Bitcoin kembali mendapat sorotan dari kalangan institusi keuangan. Di tengah upaya investor mencari imbal hasil yang optimal dengan risiko terukur, aset kripto ini dinilai memiliki peran strategis sebagai alat diversifikasi. Pandangan tersebut disampaikan oleh Cathie Wood, CEO Ark Invest.
Korelasi Rendah Jadi Daya Tarik Utama Bitcoin
Dalam catatan riset yang dirilis pada Kamis (15/01/2026), Cathie Wood menegaskan bahwa Bitcoin memiliki korelasi harga yang relatif rendah terhadap kelas aset utama seperti saham, obligasi, dan emas.
Menurut Wood, karakteristik tersebut membuat Bitcoin berpotensi menjadi penyeimbang risiko dalam portofolio yang terdiversifikasi, terutama bagi para investor yang ingin mengincar efisiensi risiko.
“Bitcoin seharusnya menjadi sumber diversifikasi yang baik bagi pengelola aset yang mencari imbal hasil lebih tinggi per unit risiko,” tulis Wood dalam catatannya.
Berdasarkan data Ark Invest, sejak 2020 korelasi Bitcoin dengan aset tradisional justru lebih lemah dibandingkan korelasi antar aset tersebut satu sama lain. Kondisi ini memperkuat argumen Bitcoin sebagai aset non-korelasi.
Sebagai ilustrasi, korelasi Bitcoin terhadap S&P 500 tercatat sekitar 0,28. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan korelasi antara S&P 500 dan real estate investment trusts (REITs) yang berada di kisaran 0,79.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga Bitcoin cenderung tidak searah dengan aset tradisional, sehingga bisa meredam volatilitas portofolio dan berperan sebagai komponen pelengkap, bukan sekadar aset berisiko tinggi.
Perdebatan Institusi dan Arah Pasar
Meski pandangan Cathie Wood terhadap Bitcoin tergolong bullish, respons institusi keuangan masih beragam. Tidak semua pelaku pasar sepakat mengenai peran aset kripto ini dalam portofolio jangka panjang.
Misalnya, analis Jefferies, Christopher Wood, justru memangkas eksposur Bitcoin dalam portofolionya dan menggantinya dengan emas. Ia menilai komputasi kuantum berpotensi menjadi ancaman terhadap keamanan blockchain Bitcoin.
“Perkembangan komputasi kuantum berpotensi besar melemahkan fondasi kriptografi Bitcoin, sehingga aset ini dinilai kurang ideal sebagai penyimpan nilai jangka panjang,” ujar Wood.
Namun, sikap Cathie Wood sejalan dengan pandangan sejumlah institusi besar lainnya. Bank of America merekomendasikan alokasi Bitcoin secara oportunistik hingga empat persen dalam portofolio tertentu.
Langkah Gila Bank of America, Siap Buka Akses Kripto ke Nasabah
Perbedaan ini mencerminkan dinamika yang berkembang di kalangan institusi. Bitcoin berada di persimpangan antara peluang diversifikasi dan risiko struktural, seiring pergeseran perannya dari sekadar spekulasi menuju aset portofolio strategis.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



