Bitcoin perlahan bangkit setelah terkoreksi cukup dalam. Namun, bagi Michael Saylor, pemulihan yang terlihat sekarang bukan sekadar rebound, melainkan awal dari fase bullish yang lebih besar.
Pendiri Strategy itu bahkan melihat peluang Bitcoin kembali menembus level enam digit dalam 12 bulan ke depan. Optimismenya tidak hanya datang dari pergerakan harga, tetapi juga perubahan besar di sektor keuangan.
Saylor Sebut Bull Run Bitcoin Baru Dimulai
Dalam wawancara yang diunggah kanal YouTube Schwab Network pada Selasa (20/10/2026), Saylor menilai Bitcoin telah melewati area yang biasanya menjadi penanda berakhirnya tekanan pasar bearish.
Ia menyoroti 200-week moving average, level yang kerap menjadi garis dasar dalam siklus Bitcoin. BTC sempat turun sedikit di bawah area tersebut sebelum akhirnya kembali memantul cukup kuat.
Sejak pantulan tersebut, harga Bitcoin disebut sudah bergerak sekitar US$20.000 lebih tinggi. Pergerakan ini membuat Saylor melihat struktur pasar berubah dari fase pemulihan menuju tren bullish baru.
“Bitcoin memantul dari 200-week moving average. Biasanya itu menjadi garis dasar, dan ketika harga turun sedikit di bawahnya, kondisi tersebut sering menandai akhir pasar bearish,” ujar Saylor.
Michael Saylor: Kripto Masih Jauh dari Puncak, Bisa Tumbuh Puluhan Kali Lipat
Pandangan itu memperkuat optimisme yang sebelumnya sudah ia sampaikan. Saylor melihat BTC kembali memasuki fase bullish setelah tekanan dari kebijakan moneter, geopolitik, perdagangan, dan derasnya arus modal ke sektor AI mereda.
Kredit Bank dan Tokenisasi Mulai Jadi Katalis Reli BTC
Menurut Saylor, pemulihan Bitcoin kali ini tidak datang sendirian. Sejumlah tekanan yang membebani pasar mulai mereda, sementara katalis baru perlahan muncul dan membuka permintaan tambahan.
Salah satu yang paling ia soroti adalah digital credit. Perusahaan seperti Strive disebut berhasil menghimpun lebih dari US$1 miliar, menandakan minat terhadap kredit digital mulai tumbuh.
Perbankan juga mulai masuk lebih jauh ke ekosistem Bitcoin. Sejumlah bank kini tidak hanya melakukan kustodian BTC, tetapi juga mulai membangun produk kredit dengan Bitcoin sebagai pondasinya.
“Banyak bank mulai melakukan kustodian Bitcoin dan juga secara bersamaan menciptakan kredit di atasnya. Itu menjadi salah satu pendorong baru yang mulai masuk sekarang,” ujar Saylor.
Menurutnya, perkembangan ini menjadi penting karena suplai baru Bitcoin terbatas. Jika kredit digital dan kredit berbasis BTC tumbuh, permintaan tambahan berpotensi menyerap porsi besar pasokan yang masuk ke pasar.
Tokenisasi turut memperkuat skenarionya. Saylor melihat semakin banyak sekuritas bergerak menuju perdagangan digital 24 jam, sementara aset terkait kripto dinilai paling siap mengikuti pola pasar yang terus aktif.
Bagi Saylor, kombinasi kredit digital, perbankan, tokenisasi, dan regulasi yang lebih terbuka mulai membentuk fondasi baru. Artinya, arah tren Bitcoin berikutnya tidak lagi hanya bergantung pada arus dana ETF.
US$100.000 dalam 12 Bulan, tetapi Makro Masih Jadi Penentu
Meski optimistis, Saylor tidak menutup mata terhadap risiko. Ia menyebut kebijakan moneter sebagai semacam “final boss” yang memiliki pengaruh terhadap harga Bitcoin maupun aset berisiko lainnya.
Menurutnya, kebijakan moneter yang ketat akan menjadi hambatan. Sebaliknya, jika kondisi dilonggarkan, arus modal dapat kembali masuk ke aset berisiko, dengan Bitcoin berpotensi merespons lebih agresif.
Faktor suplai juga masuk perhitungannya. Saylor memperkirakan sekitar US$1 miliar BTC baru tersedia untuk dijual oleh miner setiap bulan, sehingga permintaan institusional dalam skala serupa dapat memberi dampak cukup besar.
Di sisi lain, Saylor juga menekankan kelangkaan Bitcoin sebagai daya tarik jangka panjang, terutama ketika teknologi AI mampu menciptakan barang, jasa, dan produktivitas dalam skala besar.
“Robot tidak bisa menciptakan lebih banyak Bitcoin. Bahkan jika setiap manusia menjadi sejuta kali lebih pintar daripada Einstein, mereka tetap tidak bisa membuat Bitcoin lebih banyak,” tuturnya.
Michael Saylor Sebut Masa Depan Ada di Kripto dan AI, Ini Alasannya
Pada akhirnya, Saylor memperkirakan Bitcoin bisa kembali menembus US$100.000 dalam 12 bulan. Ia belum yakin level tersebut tercapai sebelum akhir tahun, tetapi melihat arah menuju angka tersebut semakin terbuka.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


