Canton Network adalah blockchain Layer 1 yang dibangun khusus untuk institusi keuangan besar. Blockchain ini menawarkan privasi transaksi dan tokenisasi aset dunia nyata. Namun angka revenue fantastisnya belakangan ini menuai kontroversi besar di komunitas kripto. Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!
BACA JUGA: Mengenal William Sutanto, Bos Indodax Lulusan Stanford!
Apa Itu Canton Network?
Kalau kamu sering mengikuti perkembangan dunia kripto, nama Canton Network belakangan ini semakin sering terdengar, terutama setelah angka revenue-nya muncul di DeFiLlama dan mengalahkan Hyperliquid dalam 30 hari terakhir. Tapi sebelum kita masuk ke kontroversi itu, yuk kenali dulu apa sebenarnya Canton ini.

Canton Network adalah blockchain Layer 1 yang dirancang secara khusus untuk kebutuhan institusi keuangan tradisional (TradFi). Berbeda dari blockchain publik seperti Ethereum yang transparan sepenuhnya, Canton memperkenalkan konsep “privacy-enabled open blockchain”, yaitu jaringan yang terbuka, namun dengan kontrol privasi yang bisa dikonfigurasi sesuai kebutuhan regulasi.
Canton adalah jaringan blockchain terbuka pertama yang mengaktifkan privasi, memastikan koneksi tanpa batas sambil tetap menjaga kerahasiaan data. Ditenagai oleh teknologi smart contract unik, peserta jaringan dapat bertukar data dan nilai secara percaya diri untuk membuka potensi pasar keuangan yang tersinkronisasi.
Sederhananya, Canton ingin menjadi “AWS-nya perbankan”, infrastruktur digital tempat bank-bank besar bisa menjalankan operasional mereka di atas teknologi blockchain, tanpa harus mengorbankan kepatuhan regulasi dan privasi transaksi.
Masalah Apa yang Coba Diselesaikan Canton?
Selama bertahun-tahun, blockchain publik seperti Ethereum gagal diadopsi secara masif oleh institusi keuangan besar. Bukan karena teknologinya buruk, melainkan karena ada tiga hambatan utama yang tidak bisa dikompromikan:
- Privasi Transaksi Bank dan lembaga keuangan diatur oleh regulasi ketat. Mereka tidak bisa mengekspos data transaksi nasabah secara publik. Ethereum yang transparan sepenuhnya jelas bukan pilihan.
- Kontrol dan Kepatuhan Institusi membutuhkan kemampuan untuk mengatur siapa yang bisa melihat data apa. Pendekatan blockchain publik yang radikal tidak sesuai dengan kerangka hukum yang berlaku.
- Skalabilitas yang Terkontrol Volume transaksi institusional sangat besar. Sistem harus mampu menangani jutaan transaksi per hari tanpa hambatan.
Canton Network muncul untuk mengatasi ketegangan antara idealisme blockchain dan realita institusional. Tidak seperti blockchain sebelumnya yang bergantung pada model absolut, Canton memperkenalkan fleksibilitas yang memungkinkan institusi memilih bagaimana informasi dan kontrol dikelola.
Cara Kerja Canton Network
Canton bekerja melalui berbagai mekanisme, mulai dari bahasa smart contract yang berbeda dengan kebanyakan blockchain, layanan desentralisasi baru, model privasi selektif, dan tokenomics yang unik. Berikut adalah rinciannya:
BACA JUGA: Apa itu Meteora Solana? Ini Cara Kerja dan Tutorial Menggunakannya!
1. Smart Contract Daml
Salah satu inovasi teknis terbesar Canton adalah penggunaan bahasa smart contract bernama Daml. Berbeda dari Solidity (yang digunakan Ethereum), Daml dirancang dengan pendekatan “hak dan kewajiban” (rights-and-obligations framework), yang lebih sesuai dengan cara kerja kontrak hukum dan regulasi keuangan.
2. Global Synchronizer

Di jantung Canton terdapat komponen bernama Global Synchronizer, sebuah layanan terdesentralisasi yang memungkinkan transaksi atomik lintas aplikasi yang berbeda, sambil tetap menjaga kerahasiaan data. Sistem ini ditenagai oleh token utilitas native Canton Network, yaitu Canton Coin (CC).
3. Model Privasi Selektif
Canton menggunakan pendekatan yang disebut selective transparency atau privasi selektif. Artinya, data transaksi hanya terlihat oleh pihak-pihak yang terlibat langsung, bukan publik umum. Ini sangat berbeda dari blockchain seperti Ethereum di mana semua transaksi bisa dilihat siapa pun.
4. Tokenomics
Tokenomics Canton menggunakan Canton Coin (CC) dengan mekanisme Burn-Mint Equilibrium (BME), yaitu sistem yang menjaga keseimbangan antara jumlah token yang dibakar dan yang dicetak.
Setiap kali ada transaksi di jaringan, biaya dibayar dalam CC dan seluruhnya langsung dibakar. Di sisi lain, token baru akan dicetak secara berkala setiap 10 menit, menyesuaikan dengan tingkat aktivitas jaringan.
Targetnya, sekitar 2,5 miliar CC akan dicetak dan dibakar setiap tahun, sehingga suplai tetap bergerak dinamis mengikuti penggunaan nyata. Artinya, nilai CC tidak bergantung pada kelangkaan buatan, tetapi lebih pada seberapa besar jaringan digunakan.
Dengan pendekatan ini, suplai dijaga tetap stabil dan adaptif, sehingga bisa mendukung pertumbuhan jangka panjang, terutama jika semakin banyak aktivitas keuangan global berpindah ke jaringan Canton.
BACA JUGA: Apa Itu Pharos Network? Layer 1 RWA yang Didukung Chainlink!
Siapa Saja yang Sudah Bergabung?
Yang membuat Canton Network menonjol adalah siapa saja yang sudah terlibat di dalamnya. Bukan sekadar proyek kripto, tapi didukung institusi besar seperti Goldman Sachs yang mengembangkan platform tokenisasi aset, JPMorgan Chase untuk integrasi pembayaran, serta DTCC sebagai lembaga kliring terbesar di AS.
Ada juga Broadridge yang sudah memproses transaksi repo hingga triliunan dolar per bulan lewat jaringan ini, ditambah bursa besar seperti Nasdaq, Deutsche Börse, dan Cboe Global Markets.
Dari sisi stablecoin dan pembayaran, Circle mengintegrasikan USDC untuk settlement, sementara Visa menghubungkan aliran stablecoin ke pasar modal.
Pada Agustus 2025, sejumlah institusi besar termasuk Bank of America, Citadel Securities, dan Société Générale berhasil menjalankan transaksi pendanaan on-chain pertama di akhir pekan menggunakan US Treasury dan USDC, membuka jalan untuk pasar modal yang berjalan 24/7.
Perkembangannya terus berlanjut. DTCC kini bekerja sama dengan Canton untuk menokenisasi US Treasury Securities, dengan target implementasi mulai paruh kedua 2026.
Saat ini saja, jaringan Canton sudah mendukung lebih dari US$6 triliun aset yang di-tokenisasi dan memfasilitasi perdagangan repo US Treasury lebih dari US$280 miliar per hari, menunjukkan bahwa adopsinya sudah masuk level institusional yang sangat serius.
Kontroversi Revenue Canton Network yang Mencapai US$65 Juta
Kontroversi revenue Canton Network bermula dari data yang menunjukkan pendapatan 30 hari mencapai sekitar US$65 juta, bahkan melampaui Hyperliquid. Angka ini langsung menarik perhatian, tapi jadi membingungkan ketika dilihat bersama metrik earnings. Dalam periode yang sama, earnings Canton justru negatif sekitar -US$29 juta, yang berarti secara keseluruhan mereka masih merugi.

Perbedaan ini terjadi karena struktur insentifnya. Canton memberikan reward dalam bentuk token CC dalam jumlah besar kepada developer yang membangun di atas jaringannya.
Insentif ini mendorong aktivitas tinggi karena semakin banyak aplikasi dan transaksi yang terjadi. Setiap transaksi menghasilkan biaya yang dibakar, sehingga revenue terlihat naik. Namun, nilai insentif yang dibagikan jauh lebih besar daripada pendapatan yang masuk, sehingga secara bersih justru menghasilkan kerugian.
Jika dilihat lebih dalam, total insentif tahunan yang disetarakan bisa mencapai lebih dari US$1 miliar, jauh di atas revenue bulanan yang hanya puluhan juta dolar. Inilah yang membuat sebagian analis menilai bahwa angka revenue tersebut “terdorong” oleh aktivitas yang dipicu insentif, bukan sepenuhnya organik.
Meski begitu, bukan berarti revenue Canton sepenuhnya tidak valid. Setiap transaksi di jaringan, termasuk aktivitas institusional seperti penerbitan aset, transfer, dan settlement memang menghasilkan biaya nyata yang dibayar dan dibakar dalam CC.
Apalagi dengan adanya pemain besar seperti Broadridge yang memproses transaksi repo dalam skala triliunan dolar, wajar jika satu aktivitas saja bisa menghasilkan revenue besar.
Apakah Canton Network Peluang Besar atau Perlu Diwaspadai?
Canton Network memang beda dari kebanyakan proyek kripto karena fokusnya ke infrastruktur keuangan institusional, bukan sekadar DeFi atau meme coin.
Angka-angka yang muncul juga perlu dibaca dengan konteks, revenue besar bisa terdorong insentif, sementara bisnisnya masih merugi meski didukung aset tertokenisasi dalam skala besar dan mitra kelas dunia.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


