Kata Bung Dimaz

Selepas meluncurkan jaringan utam (mainnet) sendiri dan meninggalkan platform ERC-20, Tron memang dikenal sebagai platform yang amat menyerupai Ethereum. Tidak hanya dari segi fasilitas smart contract yang sama-sama menggunakan Solidity, namun juga ketersediaan fitur token, membuat Tron seolah-olah menjadi Ethereum versi kedua. Namun tentu saja ada perbedaan di antara keduanya. Jika di dalam Ethereum dikenal standar token ERC-20, maka di dalam Tron dikenal dua jenis token, yakni TRC-10 dan TRC-20. Keduanya memiliki karakteristik yang cukup berbeda.
Saat ini amat banyak ditemukan klaim para pengembang amatiran yang menyatakan bahwa mereka sedang mengembangkan blockchain baru, barangkali setelah sukses menyelenggarakan ICO. Namun, saya amat yakin bahwa mayoritas di antara mereka ini hanyalah sekedar menyalin dari sistem yang sudah ada dengan penyesuaian sebelumnya. Bikin blockchain itu tentu saja tidak mudah!
Dalam artikel-artikel sebelumnya telah dibahas tentang sistem Tron secara garis besar, begitu pula model konsensus voting perwakilan, delegated Proof-of-Stake (dPoS), yang ada dalam Tron, serta dua jenis token yang ada dalam Tron, di mana masing-masing memiliki keunggulan dan manfaat yang berbeda. Artikel kali ini membahas bagaimana sumber daya sistem Tron dapat dikelola dengan lebih baik. Pengelolaan sumber daya Tron yang baik tentu saja akan memberikan manfaat terbaik bagi pemilik token TRX maupun para pengguna Tron untuk berbagai keperluan.
Beberapa hari yang lalu beredar berita, yang tautannya berasal dari laman resmi Presiden Republik Indonesia (RI) tentang bagaimana menghadapi Revolusi Industri 4.0. Sebagai anggota dari komunitas blockchain (dan mata uang kripto) di Indonesia, saya amat tertarik dengan pokok bahasan kedua dalam berita itu, yakni soal Noorcoin
Bukan tidak mungkin, produk mata uang kripto di masa depan mengadopsi paham sentralisasi dan meninggalkan metode konsensus demi meningkatkan kapasitas sistem. Definisi blockchain memang sangat luas, sehingga barangkali saat bank-bank sentral dunia mengadopsi teknologi blockchain, sentralisasi akan diadopsi dengan sempurna dalam mata uang virtual modern mereka.
Mata uang kripto merupakan sesuatu yang amat unik. Ketiadaan bentuk fisik bukan jadi penghalang dalam penciptaan nilai hingga puluhan juta dolar. Barangkali, mata uang kripto jadi tonggak revolusioner berikutnya dalam sejarah inovasi teknologi manusia.
Serupa dengan bentuk objek bernilai lainnya, Bitcoin memiliki sisi gelap, salah satunya adalah sebagai alat mencuci uang alias (money laundering).
Teknologi blockhain memang menarik. Tak sekadar dipakai untuk menjalankan mata uang kripto/aset kripto seperti Bitcoin, tetapi diharapkan mampu berkontribusi meningkatkan kapabilitas sistem elektronik di bidang-bidang lainnya.
PoW amatlah popular seiring makin terkenalnya bitcoin, sementara PoS hadir setelah berbagai kritik dan kecaman dialamatkan kepada para penambang bitcoin yang haus akan energi listrik. Lantas, apakah PoS adalah solusi?
Kesadaran akan perubahan iklim turut membawa angin perubahan dalam industri mata uang kripto. Kita mungkin akan melihat penggunaan PoS yang melampaui penggunaan PoW secara signifikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Para miner yang telah berinvestasi besar pun akan dipaksa melakukan pivot menjadi staker agar tetap signifikan dalam meraup profit.