Bukan Karena The Fed atau Perang, Ini Penyebab Harga Bitcoin Crash

Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan tajam pada awal Juni 2026 dan memicu berbagai spekulasi mengenai penyebab di balik koreksi tersebut.

Sejumlah pelaku pasar mengaitkan penurunan ini dengan ketegangan geopolitik, kebijakan The Fed, hingga aksi jual sebagian kecil Bitcoin oleh Strategy. Namun, analis on-chain XWIN Japan di CryptoQuant menilai faktor utama di balik pelemahan harga Bitcoin justru berasal dari hilangnya permintaan di pasar.

Dalam analisis terbarunya, XWIN Japan menjelaskan bahwa kondisi saat ini bukan disebabkan oleh lonjakan pasokan atau aksi distribusi besar-besaran dari investor lama. Sebaliknya, pasar sedang menghadapi penurunan minat beli yang membuat tekanan jual lebih mudah mendorong harga Bitcoin ke bawah.

Permintaan Hilang, Modal Keluar dari Pasar

Menurut XWIN Japan, reli besar harga Bitcoin sepanjang 2024 hingga 2025 ditopang oleh arus masuk dana yang kuat ke Bitcoin ETF spot di AS. Dana institusional yang masuk melalui produk ETF tersebut secara konsisten menyerap pasokan dan membantu mendorong harga ke level yang lebih tinggi.

Namun, situasi berubah sepanjang 2026. Arus keluar dana dari ETF mulai meningkat, sementara indikator Coinbase Premium bertahan di wilayah negatif dalam periode yang cukup panjang. Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan dari investor institusional Amerika Serikat mulai melemah.

BACA JUGA:  Pola Langka XRP Kembali Terbentuk, Mirip Tanda Sebelum Reli Besar

bitcoin realized cap

Selain itu, data on-chain juga menunjukkan penurunan Realized Cap Bitcoin dari sekitar US$1,12 triliun menjadi US$1,08 triliun. Metrik tersebut mengukur jumlah modal yang benar-benar masuk ke jaringan Bitcoin. Penurunan tersebut mengindikasikan hampir US$40 miliar modal telah keluar dari pasar.

Di saat yang sama, banyak institusi memilih mengalihkan dana ke pasar saham AS, khususnya perusahaan-perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI). Pertumbuhan laba yang kuat, program pembelian kembali saham, serta pencapaian rekor baru oleh indeks S&P 500 dinilai membuat saham AI lebih menarik dibandingkan aset kripto dalam jangka pendek.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Pasar derivatif kemudian memperbesar tekanan yang sudah terbentuk. Open Interest turun kuat, Funding Rate kembali normal, dan lebih dari US$150 juta posisi long ber-leverage dilikuidasi antara 3 hingga 4 Juni.

Meski demikian, XWIN Japan menilai likuidasi tersebut lebih merupakan dampak dari melemahnya permintaan daripada penyebab utama penurunan harga Bitcoin.

“Masalah saat ini bukan kelebihan pasokan, melainkan permintaan yang tidak cukup,” ungkap XWIN Japan.

Analis tersebut juga menekankan bahwa kondisi saat ini berbeda dengan kejatuhan pasar pada 2022. Pemegang Bitcoin jangka panjang masih mempertahankan aset mereka, sementara saldo Bitcoin di bursa tetap berada di level rendah secara historis.

BACA JUGA:  Kripto Hari Ini 29 Mei 2026: DOGE Siap Meledak, ETH Kasih Sinyal Besar

Menurutnya, arah berikutnya bagi harga Bitcoin akan sangat ditentukan oleh kembalinya permintaan baru ke pasar.

Harga Bitcoin Turun, Namun Sinyal Jangka Panjang Masih Dipantau

Di tengah koreksi yang terjadi, harga BTC tercatat berada di level US$63.614, setara Rp1,14 miliar. Dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin melemah sekitar 1,12 persen, sementara dalam tujuh hari terakhir turun sekitar 13,55 persen.

Meski sentimen pasar sedang tertekan, sejumlah analis melihat kondisi saat ini belum tentu menandakan berakhirnya siklus bullish. Analis teknikal Titan of Crypto menyoroti bahwa sepanjang sejarah, koreksi besar Bitcoin sering kali membentuk dasar harga di sekitar indikator SMA 100 pada grafik dua mingguan.

BTC analisis 5 jun

Menurutnya, penurunan lebih dalam masih mungkin terjadi. Namun, upaya menebak titik puncak dan dasar harga secara presisi sering kali menjadi strategi yang kurang efektif. Fokus utama investor jangka panjang, kata dia, adalah mengenali kapan peluang akumulasi mulai muncul.

Pandangan serupa juga datang dari analis CryptoZ yang menyoroti indikator Spent Output Profit Ratio (SOPR). Berdasarkan data on-chain yang diamatinya, struktur SOPR Bitcoin saat ini mulai mendekati zona kapitulasi yang dalam siklus-siklus sebelumnya kerap muncul menjelang fase kenaikan besar berikutnya.

BACA JUGA:  Cuma 2 Hari, Trader Ini Cetak Profit Rp25 Miliar dari Kripto HYPE

BTC SOPR 5 jun

CryptoZ menilai pemegang jangka panjang belum menunjukkan tanda-tanda distribusi agresif. Selain itu, tingkat realisasi keuntungan investor masih berada jauh di bawah level yang biasanya muncul pada puncak siklus pasar.

Ia melihat pola yang terjadi saat ini memiliki kemiripan dengan fase koreksi pertengahan siklus pada 2013, 2017 dan 2021, bukan pola yang biasanya menandai berakhirnya bull market. Jika pola historis kembali terulang, fase konsolidasi saat ini berpotensi menjadi periode persiapan sebelum ekspansi likuiditas berikutnya terjadi di pasar.

Meski demikian, baik data ETF maupun indikator on-chain masih menjadi faktor utama yang akan menentukan arah harga Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan. Para pelaku pasar kini menantikan apakah permintaan baru mampu kembali masuk dan mengubah tren yang saat ini masih didominasi tekanan jual.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait