Bukan Sekadar Trading, Ini Tren Kripto Berikutnya yang Wajib Dilirik

Kripto mungkin masih identik dengan BTC, meme coin, dan trading. Namun, perkembangan industrinya perlahan mulai bergerak lebih jauh, seiring blockchain semakin banyak digunakan untuk kebutuhan keuangan nyata.

Perubahan arah tersebut turut disorot Y Combinator. Perusahaan asal Silicon Valley itu melihat stablecoin, tokenisasi, dan AI agent sebagai beberapa tren yang bisa membentuk gelombang besar kripto berikutnya.

Y Combinator Ungkap Arah Baru Tren Kripto

Bagi yang belum familier, Y Combinator atau YC merupakan perusahaan asal Amerika Serikat yang mendanai dan membina startup teknologi sejak tahap awal hingga berkembang menjadi bisnis yang lebih besar.

Nama YC cukup berpengaruh di industri teknologi. Sejumlah perusahaan besar seperti Airbnb, Coinbase, Dropbox, dan Reddit pernah masuk dalam jaringan startup yang mereka dukung sejak fase awal.

Dikutip pada Kamis (29/10/2026), Y Combinator melalui Crypto Request for Startups yang dirilis Oktober 2026 mengungkap sejumlah sektor yang dinilai berpotensi menjadi tren besar kripto berikutnya.

Menurut YC, perubahan terlihat dari siapa yang mendorong adopsi kripto. Sepanjang setahun terakhir, pertumbuhannya dinilai semakin banyak datang dari institusi, bukan lagi terutama pengguna ritel.

“Untuk pertama kalinya, adopsi kripto pada tahun lalu dipimpin oleh institusi, bukan konsumen. Berbeda dari siklus sebelumnya, pertumbuhan ini didorong kebutuhan finansial, bukan sekadar spekulasi,” ungkap Y Combinator.

BACA JUGA:  Kocak! Bot Pump.fun Niat Bantu Memecoin Terbang, Malah Boncos US$3,5 Juta

Kebutuhannya pun semakin beragam, mulai dari lindung nilai komoditas hingga penggunaan blockchain untuk memindahkan dana perusahaan lintas negara dengan proses yang lebih cepat dan efisien.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Pendiri Indodax: Stablecoin Bisa Dorong Ekonomi RI, tapi Aturan Perlu Beradaptasi

Dari perubahan tersebut, YC menyoroti beberapa tren, mulai dari penggunaan stablecoin yang makin luas, tokenisasi aset dunia nyata, hingga AI agent yang mulai mengambil peran dalam aktivitas finansial.

Stablecoin dan Tokenisasi Mulai Bergerak Lebih Jauh

Stablecoin menjadi salah satu sektor yang paling menarik perhatian. Penggunaannya dinilai masih memiliki ruang besar, terutama ketika aset tersebut mulai masuk ke pembayaran dan layanan keuangan.

YC juga melihat peluang munculnya lebih banyak stablecoin berbasis mata uang selain dolar AS. Aset semacam ini berpotensi melayani kebutuhan pengguna yang belum banyak dijangkau sistem keuangan tradisional.

Konsep lain yang disorot adalah neobank berbasis stablecoin. Model tersebut dapat menyasar pekerja global, kontraktor, hingga perusahaan yang rutin melakukan transaksi lintas negara.

Perkembangannya pun mulai terlihat. Sebelumnya, Lloyds dan Visa telah menguji settlement menggunakan USDC untuk transaksi institusional lintas negara, memperlihatkan stablecoin mulai merambah kebutuhan keuangan yang lebih luas.

BACA JUGA:  Stablecoin Masuk Agenda Khusus OJK, Indonesia Sudah Punya Eksperimen Rupiah Digital IDRP

Dari stablecoin, perhatian YC bergerak ke tokenisasi. Blockchain memungkinkan saham, surat utang, komoditas, hingga properti direpresentasikan sebagai token sehingga dapat dipindahkan dan diperdagangkan dengan lebih fleksibel.

“Aset-aset utama akan semakin banyak di tokenisasi, dimulai dari stablecoin dan saham, kemudian meluas hingga kepemilikan rumah, surat utang, dan komoditas,” jelas Y Combinator.

Tren tersebut juga mulai terlihat di Indonesia. OJK sebelumnya telah menguji model tokenisasi emas, surat berharga, kepemilikan properti, hingga stablecoin rupiah melalui regulatory sandbox.

AI Agent Bisa Menjadi Trader Generasi Berikutnya

Setelah stablecoin dan tokenisasi, YC juga menyoroti tren yang terdengar lebih futuristik, yakni AI agent. Teknologi ini diprediksi mulai mengambil peran lebih besar dalam aktivitas keuangan berbasis blockchain.

AI agent merupakan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan yang dapat menjalankan tugas berdasarkan instruksi tertentu, mulai dari membaca pasar hingga mengeksekusi transaksi secara mandiri.

“Agent akan menjadi salah satu pelaku utama di sektor finansial, mengakses token dan berbagai instrumen baru melalui API yang disediakan blockchain,” tulis Y Combinator dalam Crypto Request for Startups.

BACA JUGA:  Blockchainmedia.id Perjelas Batas Penggunaan AI dalam Karya Jurnalistik

Prediksi tersebut mulai terlihat. MetaMask sebelumnya meluncurkan Agent Wallet yang memungkinkan AI melakukan swap, trading perpetual futures, masuk prediction market, hingga menyediakan likuiditas di DeFi.

Perkembangannya bahkan tidak berhenti pada trading. Data Chainalysis mencatat aktivitas x402 di Base telah menembus 138 juta transaksi, memperlihatkan software mulai membayar layanan digital melalui blockchain secara otomatis.

AI Agent Makin Aktif di Blockchain, Chainalysis Catat 138 Juta Transaksi

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa YC juga menyoroti pembangunan API khusus AI agent, agar kecerdasan buatan dapat terhubung dengan blockchain, layanan trading, serta proses on-ramp dan off-ramp fiat.

Jika arah ini terus berkembang, tren kripto berikutnya tampaknya tidak lagi hanya soal harga aset. Stablecoin, tokenisasi, dan AI agent justru bisa menjadi bagian penting dari perubahan cara dunia memandang blockchain dan kripto.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait