Buyback token adalah strategi di mana proyek kripto membeli kembali token mereka sendiri dari pasar untuk mengurangi suplai dan menjaga nilai aset dalam jangka panjang. Yuk, pahami lebih lanjut lewat penjelasan berikut ini!
BACA JUGA:Â Apa Itu Tornado Cash? Ini Cara Kerja dan Kontroversinya!
Apa Itu Buyback Token?
Buyback token adalah mekanisme ketika sebuah proyek kripto menggunakan sebagian pendapatannya untuk membeli kembali token mereka sendiri dari pasar.
Dalam praktiknya, token yang dibeli lewat buyback biasanya akan dibakar (burn) atau disimpan, sehingga jumlah token yang beredar di pasar menjadi lebih sedikit. Tujuan utamanya adalah menciptakan efek deflasi, di mana suplai berkurang dan nilai token yang tersisa secara teori bisa meningkat jika permintaan tetap ada.
Konsep ini mirip dengan stock buyback di pasar saham, hanya saja di dunia kripto sering dikombinasikan dengan burn agar penurunan suplai terjadi otomatis.
Cara Kerja Buyback Kripto
Cara kerja buyback kripto biasanya dimulai dari pengumuman resmi tim proyek yang menjelaskan sumber dana buyback, jadwal pelaksanaan, serta metode pembelian token.
Ada proyek yang membeli token langsung di pasar secara bertahap, ada juga yang menggunakan smart contract agar buyback berjalan otomatis berdasarkan aturan yang sudah ditentukan sebelumnya.
Setelah token berhasil dibeli, langkah berikutnya adalah burn atau penguncian token tersebut. Ketika suplai di pasar berkurang, tekanan jual bisa menurun dan harga token berpotensi lebih stabil.
Karena itu, buyback token sering dijadikan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga nilai token sekaligus membangun kepercayaan komunitas.
Manfaat Buyback Token
Buyback token memberi manfaat sekaligus dampak langsung ke harga dan sentimen pasar. Saat proyek membeli dan mengurangi jumlah token yang beredar, suplai menjadi lebih sedikit. Jika permintaan tetap atau meningkat, kondisi ini bisa mendorong harga token naik secara alami.
Selain itu, buyback sering membantu meredam volatilitas ekstrem karena sebagian token di pasar terserap. Bagi investor, aksi ini juga menjadi sinyal bahwa tim proyek percaya pada nilai tokennya dan punya pendapatan nyata untuk mendukung ekosistem.
Dari sisi dampak psikologis, pengumuman buyback token biasanya disambut positif oleh pasar dan komunitas. Minat beli bisa meningkat karena investor melihat buyback sebagai komitmen jangka panjang, bukan sekadar janji.
Namun efek ini akan bertahan jika buyback didukung fundamental yang kuat, seperti penggunaan produk dan pendapatan berkelanjutan. Tanpa itu, buyback hanya memberi dorongan sementara dan harga bisa kembali turun setelah sentimen mereda.
BACA JUGA:Â Memahami Apa Itu Bitcoin Hashrate dalam Penambangan Kripto
Risiko dan Kelemahan Buyback Token
Meski terdengar menarik, buyback token bukan tanpa risiko. Efek penurunan suplai tidak akan berarti banyak jika proyek tidak memiliki permintaan nyata atau utilitas yang jelas.
Tanpa fundamental yang kuat, kenaikan harga akibat buyback sering kali hanya bersifat sementara.
Masalah lain adalah transparansi. Buyback yang tidak dikomunikasikan dengan jelas bisa memicu kecurigaan manipulasi harga. Investor juga perlu memperhatikan sumber dana buyback.
Jika buyback hanya mengandalkan treasury sekali pakai dan bukan pendapatan berulang, program ini sulit berkelanjutan.
Selain itu, buyback tidak menciptakan nilai intrinsik baru. Mengurangi suplai memang bisa menaikkan harga, tetapi tidak otomatis meningkatkan kualitas produk, adopsi pengguna, atau inovasi teknologi.
Pada akhirnya, nilai token tetap bergantung pada perkembangan proyek secara keseluruhan.
Contoh Proyek Kripto yang Melakukan Buyback Token
Contoh proyek kripto yang melakukan buyback token berasal dari berbagai sektor, mulai dari exchange, DeFi, hingga memecoin, dengan tujuan menjaga suplai dan kepercayaan pasar.
Supaya lebih kebayang bagaimana praktik buyback token di dunia nyata, berikut beberapa proyek kripto yang dikenal aktif menjalankannya.
BACA JUGA:Â 10 Tempat Trading Crypto Tanpa KTP dan Modal Kecil Terbaru!
1. BNB (Binance Coin)

Binance secara rutin melakukan buyback dan burn BNB menggunakan sebagian keuntungan trading. Target jangka panjangnya adalah memangkas total suplai BNB hingga setengah dari jumlah awal, sehingga token menjadi semakin langka dan nilainya lebih terjaga.
2. MakerDAO (MKR)
MakerDAO menggunakan pendapatan dari biaya stabilitas DAI untuk membeli dan membakar token MKR. Proses ini berjalan otomatis lewat smart contract dan fokus utamanya menjaga keseimbangan sistem, bukan sekadar menaikkan harga token.
3. Hyperliquid (HYPE)

Hyperliquid dikenal dengan mekanisme buyback otomatis yang agresif. Pendapatan besar dari aktivitas trading digunakan untuk membeli dan membakar token HYPE, sehingga suplai beredar berkurang secara konsisten.
4. Raydium (RAY)

Sebagai protokol AMM di Solana, Raydium menjalankan buyback token RAY secara terjadwal dari fee protokol. Pendekatan ini membantu membentuk harga dasar token tanpa memicu lonjakan harga yang terlalu ekstrem.
5. Pump.fun (PUMP)

Pump.fun sempat menarik perhatian karena buyback besar-besaran dari hampir seluruh fee platform. Aksi ini memang sempat mendorong harga naik cepat, tetapi efeknya tidak selalu bertahan lama karena sangat dipengaruhi sentimen pasar.
Selain nama-nama di atas, beberapa proyek lain seperti Aave, Jupiter, dan Arbitrum juga mulai mengalokasikan sebagian pendapatan untuk buyback token. Namun, dampak buyback di tiap proyek tetap bergantung pada fundamental dan keberlanjutan ekosistemnya.
Apakah Buyback Token Selalu Menguntungkan?
Buyback token pada dasarnya adalah strategi untuk mengelola suplai dan menjaga kepercayaan pasar dengan cara membeli kembali dan mengurangi jumlah token yang beredar.
Jika dilakukan secara transparan dan didukung pendapatan berkelanjutan, buyback bisa memberi dampak positif pada harga, stabilitas, dan sentimen investor.
Namun, buyback bukan jaminan kenaikan nilai jangka panjang karena fundamental proyek, adopsi pengguna, dan utilitas token tetap menjadi faktor utama. Karena itu, penting bagi kamu untuk melihat buyback token sebagai salah satu sinyal dalam menilai proyek kripto, bukan satu-satunya penentu.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



