Bursa Kripto Tertua di Tiongkok Gulung Tikar?

BTCChina, bursa kripto tertua di Tiongkok, mengumumkan telah keluar dari bisnis Bitcoin di tengah pelarangan ketat pemerintah terhadap penambangan Bitcoin yang mengakibatkan banyak usaha di negara tersebut menjauh dari sektor kripto, berdasarkan laporan dari South China Morning Post.

BTCChina didirikan pada tahun 2011 oleh Huang Xiaoyu dan Yang Linke yang membantu mendukung Bitcoin ke investor Tiongkok ketika konsep aset kripto masih asing di negara itu.

Perusahaan tersebut mengklaim pernah menguasai 80 persen perdagangan kripto di dunia tetapi kemudian terlilit di beragam kebijakan pelarangan kripto di Tiongkok.

Pada tahun 2017, BTCChina berkata akan menghentikan perdagangan kripto sesuai aturan pemerintah saat itu.

Di pengumuman terbaru, BTCChina, Kamis (24/6/2021) menyebut sudah keluar dari bisnis Bitcoin sebagai tanggapan terhadap kebijakan pemerintah.

Pelarangan terbaru terhadap kripto telah berakibat banyak usaha penambangan Bitcoin di negara itu gulung tikar.

Beijing melihat kripto sebagai ancaman bagi kestabilan keuangan sebab bisa digunakan rakyat untuk mengakali kendali pemerintah atas pergerakan modal.

Petambang Bitcoin Tiongkok “Minggat” ke Kazakhstan

Selain itu, volatilitas harga turut menjadi kekhawatiran.

Pelarangan terbaru menyusul peningkatan harga Bitcoin lebih dari tujuh kali lipat dalam kurun waktu setahun kemudian turun 40 persen lebih dalam sebulan.

Pemerintah lokal di beragam wilayah di Tiongkok, termasuk pusat penambangan Xinjiang, Mongolia Dalam dan Sichuan, telah memerintahkan penambang untuk menutup operasi.

Pelarangan sebelumnya 2021 ini telah mengakibatkan banyak bursa kripto minggat ke luar negeri atau pindah ke Hong Kong.

Huobi, Binance dan OKCoin termasuk bursa besar yang memiliki pendiri warga Tiongkok tetapi didesak ke luar negeri, dilansir dari media lokal ternama, South China Morning Post.

Sah! Tambang Bitcoin di Xinjiang Dilarang

BTCChina memutuskan untuk menjual usaha bursa kriptonya yang dibeli oleh dana investasi asal Hong Kong pada Januari 2018.

Bursa tersebut terus beroperasi secara normal dengan nama BTCC tetapi tidak dapat diakses oleh pengguna dari Tiongkok.

Hal tersebut menarik dugaan Yang tetap mengendalikan BTCC, tetapi pernyataan itu dibantah oleh perusahaan.

BTCChina mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada hubungan antara BTCChina dengan BTCC.

BTCC menambahkan, Yang bukan merupakan pegawai atau investor BTCC di Hong Kong.

Pada Selasa, BTCC meyakinkan investor pihaknya tidak terpengaruh oleh pelarangan kripto di Tiongkok.

BTCC kebal dari aturan tersebut dan menambahkan semua transaksi masuk dan keluar tetap berjalan normal, sebab BTCC tidak menyediakan perdagangan aset kripto melainkan perdagangan derivatif.

BTCChina kini fokus ke peluang usaha blockchain di luar perdagangan aset kripto. Pemerintah Tiongkok mendukung penerapan blockchain demi membangun sistem industri blockchain maju. [scmp.com/ed]

Terkini

Warta Korporat

Terkait