Harga Bitcoin berada di bawah tekanan dalam beberapa hari terakhir. Di tengah koreksi, banyak pelaku pasar menyoroti langkah Strategy yang menjual sebagian kepemilikan BTC sebagai pemicu penurunan harga.
Namun, pandangan itu tidak sejalan dengan analisa dari Citigroup. Menurut bank tersebut, penyebab utama pelemahan Bitcoin justru datang dari gelombang dana yang keluar dari Bitcoin Spot ETF di Amerika Serikat, bukan dari aksi jual Strategy yang relatif kecil.
Pasar Terlalu Fokus pada Penjualan BTC Strategy
Diskusi soal penyebab koreksi Bitcoin menguat setelah Strategy mengungkapkan telah menjual 32 BTC senilai US$2,5 juta antara 26 hingga 31 Mei. Langkah ini menarik perhatian karena menjadi penjualan Bitcoin pertama perusahaan dalam empat tahun terakhir.
Selama ini, Strategy dikenal sebagai perusahaan publik dengan akumulasi BTC paling agresif. Tidak mengherankan jika kabar penjualan tersebut memicu spekulasi bahwa perusahaan mulai mengubah pandangan jangka panjangnya terhadap Bitcoin.
Namun, analis Citigroup menilai reaksi pasar terhadap kabar tersebut berlebihan. Dikutip dari laporan Crypto.news pada Kamis (04/06/2026), transaksi dalam jumlah kecil itu tidak cukup kuat untuk mengubah fondasi fundamental Bitcoin.
“Pengumuman penjualan aset digital perusahaan dalam jumlah kecil memiliki dampak yang terlalu besar terhadap BTC menurut pandangan kami, tetapi tidak mengubah kondisi fundamental yang mendasarinya,” tulis analis Citigroup dalam catatan risetnya.
Alih-alih berfokus pada aksi jual Strategy, Citigroup menilai investor justru mengabaikan faktor yang jauh lebih penting, yaitu arus keluar dana dari Bitcoin Spot ETF yang terus berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Dana Triliunan Rupiah Keluar dari Bitcoin Spot ETF
Menurut Citigroup, arus dana ETF merupakan salah satu indikator paling kuat untuk mengukur permintaan terhadap BTC. Bahkan, berdasarkan perhitungan, pergerakan Bitcoin Spot ETF berkontribusi terhadap sekitar 45 persen fluktuasi mingguan imbal hasil Bitcoin.
Data SoSoValue menunjukkan Bitcoin ETF di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih hampir US$4 miliar sejak 15 Mei hingga 2 Juni. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan nilai penjualan Bitcoin yang dilakukan Strategy.
Beberapa hari mencatat tekanan paling besar. Pada 27 Mei saja, investor menarik dana sekitar US$733,4 juta. Kemudian pada 1 Juni tercatat arus keluar sebesar US$483,7 juta, disusul US$519,1 juta pada 2 Juni.

Ketika gelombang penarikan dana itu semakin besar, harga Bitcoin ikut kehilangan momentum dan sempat turun ke US$66.000. Kondisi ini menunjukkan bahwa minat investor institusional mulai melemah setelah menjadi motor utama reli Bitcoin melalui akumulasi ETF.
Dengan kata lain, menurut Citigroup, tekanan terbesar terhadap harga BTC saat ini berasal dari berkurangnya permintaan institusional, bukan karena satu transaksi penjualan yang dilakukan oleh perusahaan yang dipimpin oleh Michael Saylor.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


