report 2026 mencatat stablecoin semakin banyak dimanfaatkan untuk perdagangan, pinjam-meminjam dan penyediaan likuiditas di pasar kripto.
Sekitar 30 persen aktivitas perdagangan stablecoin global pada 2025 terjadi di Asia. OECD juga mencatat stablecoin menyumbang setidaknya separuh aliran aset kripto di kawasan ASEAN pada periode 2020–2022, dengan porsinya meningkat signifikan setelah pelemahan pasar pada 2022.
USDT Jadi “Dolar Digital” di Tengah Rupiah Rp17.600-an
Ada faktor lain yang membuat posisi USDT menarik di Indonesia, yakni keterkaitannya dengan dolar AS.
Pada data CFX terbaru, harga penutupan USDT tercatat Rp17.615,17. Di hari yang sama, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia pada Jumat (4//9/2026) berada di Rp17.636 per US$1.
Selisih keduanya hanya sekitar 0,12 persen.
Kondisi tersebut membuat USDT secara praktis menyediakan eksposur terhadap aset berdenominasi dolar tanpa trader harus keluar dari ekosistem kripto. Namun, belum ada bukti yang menunjukkan pergerakan Rupiah menjadi penyebab langsung tingginya transaksi USDT di CFX.
Skala pasar yang menopang aktivitas tersebut juga terus membesar. OJK mencatat jumlah akun konsumen perdagangan aset keuangan digital di Indonesia mencapai 22,93 juta akun per Juli 2026, dengan nilai transaksi kripto pada bulan tersebut sebesar Rp20,52 triliun.
Sepanjang 2026 hingga Juli, transaksi perdagangan kripto tercatat mencapai Rp171,12 triliun.
Saat USDT Mendominasi, Stablecoin Rupiah Mulai Bersiap
Dominasi stablecoin dolar juga muncul ketika Indonesia mulai mengembangkan alternatif berbasis mata uang domestik.
OJK pada Juni 2026 menyatakan PT Adhyoka Berkah Maju telah lulus regulatory sandbox untuk model bisnis penerbit stablecoin Rupiah dengan produk bernama IDRP. Perusahaan tersebut dinyatakan lulus pada 11 Juni 2026.
Status tersebut belum berarti IDRP telah menjadi pesaing langsung USDT dalam aktivitas perdagangan domestik. Namun, perkembangannya membuka pertanyaan lebih besar mengenai bagaimana stablecoin berbasis Rupiah akan mengambil peran ketika sebagian besar likuiditas kripto selama ini banyak bergerak melalui aset berbasis dolar.
Data CFX setidaknya memperlihatkan satu hal, di balik popularitas Bitcoin sebagai wajah utama industri kripto, USDT justru mampu menjadi salah satu jalur terbesar tempat uang berpindah di pasar kripto Indonesia.
Dengan nilai perdagangan yang berulang kali melampaui BTC, pertanyaan berikutnya bukan sekadar apakah USDT lebih popular daripada Bitcoin, melainkan seberapa besar ketergantungan ekosistem kripto domestik terhadap dolar digital sebagai infrastruktur likuiditas.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


