CEO OKX: Crypto Crash Oktober 2025 Itu Salah Binance!

Pasar kripto masih berjuang pulih dari salah satu kejatuhan terbesar dalam sejarahnya. Lebih dari US$19 miliar terlikuidasi pada Oktober 2025, dan kini tekanan belum mereda. Di tengah situasi ini, pernyataan terbuka dari CEO OKX memantik perdebatan soal tanggung jawab pemain besar industri.

CEO OKX, Star Xu, secara blak-blakan menuding Binance sebagai salah satu pihak yang ikut memicu kejatuhan pasar pada Oktober lalu melalui unggahan di X pada Sabtu (31/01/2026).

Kampanye Binance yang Tak Bertanggung Jawab

Xu menegaskan bahwa kejatuhan pasar bukanlah sebuah kecelakaan. Menurutnya crypto crash yang terjadi pada oktober lalu disebabkan oleh kampanye pemasaran yang tidak bertanggung jawab dari perusahaan tertentu.

Ia menilai Binance, sebagai platform kripto terbesar di dunia, memiliki pengaruh yang besar. Dengan pengaruh tersebut, kata Xu, datang pula tanggung jawab yang sepadan sebagai pemimpin industri. 

IKLAN
Chat via WhatsApp

Dalam pandangannya, promosi imbal hasil tinggi pada produk stablecoin tertentu menjadi pemicu utama terjadinya efek domino di pasar. Xu merujuk pada imbal hasil stablecoin USDe yang diperkenalkan Binance pada September 2025. 

Cara Dapat Passive Income Rp5–10 Juta Per Bulan Modal Stablecoin

Namun, Xu menilai skema tersebut membawa “risiko setara hedge fund.” Banyak trader, menurutnya, tidak sepenuhnya memahami risiko penggunaan USDe sebagai kolateral, sehingga terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai “leverage loop.”

BACA JUGA:  Binance Diam-diam Serok Bitcoin Rp7,17 Triliun Lewat SAFU

“USDe secara fundamental berbeda dari BlackRock BUIDL dan Franklin Templeton BENJI, yang merupakan dana pasar uang bertokenisasi dengan risiko rendah. Sebaliknya, USDe mengandung risiko hedge fund. Perbedaan ini struktural, bukan kosmetik,” tegasnya.

Runtuhnya Pasar Kripto dan Dampak Sistemik

Tekanan pasar semakin berat setelah ancaman tarif baru dari Presiden AS saat itu, Donald Trump, pada 10 Oktober 2025. Sentimen global langsung memburuk dan pasar keuangan terpukul, dengan kripto menjadi aset yang paling dalam koreksinya.

Aset utama seperti Bitcoin, Ethereum, Avalanche dan Solana tercatat anjlok dua digit hanya dalam satu hari. Xu menyebut bahwa guncangan pasar yang relatif kecil saja sudah cukup untuk memicu kehancuran, terutama ketika volatilitas meningkat dan USDe mengalami depegging.

“Ketika volatilitas meningkat, USDe dengan cepat mengalami depegging. Likuidasi beruntun pun terjadi, dan kelemahan manajemen risiko pada aset seperti WETH dan BNSOL semakin memperparah kejatuhan pasar,” tuturnya.

Mengenal Mekanisme Depegging pada Stablecoin

Crypto crash Oktober 2025 disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah kripto. Sejumlah altcoin dilaporkan anjlok hingga 80 persen hanya dalam satu hari, menandai tekanan ekstrem di pasar aset digital.

BACA JUGA:  Epstein Files Buka Tabir Rivalitas di Dunia Kripto

Bitcoin, yang sempat mencetak ATH baru, langsung menghapus seluruh kenaikannya. Sejak saat itu, aset kripto terbesar tersebut mayoritas diperdagangkan di bawah level US$100.000, bahkan sempat turun ke kisaran US$81.000 per koin.

Teori CEO OKX Dipertanyakan Pelaku Industri

Meski demikian, tudingan Xu tidak diterima begitu saja. Sejumlah pelaku industri membantah narasi tersebut dengan mengacu pada data transaksi yang tidak sejalan dengan kronologi yang disampaikan.

Haseeb Qureshi, Managing Partner di Dragonfly, menilai teori Xu gagal memperhitungkan urutan kejadian. Menurutnya, Bitcoin telah mencapai titik terendah sekitar 30 menit sebelum USDe menyimpang dari patokannya di Binance.

Qureshi juga menegaskan bahwa peristiwa depegging yang terjadi pada USDe bersifat terisolasi di order book Binance, sementara likuidasi besar-besaran terjadi secara luas di seluruh pasar kripto. 

“Jika depegging USDe tidak menyebar ke pasar secara keseluruhan, maka sulit menjelaskan mengapa semua bursa mengalami wipeout secara besar-besaran,” tambahnya.

BACA JUGA:  Robinhood dan Sony Kucurkan Dana Investasi di Crypto Exhange Ini

Pendiri Ethena Labs, Guy Young, turut membantah klaim Xu pada hari yang sama. Ia mengutip data order book yang menunjukkan bahwa perbedaan harga USDe justru terjadi setelah pasar secara keseluruhan lebih dulu runtuh.

“Data di bawah ini dengan jelas menunjukkan bahwa stablecoin USDe mengalami perbedaan harga di order book Binance sekitar 30 menit setelah harga BTC mencapai titik terendah akibat crash,” tegas Young.

Data Order Book USDe dan Bitcoin - Guy Young
Data Order Book USDe dan Bitcoin – Guy Young

Polemik soal pihak yang paling bertanggung jawab atas crypto crash Oktober 2025 masih terbuka. Namun jelas, inovasi, pemasaran, dan manajemen risiko di industri kripto memiliki dampak sistemik yang sangat besar.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia