ETF selama ini menjadi salah satu mesin besar yang membawa modal institusional ke Bitcoin. Namun, Michael Saylor melihat ada kekuatan lain yang jauh lebih besar dalam beberapa tahun ke depan.
Menurutnya, bank, kredit berbasis Bitcoin, tokenisasi hingga AI mulai membentuk fondasi baru yang bisa memperluas penggunaan BTC sekaligus membuka pintu masuk bagi modal dalam skala lebih besar.
Saylor Sebut Bitcoin Mulai Kembali ke Fase Bullish
Dalam acara ParaFi Investor Day 2026 yang videonya diunggah kanal YouTube Strategy pada Minggu (18/10/2026), Michael Saylor membuka pembahasan dengan pandangan yang cukup optimistis soal Bitcoin.
Menurut Saylor, posisi Bitcoin di pasar kripto masih sangat dominan. Ia memperkirakan BTC mencakup sekitar dua pertiga kapitalisasi pasar dan sekitar 80 persen likuiditas industri kripto.
Bahkan, jika dilihat dari nilai ekonominya, ia memperkirakan porsinya bisa mencapai sekitar 90 persen. Dominasi ini menjadi salah satu alasan Saylor melihat Bitcoin sebagai aset utama dalam ekonomi digital.
Soal pergerakan harga, pendiri Strategy tersebut menilai BTC kini mulai kembali memasuki fase bullish. Pandangan itu salah satunya didasarkan pada pergerakan harga terhadap simple moving average jangka panjang.
“Kita kembali memasuki pasar bullish. Biasanya, salah satu indikator yang diperhatikan adalah SMA 200 hari. Sekitar tiga bulan lalu, Bitcoin sempat memantul dari level tersebut dan kini kembali diperdagangkan sedikit di atasnya,” tuturnya.
Michael Saylor Sebut Masa Depan Ada di Kripto dan AI, Ini Alasannya
Meski begitu, ia menilai perjalanan Bitcoin masih menghadapi sejumlah tekanan. Kebijakan perdagangan, ketegangan geopolitik, kondisi moneter yang ketat hingga derasnya aliran modal menuju sektor AI masih menjadi hambatan bagi pasar.
Saylor juga melihat Bitcoin cenderung lebih sensitif ketika pasar memasuki fase risk-off. Saat saham tertekan dan investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, dampak terhadap BTC bisa terasa jauh lebih besar.
Bank Bisa Jadi Mesin Baru Pendorong Bitcoin
Di balik berbagai tekanan tersebut, Saylor justru melihat katalis besar berikutnya bisa datang dari perbankan, terutama ketika bank mulai menyimpan Bitcoin dan membangun kredit dengan BTC sebagai jaminan.
Menurutnya, mekanisme ini membuka sumber permintaan baru yang berbeda dari Bitcoin Spot ETF. Bank tidak hanya membeli Bitcoin, tetapi juga dapat menjadikannya fondasi untuk membentuk jaringan kredit yang lebih luas.
“Setiap US$10 miliar kredit setara dengan suplai Bitcoin selama satu tahun. Jika tercipta US$100 miliar kredit pada kelas aset bernilai US$1 triliun, dampaknya bisa sangat bullish dan mendorong harga lebih tinggi,” ujar Saylor.
Namun, skenario tersebut menurutnya baru berkembang ketika bank melakukan kustodian Bitcoin. Setelah itu, BTC dapat digunakan sebagai jaminan dan menjadi dasar bagi terbentuknya jaringan kredit baru.
Saylor menilai perkembangan ini berpotensi menjadi salah satu katalis bullish bagi Bitcoin dalam 12 hingga 24 bulan ke depan, terutama jika adopsi dari sektor perbankan terus meluas.
Ia juga menyebut adopsi bank terhadap Bitcoin menunjukkan perkembangan. Berdasarkan indikator yang dipantau Strategy, angkanya disebut meningkat dari sekitar 9 persen menjadi 34 persen seiring bertambahnya pengumuman dari institusi keuangan besar.
Tokenisasi dan AI Ikut Tambah Bahan Bakar
Bank bukan satu-satunya katalis yang masuk radar Saylor. Ia menyoroti tokenisasi sekuritas, karena modal digital, kredit digital dan ekuitas digital semakin mudah diperdagangkan serta digunakan sebagai jaminan.
Kondisi tersebut berpotensi membuat Bitcoin terhubung dengan produk keuangan lain. Ketika aset dapat diperdagangkan dan dijaminkan lintas platform, kebutuhan terhadap infrastruktur modal digital ikut berkembang.
Di sisi lain, ledakan AI justru memiliki dua wajah. Saat ini sektor tersebut menyedot modal besar, tetapi Saylor menilai otomatisasi pada akhirnya dapat memperkuat daya tarik aset langka.
Michael Saylor: Kripto Masih Jauh dari Puncak, Bisa Tumbuh Puluhan Kali Lipat
Menurutnya, robot dan AI dapat memproduksi semakin banyak barang, jasa hingga pekerjaan intelektual. Ketika biaya produksi menurun, investor menurutnya akan mencari sesuatu yang tidak dapat diciptakan kembali secara tak terbatas.
“Bitcoin adalah aset langka dan bernilai di dunia maya. Karena itu, robot tidak bisa menciptakan lebih banyak Bitcoin,” ujarnya, menekankan kelangkaan BTC sebagai pembeda utama ketika produksi berbasis kecerdasan buatan semakin masif.
Saylor menggambarkan mesin tersebut sebagai semacam flywheel: kredit digunakan membeli Bitcoin, harga dan cadangan meningkat, risiko kredit turun, lalu kapasitas menerbitkan kredit baru kembali membesar.
Bagi Saylor, kombinasi perbankan, kredit digital, tokenisasi dan kelangkaan Bitcoin inilah yang berpotensi menjadi mesin berikutnya. Jadi, cerita Bitcoin ke depan menurutnya tidak lagi hanya bergantung pada arus dana ETF.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


