Di awal 2026, pasar aset digital khususnya Bitcoin bergerak mengikuti ritme data ekonomi global dan kebijakan moneter Amerika Serikat. Dinamika ini membuat pergerakan harga BTC semakin sensitif terhadap arah kebijakan ekonomi global.
Setelah bull rally sepanjang 2025 berujung koreksi tajam di akhir tahun, Bitcoin kini memasuki fase baru. Pada fase ini, data tenaga kerja, indikator inflasi, serta kebijakan The Fed menjadi katalis utama yang memengaruhi pergerakan harga BTC sepanjang Januari 2026.
Agenda Januari 2026 yang Menentukan Arah Bitcoin
1. 9 Januari: Non-Farm Payrolls (NFP)
Non-Farm Payrolls (NFP) kembali menjadi sorotan pada 9 Januari lalu, setelah BTC melewati akhir 2025 dengan volatilitas tinggi. Memasuki Januari 2026, Bitcoin bergerak dalam sentimen yang lebih berhati-hati, seiring tren bearish yang terbentuk sejak akhir 2025.
Berdasarkan data dari CoinMarketCap, harga Bitcoin berada di kisaran US$87.500 pada akhir Desember 2025. Memasuki awal Januari 2026, BTC mencatat kenaikan terbatas dan bergerak di rentang US$90.900 hingga US$93.900.
Rilis data NFP tidak memicu pergerakan ekstrem pada harga Bitcoin. Pasar justru menunjukkan pola pergerakan sideways dengan volatilitas moderat, mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Secara teknikal, data NFP berperan sebagai penopang harga tanpa menciptakan lonjakan yang tajam. Bitcoin tetap berada dalam fase konsolidasi dengan rentang US$88.000–US$94.000 sepanjang pekan pertama Januari.
2. 13 Januari: U.S. Consumer Price Index (CPI)
Rilis Consumer Price Index (CPI) pada 13 Januari menjadi momen krusial bagi pasar kripto dan keuangan. Data inflasi ini berperan penting dalam membentuk ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve, terutama terhadap aset berisiko seperti crypto.
Jika CPI tercatat lebih tinggi dari perkiraan, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga di level tinggi lebih lama. Skenario ini umumnya memberikan tekanan tambahan bagi pasar kripto, termasuk Bitcoin, karena meningkatnya sentimen risk-off.
Dalam konteks pergerakan harga, Bitcoin telah mencatat kenaikan moderat sejak awal tahun. Pada awal Januari 2026, BTC menguat hampir 6,5 persen dan sempat menyentuh level sekitar US$94.700, mencerminkan rebound dari koreksi tajam di akhir 2025.
Meski demikian, pasar diperkirakan bergerak fluktuatif menjelang rilis CPI. Bitcoin berpotensi mengalami tekanan jangka pendek maupun rebound teknikal, dengan pergerakan harga yang masih diperkirakan berada dalam kisaran konsolidasi pasca-rilis data tersebut.
3. 14 Januari: U.S. Producer Price Index (PPI)
Data Producer Price Index (PPI) pada 14 Januari mendatang menambah sentimen baru bagi pasar crypto, karena data ini mencerminkan tekanan harga dari sisi produsen. PPI yang lebih rendah dari perkiraan biasanya diartikan sebagai sinyal meredanya tekanan inflasi ke depan.
Bitcoin yang telah berada dalam fase konsolidasi sejak akhir Desember 2025 diperkirakan akan merespons rilis data ini. Jika PPI menunjukkan pelemahan, sentimen tersebut dapat membuka ruang bagi BTC untuk mencatat rebound terbatas.
Meski demikian, Bitcoin masih berada dalam konsolidasi. Menjelang pertengahan Januari 2026, pergerakan BTC diperkirakan tetap terbatas di kisaran US$90.000–US$94.000, dengan potensi breakout masih bergantung pada hasil rilis data PPI dan respons pasar selanjutnya.
4. 19–23 Januari: World Economic Forum (WEF)
Pertemuan World Economic Forum (WEF) pada 19–23 Januari menjadi sorotan karena menghadirkan berbagai narasi terkait ekonomi global, geopolitik, dan arah investasi. Diskusi dalam forum ini kerap memengaruhi sentimen pasar, termasuk pasar aset digital.
Bitcoin yang memulai 2026 dengan rebound dari tekanan di akhir 2025 cenderung bergerak lebih berhati-hati selama periode WEF. Investor mencermati pandangan para pemimpin global terhadap risiko ekonomi dan stabilitas keuangan.
Narasi yang muncul dari WEF mendorong dinamika risk-off dan risk-on secara bergantian. Akibatnya, harga Bitcoin saat ini bergerak sideways di kisaran US$90.000–US$94.000, namun tetap mampu menjaga minat investor institusional.
5. 28–29 Januari: FOMC MeetingÂ
Menjelang akhir Januari, perhatian pasar tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Keputusan serta komunikasi kebijakan The Federal Reserve kerap menjadi penentu arah pasar keuangan, termasuk aset kripto.
Ekspektasi terkait apakah The Fed akan mempertahankan atau menyesuaikan suku bunga turut memengaruhi arus modal ke pasar saham dan kripto. Menjelang FOMC, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu kejelasan arah kebijakan moneter.
Secara historis, Bitcoin kerap memasuki konsolidasi disertai peningkatan volatilitas menjelang FOMC. Dengan BTC yang bergerak di kisaran US$90.000–US$94.000, keputusan pada FOMC berpotensi menjadi katalis yang menentukan arah Bitcoin di akhir Januari 2026.
Agenda Januari 2026 Penentu Pergerakan Bitcoin
Memasuki Januari 2026, pergerakan harga Bitcoin tidak lagi digerakkan oleh euforia, melainkan oleh respons terhadap data ekonomi dan kebijakan moneter. Dinamika ini membuat BTC sensitif terhadap rilis indikator ekonomi utama dan arah kebijakan bank sentral.
Rangkaian agenda penting seperti NFP, CPI, PPI, WEF, hingga FOMC menjadi faktor penentu arah Bitcoin dalam jangka pendek. Agenda-agenda tersebut sekaligus membentuk arah pergerakan BTC sepanjang 2026 ini.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



