Bukan Bull Run, Bitcoin Justru Masuki Fase yang Paling Ditakuti Investor

Permintaan Bitcoin memasuki salah satu fase kontraksi paling ekstrem sejak 2019, memunculkan kekhawatiran bahwa pasar belum sepenuhnya keluar dari risiko pelemahan lebih lanjut.

Temuan tersebut disampaikan analis on-chain Moreno di CryptoQuant yang menyoroti anjloknya pertumbuhan permintaan gabungan dari pasar spot dan perpetual futures hingga mendekati minus 650.000 BTC dalam periode 30 hari terakhir.

BTC spot perpetual 9 jun

Menurut Moreno, level tersebut hanya pernah tercapai tiga kali sepanjang sejarah data yang diamatinya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan permintaan telah berkembang jauh melampaui perlambatan pasar biasa dan mulai menyerupai fase-fase yang sebelumnya muncul menjelang periode gejolak besar di pasar kripto.

Permintaan Bitcoin Anjlok ke Zona yang Pernah Picu Kepanikan

Moreno menjelaskan bahwa situasi saat ini menjadi perhatian karena kontraksi terjadi secara bersamaan di pasar spot dan pasar perpetual futures. Dengan kata lain, pelemahan tidak hanya berasal dari trader yang menggunakan leverage, tetapi juga dari berkurangnya minat beli organik di pasar.

Akibatnya, jumlah pembeli baru yang mampu menyerap tekanan jual semakin berkurang. Dalam kondisi seperti itu, pasar memiliki kapasitas yang lebih rendah untuk menahan gelombang penjualan tambahan apabila sentimen negatif kembali meningkat.

Berdasarkan data historis yang dianalisisnya, kontraksi permintaan menuju area minus 650.000 BTC sebelumnya sempat muncul menjelang krisis pasar akibat pandemi COVID-19 pada awal 2020. Saat itu, pelemahan permintaan telah terlihat sebelum terjadi guncangan likuiditas besar yang memicu penurunan tajam di berbagai aset keuangan.

BACA JUGA:  Whale XRP Diam-diam Serok? Ratusan Juta Koin Keluar dari Bursa dan Picu Spekulasi Besar

Moreno juga menemukan pola serupa pada bear market 2022. Pada periode tersebut, kontraksi permintaan yang ekstrem mencerminkan memburuknya kondisi pasar secara struktural. Sementara itu, proses pembentukan bottom harga justru berlangsung setelah indikator tersebut mulai pulih menuju zona support yang lebih tinggi.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Karena itu, Moreno menilai kondisi saat ini belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan tren yang telah terkonfirmasi. Sebaliknya, pasar dinilai lebih dekat dengan fase pembersihan akhir yang sering muncul sebelum terbentuknya dasar siklus baru.

“Fase tersebut mungkin secara psikologis lebih merusak dibandingkan aksi jual itu sendiri,” ujar Moreno.

Dalam skenario yang dianggap paling mungkin, pasar berpotensi mengalami peningkatan volatilitas terlebih dahulu sebelum memasuki periode yang ia sebut sebagai “anestesi harga.” Fase ini ditandai oleh momentum yang lemah, aktivitas perdagangan yang menurun dan pergerakan harga yang cenderung bergerak mendatar dalam waktu cukup lama.

Koreksi Berkepanjangan Dinilai Buka Peluang Akumulasi

Di tengah meningkatnya kekhawatiran tersebut, tidak semua analis memandang kondisi pasar saat ini sebagai ancaman jangka panjang. Analis Fuel menilai Bitcoin sedang bersiap memasuki zona akumulasi strategis yang berpotensi menjadi area penting untuk enam hingga 12 bulan ke depan.

BACA JUGA:  Dominasi Whale XRP Mulai Melemah, Pertanda Apa?

BTC analisis 9 jn

Dalam grafik mingguan yang dibagikannya, Bitcoin terlihat kembali turun menuju area support besar di kisaran US$40.000 hingga US$65.000. Zona tersebut sebelumnya juga berfungsi sebagai basis konsolidasi sebelum reli besar yang membawa aset tersebut menuju rekor tertinggi.

Fuel memandang wilayah tersebut layak diperhatikan sebagai area akumulasi bagi investor dengan horizon investasi tahunan. Sementara itu, pada sisi atas, ia menyoroti keberadaan Fair Value Gap (FVG) bulanan di kisaran US$76.000 hingga US$84.000.

Menurutnya, area tersebut sebelumnya berperan sebagai resistance dan kini menjadi zona penting yang perlu direbut kembali apabila Bitcoin ingin membangun momentum bullish yang lebih kuat.

Ia juga menilai koreksi yang sedang berlangsung justru memberi waktu tambahan bagi pelaku pasar untuk menambah kepemilikan aset. Dalam pandangannya, banyak investor sering berharap harga turun agar dapat membeli lebih murah, namun ketika kesempatan itu benar-benar muncul, sentimen pasar justru berubah menjadi pesimistis.

Pandangan yang relatif serupa juga disampaikan analis CryptoZ. Berdasarkan perbandingan dengan tiga bear market sebelumnya, ia melihat pola pembentukan bottom harga saat ini masih memiliki kemiripan dengan siklus-siklus terdahulu.

BACA JUGA:  Begal Crypto Kembali Terjadi, Rp1,3 Triliun Raib Digondol Hacker!

Bitcoin analisis 9juni

CryptoZ menilai fase bottoming pada siklus sekarang kemungkinan belum sepenuhnya selesai, tetapi ia tetap mempertahankan pandangan bullish dalam jangka panjang.

Menurutnya, pasar berpotensi memasuki fase pembentukan dasar di area US$60.000 hingga US$52.000. Ia juga berpendapat bahwa pada setiap bear market sebelumnya, mayoritas pelaku pasar cenderung tetap menunggu harga yang lebih rendah ketika fase dasar mulai terbentuk.

Meski pendekatan masing-masing analis berbeda, baik Fuel maupun CryptoZ sama-sama menilai bahwa kondisi saat ini lebih mencerminkan proses pembentukan fondasi pasar dibanding awal dari tren penurunan jangka panjang yang baru.

Namun, sejalan dengan peringatan Moreno, proses tersebut masih dapat diiringi volatilitas tinggi dan periode pergerakan yang tidak nyaman bagi investor dalam beberapa bulan mendatang.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait