Di era blockchain yang terus berkembang, peluang keuntungan memang besar, tapi ancaman keamanan juga nyata. Hacker tidak hanya menargetkan exchange besar, tetapi juga investor individu yang kurang waspada. Karena itu, memahami cara menjaga aset kripto bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Artikel ini akan memandu kamu langkah demi langkah, mulai dari keamanan dasar hingga strategi lanjutan untuk benar-benar mengamankan portofolio kripto kamu.
BACA JUGA: Cara Beli Bitcoin di Indonesia 2026: Panduan Step-by-Step untuk Pemula
Cara Menjaga Aset Kripto
Cara menjaga aset kripto yang paling efektif adalah dengan menggabungkan kebiasaan keamanan dasar, pengaturan teknis yang tepat, dan strategi penyimpanan yang cerdas agar risiko peretasan bisa ditekan semaksimal mungkin.
Terdapat beberapa level dalam menjaga aset kripto, mulai dari level dasar di mana kamu perlu melakukannya sejak awal, level lanjutan yang bisa kamu terapkan ketika memiliki nilai aset cukup besar, dan level keamanan advance yang cocok jika kamu punya aset besar dan ingin berinvestasi dalam jangka panjang. Berikut ini adalah panduan lengkapnya!
BACA JUGA: 10 Tips Investasi Bitcoin untuk Pemula yang Harus Kamu Tahu!
1. Aktifkan Two-Factor Authentication (2FA)
Mengaktifkan 2FA adalah langkah paling dasar dalam cara menjaga aset kripto karena ini menambahkan satu lapisan keamanan ekstra di luar password. Jadi, meskipun seseorang berhasil mengetahui password kamu, mereka tetap tidak bisa login tanpa kode verifikasi tambahan dari aplikasi autentikasi.
Gunakan aplikasi seperti Google Authenticator atau Authy, bukan SMS 2FA karena metode SMS rentan terhadap serangan SIM swap. Jangan lupa simpan backup secret key 2FA di tempat aman secara offline agar kamu tetap bisa mengakses akun jika perangkat utama hilang atau rusak.
2. Gunakan Password yang Kuat dan Unik
Password yang kuat minimal terdiri dari 12 karakter dengan kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol. Hindari menggunakan tanggal lahir, nama, atau pola yang mudah ditebak karena hacker sering memakai teknik brute force dan database bocor untuk menebak password.
Pastikan setiap akun kripto menggunakan password yang berbeda. Kalau satu akun bocor dan semua password kamu sama, maka seluruh aset berisiko. Untuk memudahkan, kamu bisa memakai password manager agar tetap praktis tanpa mengorbankan keamanan.
3. Jangan Pernah Membagikan Credentials
Dalam cara menjaga aset kripto, aturan paling keras adalah jangan pernah membagikan password, OTP, atau seed phrase kepada siapa pun. Bahkan jika seseorang mengaku sebagai customer service atau tim teknis dari exchange, layanan resmi tidak akan pernah meminta informasi sensitif tersebut.
Banyak kasus peretasan terjadi karena social engineering, yaitu manipulasi psikologis agar korban menyerahkan aksesnya sendiri. Selalu curiga pada pesan mendesak yang meminta data pribadi, apalagi jika disertai ancaman atau iming-iming hadiah.
BACA JUGA: 9 Jenis Scam Crypto Paling Umum dan Cara Menghindarinya!
4. Verifikasi Withdrawal Address
Salah satu risiko yang jarang disadari adalah malware yang dapat mengubah alamat wallet di clipboard saat kamu melakukan copy-paste. Jika tidak dicek ulang, aset kamu bisa terkirim ke alamat milik hacker tanpa kamu sadari.
Karena itu, selalu periksa beberapa karakter awal dan akhir address sebelum menekan tombol kirim. Untuk transaksi bernilai besar, kirim dulu dalam jumlah kecil sebagai uji coba agar lebih aman.
5. Logout Setelah Selesai
Membiarkan akun tetap login, terutama di perangkat umum atau yang dipakai bersama, bisa membuka celah keamanan. Jika perangkat tersebut diakses orang lain, mereka bisa masuk ke akun kamu tanpa perlu memasukkan ulang password.
Biasakan untuk logout setelah selesai bertransaksi, terutama di laptop kantor atau komputer bersama. Kebiasaan kecil ini terlihat sepele, tetapi sangat berpengaruh dalam cara menjaga aset kripto dari akses tidak sah.
BACA JUGA: 7 Cara Menyimpan Bitcoin dengan Aman untuk Pemula yang Harus Kamu Tahu!
6. Gunakan E-mail Khusus untuk Crypto
Salah satu cara menjaga aset kripto yang sering diabaikan adalah memisahkan email pribadi dengan email untuk crypto. Buat satu email khusus yang hanya digunakan untuk login ke exchange dan wallet, jangan dipakai untuk media sosial, newsletter, atau pendaftaran situs acak.
Tujuannya sederhana, kalau e-mail utama kamu bocor, akun kripto tetap aman. Jangan lupa aktifkan 2FA juga di e-mail tersebut, karena email adalah pintu utama untuk reset password.
7. Aktifkan Withdrawal whitelist
Fitur withdrawal whitelist memungkinkan kamu hanya menarik dana ke alamat wallet yang sudah didaftarkan sebelumnya. Jadi, meskipun hacker berhasil masuk ke akun, mereka tidak bisa langsung mengirim dana ke alamat baru.
Biasanya penambahan alamat baru membutuhkan waktu 24–48 jam untuk aktif. Waktu tunggu ini justru menjadi perlindungan ekstra karena memberi kamu kesempatan mendeteksi aktivitas mencurigakan.
8. Atur Batas Penarikan (Withdrawal Limit)
Mengatur batas maksimal penarikan harian adalah strategi sederhana tapi efektif dalam cara mengamankan aset kripto. Jika akun diretas, kerugian yang bisa ditarik dalam satu hari menjadi terbatas.
Anggap saja ini seperti pembatas transaksi di kartu debit. Mungkin terasa membatasi, tetapi justru bisa menyelamatkan kamu dari kehilangan dana dalam jumlah besar sekaligus.
BACA JUGA: 10 Crypto Exchange Indonesia Terbaik yang Diawasi OJK
9. Lakukan Monitoring Secara Berkala
Keamanan bukan hanya soal pengaturan awal, tetapi juga soal pengawasan rutin. Biasakan untuk mengecek riwayat login, lokasi perangkat yang mengakses akun, dan daftar transaksi secara berkala.
Aktifkan notifikasi email atau push notification untuk aktivitas login dan penarikan dana. Dengan monitoring yang konsisten, kamu bisa mendeteksi ancaman lebih cepat sebelum kerugian membesar.
10. Update Software Secara Rutin
Sistem operasi, aplikasi wallet, browser, dan antivirus harus selalu diperbarui ke versi terbaru. Update biasanya berisi perbaikan celah keamanan yang bisa dimanfaatkan hacker.
Menunda update berarti membiarkan pintu keamanan tetap terbuka. Dalam cara menjaga aset kripto, disiplin melakukan pembaruan adalah langkah sederhana yang berdampak besar pada perlindungan jangka panjang.
11. Gunakan Hardware Wallet untuk Dana Besar

Jika kamu menyimpan aset kripto dalam jumlah besar, hardware wallet adalah standar emas dalam cara menjaga aset kripto. Perangkat seperti Ledger atau Trezor menyimpan private key secara offline, sehingga tidak terhubung langsung ke internet dan jauh lebih aman dari serangan online.
Karena private key tidak pernah terekspos ke perangkat yang terhubung internet, risiko diretas menjadi jauh lebih kecil. Untuk dana bernilai puluhan juta rupiah atau lebih, menggunakan hardware wallet bukan lagi berlebihan, melainkan langkah bijak.
12. Gunakan Multi-Signature Wallet
Multi-signature (multisig) wallet adalah sistem yang membutuhkan lebih dari satu persetujuan untuk memproses transaksi. Misalnya skema 2-of-3 berarti kamu membutuhkan dua dari tiga perangkat berbeda untuk menyetujui pengiriman dana.
Artinya, jika satu perangkat diretas atau hilang, aset kamu tetap aman karena transaksi tidak bisa diproses hanya dengan satu akses saja. Ini menambah lapisan keamanan ekstra, terutama untuk dana besar atau pengelolaan aset bersama.
13. Gunakan Cold Storage untuk Investasi Jangka Panjang
Cold storage berarti menyimpan private key sepenuhnya offline dan tidak terhubung ke internet. Ini bisa berupa paper wallet atau perangkat yang benar-benar dipisahkan dari koneksi online.
Metode ini cocok untuk aset yang memang tidak akan kamu gunakan dalam waktu lama, misalnya 5–10 tahun. Karena tidak terhubung ke internet, peluang diretas secara online hampir tidak ada.
BACA JUGA: 10 Wallet Crypto Terbaik Ramah Pemula
14. Diversifikasi Tempat Penyimpanan
Dalam cara menjaga aset kripto, jangan simpan semua dana di satu tempat. Jika satu wallet atau exchange bermasalah, seluruh aset kamu tidak ikut terdampak.
Kamu bisa membagi aset ke beberapa lokasi berbeda, misalnya sebagian di hardware wallet, sebagian di exchange untuk trading, dan sebagian di mobile wallet untuk kebutuhan harian. Strategi ini mengurangi risiko kehilangan total dalam satu kejadian.
15. Uji Proses Recovery Wallet
Banyak orang menyimpan seed phrase tetapi tidak pernah menguji apakah proses pemulihannya benar-benar berhasil. Padahal, jika terjadi kehilangan perangkat, seed phrase adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan akses.
Cobalah lakukan simulasi restore wallet di perangkat lain untuk memastikan backup kamu berfungsi. Lebih baik menemukan kesalahan sekarang daripada menyadarinya saat situasi darurat.
Sudah Seberapa Siap Kamu Melindungi Aset Kripto Kamu?
Cara menjaga aset kripto bukan hanya soal teknologi, tetapi soal kebiasaan dan kesadaran kamu sebagai investor. Mulai dari langkah dasar seperti 2FA dan password kuat, meningkat ke whitelist dan monitoring rutin, hingga strategi lanjutan seperti hardware wallet dan cold storage, semuanya bekerja bersama untuk membangun sistem keamanan yang kokoh.
Di dunia blockchain, kamu adalah “bank” bagi diri sendiri. Karena itu, semakin kamu memahami cara mengamankan aset kripto, semakin kecil peluang asetmu menjadi korban serangan hacker.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



