Industri kripto tengah memasuki fase baru. Jika sebelumnya crypto identik dengan lonjakan harga ekstrem dan euforia spekulatif, kini arahnya disebut mulai bergeser ke pertumbuhan yang lebih stabil.
Pernyataan ini disampaikan CEO Galaxy Digital, Mike Novogratz, yang menilai reputasi kripto sebagai aset high-risk, high-reward perlahan akan mulai berubah seiring masuknya institusi yang biasanya lebih konservatif.
Industri Kripto Kian Dewasa, Spekulasi Mulai Mereda
Dikutip dari laporan CNBC pada Selasa (10/02/2026) Mike Novogratz menyebut hari-hari keuntungan fantastis di pasar kripto kemungkinan besar tidak akan lagi menjadi norma. Menurutnya, karakter investor pun telah berubah.
“Orang-orang ritel tidak masuk ke kripto karena ingin mendapatkan imbal hasil 11 persen per tahun. Mereka masuk karena ingin mendapatkan keuntungan 30 kali lipat, delapan kali lipat, atau 10 kali lipat,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa investor ritel masuk ke kripto demi imbal hasil berlipat dalam waktu singkat. Namun, masuknya institusi dengan manajemen risiko ketat membuat pasar kini lebih terstruktur dan bergerak menuju fase yang lebih matang.
State Street: Institusi Bakal Gandakan Eksposur Kripto dalam 3 Tahun ke Depan
Novogratz juga menyebut runtuhnya FTX pada 2022 sebagai titik balik. Kejatuhan itu memicu pasar bearish tajam, membuat harga Bitcoin anjlok dari US$69.000 ke sekitar US$15.700, dan menciptakan “breakdown in trust” di industri kripto.
Ia turut menyoroti peristiwa crypto crash pada 10 Oktober yang memberi tekanan besar pada pasar. Menariknya, kali ini tidak ada katalis utama yang jelas, dan ketika banyak pelaku tersingkir, pemulihan tidak terjadi dengan cepat.
“Kali ini tidak ada penyebab utama yang jelas. Kita melihat sekeliling dan bertanya, apa yang sebenarnya terjadi? Humpty Dumpty tidak bisa disatukan kembali begitu saja,” tambahnya.
Tokenisasi RWA Jadi Penggerak Baru
Ke depan, Novogratz memperkirakan fokus industri akan bergeser dari spekulasi berimbal hasil tinggi menuju aplikasi praktis, terutama tokenisasi RWA. Pergeseran ini disebut sebagai fase lanjutan dari proses pendewasaan industri kripto.
Menurutnya, infrastruktur kripto akan tetap digunakan, tetapi fungsinya meluas. Tidak lagi sekadar menjadi sarana trading spekulatif, melainkan juga fondasi untuk menghadirkan layanan perbankan dan jasa keuangan secara global.
“Hal itu akan dialihkan atau digantikan dengan penggunaan rel yang sama, rel kripto ini, untuk menghadirkan layanan perbankan dan jasa keuangan ke seluruh dunia. Jadi, yang berkembang nantinya adalah aset dunia nyata dengan imbal hasil yang jauh lebih rendah,” tegasnya.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Grayscale. Perusahaan manajemen aset digital tersebut menilai tokenisasi RWA berpotensi berkembang pesat hingga 2030 dan secara fundamental mengubah arah industri kripto.
Grayscale: Tokenisasi RWA Akan Meledak 1.000 Kali Lipat di Tahun 2030
Jika proyeksi ini terwujud, lanskap kripto akan memasuki babak baru. Dari panggung spekulasi dan euforia, industri perlahan bertransformasi menjadi infrastruktur keuangan digital yang lebih matang, stabil, dan berkelanjutan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



