Bukan Panic Selling, Ini Biang Kerok Harga Bitcoin Jatuh Mendadak

Harga Bitcoin mengalami koreksi tajam dan sempat tergelincir dari kisaran US$78.000 ke bawah US$77.000 hanya dalam waktu singkat.

Namun, analis on-chain XWIN Japan di CryptoQuant menegaskan bahwa penurunan itu bukan dipicu panic selling di pasar spot, melainkan oleh gelombang likuidasi paksa di pasar derivatif akibat tingginya penggunaan leverage.

Dalam analisis yang dipublikasikan XWIN Japan, lebih dari US$100 juta posisi long tersapu hanya dalam waktu satu jam ketika harga Bitcoin bergerak turun tajam. Menurutnya, pergerakan tersebut merupakan “liquidity event” klasik, yakni kondisi ketika harga terdorong ke area margin kritis sehingga sistem bursa secara otomatis melikuidasi posisi trader.

“Penurunan tajam ini bukan berasal dari ketidakseimbangan permintaan dan penawaran spot, tetapi dari likuidasi paksa posisi leverage yang memicu efek berantai,” ungkap XWIN Japan.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Data pasar menunjukkan harga Bitcoin saat ini diperdagangkan di level US$77.033, sekitar Rp1,32 miliar, turun 1,73 persen dalam 24 jam terakhir. Di saat yang sama, volume spot melonjak 87,91 persen menjadi US$38,54 miliar, menandakan aktivitas perdagangan meningkat justru ketika harga Bitcoin bergerak melemah.

Sementara itu, data derivatif dari CoinGlass memperlihatkan volume perdagangan derivatif Bitcoin melonjak 78,89 persen menjadi US$69,32 miliar, sedangkan volume opsi meroket 167,81 persen menjadi US$3,77 milyar. Rasio long/short akun di pair BTC/USDT pada Binance tercatat di angka 0,919, mengindikasikan posisi short mulai lebih dominan.

BACA JUGA:  Rp5,9 Triliun Kripto Iran Dibekukan AS, Ada Peran Tether?

Struktur Pasar Tipis, Likuidasi Jadi Pemicu Utama

XWIN Japan menjelaskan, struktur pasar akhir pekan menjadi salah satu pemicu utama. Saat partisipasi institusi, market maker dan penyedia likuiditas menurun, order book menjadi tipis dan harga Bitcoin lebih mudah digerakkan oleh order besar.

Dalam kondisi seperti itu, pelaku besar seperti whale, hedge fund dan market maker biasanya sudah memetakan area likuidasi dari data order book serta derivatif. Ketika harga didorong masuk ke area tersebut, posisi trader leverage mulai dipaksa keluar dan menciptakan tekanan jual baru yang memperbesar penurunan.

Bitcoin OI 28 apr

Data XWIN Japan juga menunjukkan open interest Bitcoin di seluruh bursa kini telah kembali naik ke sekitar US$25 miliar seiring pemulihan harga. Kenaikan open interest ini menunjukkan leverage mulai terbangun lagi, sehingga risiko volatilitas berbasis likuidasi tetap tinggi.

BACA JUGA:  Fantastis! Segini Bitcoin yang Bisa Dibeli dari Budget MBG Sehari

Bitcoin likuidasi 28 apr

Bahkan, berdasarkan data pasar derivatif terbaru, lebih dari US$9 miliar posisi long kripto berpotensi terlikuidasi jika harga kripto utama tersebut turun ke area US$70.000. Angka itu memperlihatkan betapa sensitifnya pasar terhadap tekanan turun lanjutan.

Sinyal Bullish Muncul di Tengah Tekanan Harga Bitcoin

Di tengah tekanan jangka pendek, analis teknikal Ali Martinez melihat struktur besar harga Bitcoin masih menunjukkan peluang bullish. Ia mencatat pola Morning Star mulai terbentuk di time frame bulanan, pola yang dalam tiga tahun terakhir selalu menjadi titik balik pergerakan besar Bitcoin.

Bitcoin montly chart

Menurut Ali Martinez, level US$73.000 menjadi area krusial karena merupakan titik terendah dari pola “star.” Selama harga Bitcoin tetap berada di atas area itu, bias struktural dinilai masih mengarah ke atas. Ia juga mencatat adanya net taker volume lebih dari US$1 miliar di Binance yang mendukung pemulihan harga.

Pandangan serupa datang dari analis GainMuse yang menilai Bitcoin saat ini sedang membentuk pola “wedge within a wedge,” sebuah struktur kompresi harga yang biasanya mendahului ekspansi besar. GainMuse menyoroti area support US$76.500 hingga US$77.500 sebagai zona nilai penting yang kini sedang dipertahankan.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Hari Ini Tembus Rp1,21 Miliar, Imbas Gencatan Senjata Iran-AS

BTC analisis 28 apr

Dalam analisisnya, GainMuse menilai harga Bitcoin sedang mengubah area resistance sebelumnya menjadi support baru, yang dalam struktur teknikal sering menjadi sinyal retest sehat sebelum pergerakan lanjutan.

Jika likuiditas di atas harga saat ini berhasil dibersihkan, ruang menuju area resistance utama di US$85.000 dinilai semakin terbuka.

Secara keseluruhan, penurunan harga Bitcoin kali ini menunjukkan bahwa tekanan pasar belum tentu berasal dari aksi jual panik, melainkan bisa dipicu oleh struktur leverage yang rapuh dan likuidasi berantai di pasar derivatif.

Meski volatilitas jangka pendek masih tinggi, sejumlah indikator on-chain dan teknikal menunjukkan fondasi pasar belum sepenuhnya melemah, sehingga arah berikutnya kini sangat bergantung pada kemampuan BTC menjaga area support utama sambil menghadapi tekanan likuiditas yang masih besar.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait