Analis on-chain CoinNiel di CryptoQuant pada Selasa (27/1/2026) menilai bahwa siklus bull market Bitcoin belum berakhir, meskipun harga sempat mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.
Analis itu menyebut data stablecoin di bursa menunjukkan masih besarnya likuiditas yang belum masuk ke pasar, menjadi sorotan di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah pergerakan Bitcoin.
CoinNiel menyoroti indikator Exchange Stablecoins Ratio, yang membandingkan nilai aset kripto dengan cadangan stablecoin di bursa. Saat ini, rasio tersebut berada di level terendah dalam siklus halving keempat Bitcoin.

Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak dana dalam bentuk stablecoin masih tertahan dan belum digunakan untuk membeli aset kripto.
“Data on-chain saat ini menunjukkan bahwa ini bukan akhir siklus, melainkan fase bull market dengan likuiditas besar yang masih menunggu masuk,” ungkap CoinNiel.
Temuan tersebut muncul di tengah perdebatan pasar mengenai apakah bull market Bitcoin telah selesai atau masih berlanjut.
Sinyal Likuiditas dari Data Stablecoin
Dalam analisisnya, CoinNiel menjelaskan bahwa Exchange Stablecoins Ratio berbasis nilai dolar berada di titik terendah sepanjang siklus saat ini. Rasio ini menurun ketika harga kripto melemah, sementara dana stablecoin tetap berada di bursa.

Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan bahwa Bitcoin sedang berada dalam fase undervalued.
Selain itu, rasio berbasis jumlah token juga menunjukkan posisi ekstrem di level terendah historis. Indikator ini mengukur perbandingan antara jumlah koin kripto dan stablecoin yang tersedia di bursa. Hasilnya menunjukkan adanya akumulasi stablecoin dalam skala besar.
CoinNiel menilai, fenomena ini serupa dengan fase-fase sebelumnya, ketika pasar sempat mengira bull market Bitcoin telah berakhir lebih awal. Namun, setelah itu, likuiditas yang tertahan kembali masuk dan mendorong harga naik. Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa struktur pasar saat ini masih mendukung kelanjutan bull market Bitcoin.
Akumulasi Institusi Perkuat Keyakinan Pasar
Di luar data on-chain, aktivitas investor institusional juga menjadi indikator penting. Perusahaan Strategy, yang dikenal sebagai salah satu pemegang Bitcoin terbesar di dunia, baru-baru ini mengumumkan pembelian 2.932 BTC senilai sekitar US$264 juta dengan harga rata-rata US$90.100 per Bitcoin.
Hingga Minggu (25/1/2026), Strategy tercatat menguasai total 712.647 BTC. Aset tersebut diperoleh melalui investasi kumulatif sekitar US$541,9 miliar, dengan biaya rata-rata US$76.000 per koin.
Langkah ini menunjukkan bahwa institusi besar masih memiliki kepercayaan terhadap prospek jangka panjang bull market Bitcoin, meskipun volatilitas jangka pendek masih terjadi.
Analis menilai, pembelian dalam jumlah besar oleh institusi dapat menjadi penopang psikologis pasar, sekaligus memperkuat narasi bahwa fase bull market Bitcoin belum sepenuhnya berakhir.
Tekanan Teknikal Masih Membayangi Harga
Meski demikian, dari sisi teknikal, tekanan terhadap Bitcoin masih terlihat. Analis pasar GainMuse pada Senin (26/1/2026) melihat bahwa momentum penguatan mulai melemah setelah beberapa kali gagal menembus level resistance utama.

Dalam catatannya, GainMuse menyatakan bahwa Bitcoin saat ini bergerak di bawah garis tren menurun (downtrend) dan mengalami penolakan di area atas. Konsolidasi harga terakhir cenderung berakhir dengan penurunan, yang mengindikasikan melemahnya kendali pembeli di dekat area resistance.
“Selama harga masih tertahan di bawah garis tren, struktur pasar masih mendukung kelanjutan pergerakan menuju zona support yang lebih rendah,” tulis GainMuse.
Ia juga menilai bahwa penjual masih memegang kendali, sementara target penurunan, di bawah level US$82.000, tetap menjadi perhatian utama.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



