Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) resmi memulai rangkaian Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026 dengan menggelar kegiatan edukasi nasional yang berlangsung sepanjang April hingga Mei 2026.
Berdasarkan laporan Republika pada Minggu (19/4/2026), program literasi kripto ini dibuka pada 7 April di Jakarta dan akan dilanjutkan dalam bentuk roadshow ke tiga kota, yakni Solo, Yogyakarta dan Manado, sebagai upaya memperluas pemahaman masyarakat terhadap aset digital dan teknologi blockchain.
Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda tahunan ABI yang kini memasuki tahun keempat penyelenggaraan. Melalui program ini, ABI menargetkan peningkatan literasi kripto di berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum hingga pelaku industri digital.
Sejumlah kegiatan seperti seminar, diskusi publik dan workshop disiapkan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penggunaan dan potensi teknologi blockchain di Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, roadshow ke tiga kota dipilih untuk menjangkau masyarakat di luar pusat ekonomi nasional.
Solo dan Yogyakarta menjadi representasi kawasan pendidikan dan kreatif, sementara Manado dipilih untuk memperluas jangkauan literasi kripto ke wilayah Indonesia timur. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan akses informasi yang merata terkait perkembangan industri kripto.
Dorong Pemahaman Kripto di Tengah Rendahnya Literasi
ABI menilai program literasi kripto ini menjadi krusial di tengah masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat terhadap aset digital.
Secara global, tingkat pemahaman dasar mengenai kripto dilaporkan baru mencapai sekitar 31,8 persen. Kondisi serupa juga terlihat di Indonesia, di mana meskipun literasi keuangan secara umum mengalami peningkatan, pemahaman khusus terkait aset digital masih tertinggal.
Seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna kripto di Indonesia yang telah melampaui 21 juta akun, kebutuhan akan edukasi dinilai semakin mendesak.
Literasi kripto tidak hanya berkaitan dengan pemahaman teknis, tetapi juga mencakup kesadaran dalam penggunaan yang aman dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, ABI memperluas cakupan edukasi melalui berbagai format kegiatan yang interaktif dan mudah diakses.
Selain itu, dalam perkembangan terbaru, penyebaran literasi kripto di Indonesia juga mulai melibatkan peran influencer dan content creator.
Kelompok ini dinilai memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk persepsi publik, terutama di kalangan generasi muda yang menjadikan media sosial sebagai sumber utama informasi. Keterlibatan mereka diharapkan dapat membantu mempercepat penyebaran edukasi secara lebih luas dan efektif.
Perluasan Program dan Perlindungan Konsumen
Pada BLK 2026, ABI juga memperkenalkan sejumlah inisiatif baru untuk memperkuat ekosistem edukasi kripto nasional. Salah satunya adalah peluncuran portal perlindungan konsumen yang memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan laporan terkait aktivitas di dalam ekosistem blockchain dan kripto.
Ketua Umum ABI, Robby Bun, menegaskan bahwa kanal tersebut dirancang untuk menjangkau berbagai aspek di luar sekadar platform perdagangan.
“Kanal ini tidak terbatas pada pengaduan terkait crypto exchange, tetapi juga mencakup berbagai aktivitas lain dalam ekosistem (blockchain dan kripto nasional), termasuk proyek, layanan berbasis blockchain, hingga potensi penyalahgunaan yang merugikan masyarakat,” ujar Robby.
Selain itu, ABI juga memperluas program literasi kripto dengan menghadirkan fokus tambahan pada pengembangan blockchain dan peningkatan pemahaman teknis. Langkah ini menunjukkan bahwa edukasi yang dilakukan tidak lagi terbatas pada pengenalan dasar, melainkan mulai mengarah pada penguatan kapasitas ekosistem secara menyeluruh.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


