Selasa, 21 Mei 2019

Kata Bung Dimaz

Ketika uang fisik sirna dari muka bumi dan tergantikan dengan kode biner: satu dan nol, maka perpajakan juga dapat bertransformasi dari kantor-kantor fisik dan auditor berbiaya mahal menjadi kode-kode digital dengan toleransi kesalahan yang rendah. Di saat jenis transaksi ekonomi semakin didominasi oleh robot dan kecerdasan buatan, maka perpajakan juga harus merespon dengan Pajak Pintar. Blockchain menjadi salah satu alternatif solusi menarik untuk memastikan bahwa keuangan negara terjamin hingga seabad mendatang yang penuh dengan tantangan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ICO berkontribusi dalam gembosnya harga Bitcoin dan Ethereum. Miliaran dollar uang fiat yang disuntikkan seluruh manusia pecinta Bitcoin di muka bumi ke pasar Bitcoin dan Ethereum, yang kemudian dikumpulkan oleh para inisiator ICO pada akhirnya akan dijual kembali ke pasar mata uang kripto dan menarik uang fiat yang susah payah Anda semua kumpulkan. Pada akhirnya, ICO membuat suplai Bitcoin dan Ethereum di pasaran terlalu banyak dan membanting harga kembali ke bumi.
Apabila suatu pekerjaan sulit di Bitcoin menjadi sangat mudah di Ethereum, bayangkan betapa besar potensi smart contract ini apabila dikembangkan lebih lanjut. Hal ini juga dibuktikan dengan besarnya minat industri teknologi informasi terhadap smart contract: hampir semua ICO dilakukan dengan menggunakan platform Ethereum.
Beberapa hari yang lalu beredar berita, yang tautannya berasal dari laman resmi Presiden Republik Indonesia (RI) tentang bagaimana menghadapi Revolusi Industri 4.0. Sebagai anggota dari komunitas blockchain (dan mata uang kripto) di Indonesia, saya amat tertarik dengan pokok bahasan kedua dalam berita itu, yakni soal Noorcoin
Vitalik Buterin kerap dibanding-bandingkan dengan Satoshi Nakamoto, yang dipicu oleh kesuksesan Ethereum yang kini menguntit tepat di belakang Bitcoin di dalam daftar mata uang kripto paling bernilai di dunia. Tentu saja, ide tentang smart contract yang ditanam ke dalam mata uang kripto Ethereum membuat produk ini amat berjaya.
Metode-metode kriptografi seperti Fully Homomorphic Encryption (FHE) yang mulai populer sejak beberapa tahun belakangan ini terus dikembangkan agar data-data terenkripsi masih dapat diproses tanpa harus melalui proses dekripsi terlebih dahulu. Meskipun tentu saja diperlukan komputasi yang lebih besar untuk memproses data-data yang dienkripsi dengan teknik FHE, alternatif ini perlu dilirik sebagai salah satu solusi.
Keamanan siber yang semakin menjadi isu penting belakangan ini juga dapat memantik teknologi blockchain untuk dapat diterapkan di semua sektor ekonomi. Informasi transaksi keuangan mendapat jaminan ketersediaan (availability) dan integritas (integrity), tanpa adanya satu titik kelemahan (single point of failure). Jika menilik potensi solusi yang ditawarkan oleh teknologi blockchain, jika memang tidak dapat menyelesaikan persoalan kemiskinan, maka keamanan siber dunia barangkali akan bermasa depan cerah!
Konsensus ciptaan Satoshi Nakamoto (Nakamoto Consensus) ini sangat sederhana, tetapi juga berhasil membuktikan bahwa tanpa identitas yang jelas, demokrasi tetap dapat dilangsungkan. Lebih istimewa lagi karena Konsensus Nakamoto ini memperbolehkan siapapun bergabung dan meninggalkan sistem kapanpun diinginkan.
Desentralisasi yang melekat pada konsep mata uang kripto dan teknologi blockchain dapat dijabarkan menjadi setidaknya tiga komponen, yakni konsensus, governance, dan full node. Para pelaku dua komponen pertama yakni konsensus dan governance mendapatkan manfaat (dengan kadar tertentu), sementara komponen desentralisasi ketiga, yakni full node masih dianaktirikan. Dengan menyadari betapa pentingnya full node dalam sistem mata uang kripto dan blockchain, maka diperlukan usaha untuk memberikan insentif kepada para peserta agar mereka mau menjalankan full node. Namun tampaknya belum akan ada solusi dalam waktu dekat, dan mari berharap para “pahlawan” itu masih mau berkontribusi terhadap jalannya sistem.
Hadirnya mesin ASIC bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menyebabkan ketidakadilan karena pemodal bintang lima akan mendominasi sekaligus mengeliminasi para penambang kaki lima. Di sisi lain, mesin ASIC membantu peningkatan keamanan sistem dengan mereduksi potensi serangan hingga hampir mustahil dilakukan.