5 Cara Staking Crypto: Tutorial Step-by-Step untuk Pemula

Buat kamu yang tertarik dengan cryptocurrency dan ingin mendapatkan passive income tanpa harus trading setiap hari, memahami cara staking crypto adalah langkah awal yang penting. Di artikel ini, kamu akan menemukan tutorial staking crypto lengkap, perhitungan potensi profit, risiko yang perlu dipahami, hingga aspek pajak di Indonesia.

BACA JUGA: 6 Strategi Staking untuk Pemula Buat Kamu yang Masih Bingung!

Cara Staking Crypto

Agar kamu benar-benar paham cara staking crypto, berikut ini adalah tutorial staking crypto yang bisa kamu ikuti dengan mudah. Kita akan menggunakan Ethereum dan platform liquid staking Lido Finance sebagai contoh.

1. Siapkan dan Amankan Wallet Crypto

Pertama, install wallet seperti MetaMask melalui website resminya. Setelah terpasang, buat wallet baru atau import wallet lama, lalu simpan seed phrase di tempat yang benar-benar aman (ditulis manual dan disimpan offline).

IKLAN
Chat via WhatsApp

Seed phrase adalah kunci utama akses aset kamu. Jangan pernah membagikannya ke siapa pun, termasuk yang mengaku sebagai customer support. Tanpa wallet, kamu tidak bisa melakukan staking karena semua proses akan dilakukan melalui koneksi wallet ke platform staking.

BACA JUGA: 10 Wallet Crypto Terbaik Ramah Pemula

2. Beli dan Transfer Aset ke Wallet

Setelah wallet siap, beli ETH di exchange seperti Indodax, Tokocrypto, atau Binance. Pastikan kamu membeli sedikit lebih banyak dari jumlah yang ingin di-stake untuk menutupi biaya gas fee.

Kemudian, lakukan withdraw ETH ke alamat wallet MetaMask kamu. Salin alamat wallet dengan teliti dan pastikan jaringan yang digunakan adalah Ethereum (ERC-20). Tunggu konfirmasi transaksi hingga ETH masuk ke wallet.

3. Kunjungi Platform Staking dan Hubungkan Wallet

Buka website resmi Lido Finance melalui browser yang sudah terpasang MetaMask. Klik tombol “Connect Wallet”, lalu pilih MetaMask dan setujui koneksi di pop-up yang muncul.

Pastikan jaringan yang digunakan adalah Ethereum Mainnet. Jika jaringan salah, staking bisa gagal atau dana terkirim ke jaringan yang tidak sesuai. Setelah terhubung, kamu akan melihat saldo ETH yang tersedia untuk di-stake.

4. Masukkan Jumlah ETH dan Konfirmasi Staking

Masukkan jumlah ETH yang ingin kamu stake pada kolom yang tersedia. Periksa kembali estimasi reward (APY) dan jumlah yang akan kamu terima dalam bentuk stETH.

Klik “Submit” atau “Stake”, lalu approve transaksi di MetaMask. Akan muncul estimasi gas fee yang perlu kamu bayar. Setelah disetujui, tunggu beberapa menit hingga transaksi terkonfirmasi di blockchain.

5. Terima dan Kelola Token Staking (stETH)

Setelah transaksi berhasil, kamu akan menerima stETH (staked ETH) di wallet. Token ini mewakili ETH yang sudah kamu stake dan jumlahnya akan bertambah secara otomatis sesuai reward harian.

Karena menggunakan sistem liquid staking, stETH bisa kamu simpan, gunakan di protokol DeFi lain, atau bahkan ditukar kembali jika diperlukan. Ini membuat proses cara staking crypto jadi lebih fleksibel dibanding staking tradisional yang mengunci aset sepenuhnya.

BACA JUGA: 10 Platform Staking Terbaik di Indonesia: Mana yang Paling Aman?

Proses Unstake Jika Ingin Menarik Dana

Jika ingin menarik kembali ETH, buka fitur “Withdrawal Request” di Lido. Masukkan jumlah stETH yang ingin kamu tarik, lalu konfirmasi transaksi di MetaMask.

Biasanya ada antrean (withdrawal queue) selama 1–5 hari tergantung kondisi jaringan. Setelah proses selesai, ETH akan kembali ke wallet kamu dan siap digunakan kembali.

Dengan mengikuti tutorial staking crypto ini secara berurutan, kamu sudah mempraktikkan cara staking crypto dari awal hingga selesai. Mulailah dengan nominal kecil untuk memahami alurnya, lalu tingkatkan secara bertahap seiring bertambahnya pengalaman dan pemahaman kamu tentang blockchain.

Menghitung Potensi Staking Crypto

Memahami cara staking crypto tidak lengkap tanpa tahu cara menghitung potensi keuntungannya. Secara sederhana, kamu bisa menggunakan rumus: Jumlah aset × APY ( persen) untuk mengetahui estimasi reward tahunan.

APY (Annual Percentage Yield) biasanya sudah ditampilkan di platform staking, tetapi angka ini belum memperhitungkan fluktuasi harga aset di pasar. Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh perhitungan menggunakan Ethereum:

Contoh: Staking 5 ETH selama 1 tahun (APY 4 persen)

  • Jumlah aset yang di-stake: 5 ETH
  • Harga ETH saat staking: US$3.000
  • Total modal awal: 5 × US$3.000 = US$15.000
  • APY: 4 persen per tahun
  • Reward tahunan: 5 × 4 persen = 0,2 ETH
  • Nilai reward (jika harga tetap US$3.000): 0,2 × US$3.000 = US$600

Artinya, tanpa memperhitungkan perubahan harga dan biaya gas, kamu berpotensi mendapatkan sekitar US$600 dalam setahun dari staking saja.

Namun, perlu diingat bahwa dalam praktiknya, harga aset sangat berpengaruh. Jika harga ETH naik 20  persen, maka nilai reward ikut naik. Sebaliknya, jika harga turun signifikan, nilai portofolio kamu bisa berkurang meskipun jumlah ETH bertambah. Karena itu, selalu hitung staking sebagai tambahan yield, bukan satu-satunya sumber keuntungan.

BACA JUGA: Pajak Kripto Indonesia 2026: Begini Cara Menghitungnya

Risiko Staking Crypto yang Perlu Kamu Pahami

Walaupun terlihat sederhana dan menjanjikan passive income, staking crypto tetap memiliki risiko yang wajib kamu pahami sebelum mengunci aset. Dengan memahami risikonya sejak awal, kamu bisa mengambil keputusan yang lebih rasional dan tidak hanya tergiur angka APY.

1. Smart contract Risk

Jika kamu melakukan staking melalui platform DeFi, prosesnya dijalankan oleh smart contract. Masalahnya, smart contract adalah kode program, dan kode bisa saja memiliki bug atau celah keamanan yang dimanfaatkan hacker.

Jika terjadi eksploitasi, aset yang kamu stake bisa hilang atau terkunci. Karena itu, pastikan kamu menggunakan platform yang sudah diaudit oleh firma keamanan terpercaya dan memiliki reputasi baik di komunitas kripto.

2. Slashing Risk

Pada beberapa jaringan Proof-of-Stake, validator yang bertugas memvalidasi transaksi bisa terkena penalti jika mereka offline terlalu lama atau melakukan pelanggaran aturan jaringan. Penalti ini disebut slashing.

Jika kamu melakukan staking dengan mendelegasikan aset ke validator yang bermasalah, sebagian reward atau bahkan aset kamu bisa ikut terpotong. Untuk mengurangi risiko ini, pilih validator dengan uptime tinggi dan rekam jejak yang bersih.

3. Lock-up dan Risiko Likuiditas

Beberapa metode staking mengharuskan aset kamu terkunci dalam periode tertentu. Selama masa penguncian ini, kamu tidak bisa langsung menjual aset meskipun harga pasar sedang turun drastis.

Risiko ini disebut risiko likuiditas. Artinya, kamu kehilangan fleksibilitas. Solusinya, jangan stake seluruh portofolio kamu dan sisakan sebagian dalam bentuk aset likuid untuk kebutuhan darurat atau peluang pasar.

BACA JUGA: 10 Aset Kripto Untuk Staking Terbaik Pada Tahun 2026!

4. Volatilitas Harga

Staking memang memberikan tambahan token, tetapi nilai total portofolio tetap dipengaruhi harga pasar. Jika harga aset turun tajam, reward staking mungkin tidak cukup untuk menutup kerugian nilai tersebut.

Inilah mengapa dalam praktik staking crypto, kamu perlu memahami bahwa staking bukan alat kebal risiko. Reward bersifat tetap secara persentase, tetapi harga tetap bergerak mengikuti kondisi pasar.

5. Risiko Platform atau Exchange

Jika kamu staking melalui centralized exchange, ada risiko tambahan yaitu kegagalan platform. Jika exchange mengalami masalah hukum, kebangkrutan, atau peretasan, aset kamu bisa terdampak.

Prinsip yang sering digunakan di dunia kripto adalah “Not your keys, not your coins.” Artinya, semakin besar dana yang kamu kelola, semakin penting mempertimbangkan staking melalui wallet non-custodial agar kamu tetap memegang kendali penuh atas asetmu.

Dengan pendekatan yang hati-hati, diversifikasi, dan riset yang cukup, kamu bisa memaksimalkan potensi staking sambil tetap mengelola risiko secara bijak.

BACA JUGA:  13 Platform Staking Terbaik di Indonesia: Mana yang Paling Aman?

Pajak dan Regulasi Staking Crypto di Indonesia

Di Indonesia, crypto diakui sebagai komoditas dan diawasi oleh OJK. Beberapa platform seperti Tokocrypto menerapkan Pajak Penghasilan (PPh) sekitar 6,1 persen untuk reward staking, yang dipotong langsung dari keuntungan. Kamu juga tetap wajib melaporkan penghasilan staking dalam SPT Tahunan sebagai penghasilan lain-lain.

Di luar biaya pajak, kamu juga mungkin akan dikenakan biaya layanan yang berbeda-beda tergantung platform yang kamu pilih.

BACA JUGA:  5 Proyek Kripto Lokal Terbaru 2026 yang Harus Kamu Tahu!

Sudah Siap Memulai Cara Staking Crypto?

Sekarang kamu sudah memahami cara staking crypto, mulai dari tutorial staking crypto langkah demi langkah, potensi keuntungan, perbandingan strategi, hingga risiko dan pajaknya di Indonesia. Staking bisa menjadi cara membangun passive income di dunia blockchain dengan pendekatan yang relatif lebih stabil dibanding trading.

Namun, keputusan tetap ada di tangan kamu. Dunia cryptocurrency terus berkembang, dan semakin kamu belajar, semakin matang pula strategi investasi yang bisa kamu bangun.

Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia