Rabu, 20 Maret 2019

Kata Bung Dimaz

Konsensus ciptaan Satoshi Nakamoto (Nakamoto Consensus) ini sangat sederhana, tetapi juga berhasil membuktikan bahwa tanpa identitas yang jelas, demokrasi tetap dapat dilangsungkan. Lebih istimewa lagi karena Konsensus Nakamoto ini memperbolehkan siapapun bergabung dan meninggalkan sistem kapanpun diinginkan.
Desentralisasi yang melekat pada konsep mata uang kripto dan teknologi blockchain dapat dijabarkan menjadi setidaknya tiga komponen, yakni konsensus, governance, dan full node. Para pelaku dua komponen pertama yakni konsensus dan governance mendapatkan manfaat (dengan kadar tertentu), sementara komponen desentralisasi ketiga, yakni full node masih dianaktirikan. Dengan menyadari betapa pentingnya full node dalam sistem mata uang kripto dan blockchain, maka diperlukan usaha untuk memberikan insentif kepada para peserta agar mereka mau menjalankan full node. Namun tampaknya belum akan ada solusi dalam waktu dekat, dan mari berharap para “pahlawan” itu masih mau berkontribusi terhadap jalannya sistem.
Hadirnya mesin ASIC bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menyebabkan ketidakadilan karena pemodal bintang lima akan mendominasi sekaligus mengeliminasi para penambang kaki lima. Di sisi lain, mesin ASIC membantu peningkatan keamanan sistem dengan mereduksi potensi serangan hingga hampir mustahil dilakukan.
Bukan tidak mungkin, produk mata uang kripto di masa depan mengadopsi paham sentralisasi dan meninggalkan metode konsensus demi meningkatkan kapasitas sistem. Definisi blockchain memang sangat luas, sehingga barangkali saat bank-bank sentral dunia mengadopsi teknologi blockchain, sentralisasi akan diadopsi dengan sempurna dalam mata uang virtual modern mereka.