Bitcoin masih bergerak dalam kisaran sempit dan tampak stagnan sejak crypto crash pada awal Oktober. Namun, sejumlah analis percaya fase konsolidasi ini hanya bersifat sementara. Salah satunya adalah Matt Hougan, Chief Investment Officer (CIO) Bitwise, yang menilai reli emas pada 2025 dapat menjadi “peta jalan” bagi pergerakan BTC selanjutnya.
Emas Sebagai Cermin untuk Bitcoin
Menurut Hougan dalam catatan yang dibagikan ke publik pada Selasa (21/10/2025), lonjakan harga emas sekitar 57 persen tahun ini bukanlah kebetulan. Ia menjelaskan bahwa sejak beberapa tahun terakhir, bank-bank sentral di berbagai negara menjadi pembeli utama emas, dan aksi akumulasi besar-besaran tersebut telah menjadi pendorong utama reli.
“Ketika bank sentral mulai membeli emas secara agresif pada 2022 dan mendorong harga naik, banyak investor yang sensitif terhadap harga justru menjual. Namun ketika kelompok penjual itu habis, harga langsung melesat,” tulis Hougan.

Hougan menilai fenomena serupa bisa terjadi pada BTC. Bedanya, kali ini peran pembeli besar bukan tidak dilakukan oleh bank sentral seperti yang terjadi pada emas, melainkan dari Bitcoin ETF dan perusahaan besar yang menambah BTC ke dalam neraca mereka.
Sejak Bitcoin Spot ETF pertama kali diluncurkan pada Januari 2024, lembaga keuangan dan juga jalangann korporasi telah membeli sekitar 1,39 juta BTC, jauh lebih banyak dari suplai baru yang dihasilkan jaringan.
Namun, harga Bitcoin tetap tertahan di kisaran US$108.000 hingga US$112.000. Hougan berpendapat hal ini disebabkan oleh masih adanya kelompok penjual yang menahan potensi kenaikan. Begitu kelompok ini menyusut, pasar dapat mencapai titik balik yang signifikan
“Jangan lihat reli emas dengan rasa iri. Lihatlah dengan antisipasi. Bisa jadi, pergerakan harga emas sedang menunjukkan ke mana arah Bitcoin berikutnya,” jelasnya dengan nada optimis.
Peter Brandt Ramal Puncak Emas di US$4.474, Token Emas Ikut Meroket
Stimulus Jepang Bisa Dorong BTC ke ATH Baru
Pandangan optimis juga datang dari Arthur Hayes, pendiri BitMEX. Dalam unggahan di X pada Rabu (22/10/2025), Hayes menilai kebijakan stimulus ekonomi Jepang dapat menjadi katalis yang mendorong harga Bitcoin hingga menembus US$1 juta.
“Jepang cetak uang lagi untuk dibagikan kepada masyarakat demi membantu biaya pangan dan energi. Biaya ini naik karena sebelumnya kita sudah mencetak terlalu banyak uang. Ini gila, tapi terserah saja: yen ke 200 dan Bitcoin ke US$1 juta,” tulisnya.
Pernyataan itu merespons langkah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang mengumumkan paket bantuan ekonomi mencakup subsidi listrik, gas, dan dana untuk usaha kecil-menengah.
Hayes memandang kebijakan tersebut sebagai sinyal bahwa bank sentral Jepang akan kembali mencetak uang dalam jumlah besar — sesuatu yang berpotensi memperlemah nilai yen sekaligus memperkuat daya tarik Bitcoin sebagai aset lindung nilai.
State Street: Institusi Bakal Gandakan Eksposur Kripto dalam 3 Tahun ke Depan
Kombinasi analisa struktural Hougan dan pandangan makro Hayes memberi sinyal bahwa tekanan jual BTC mulai mereda. Dengan dukungan kuat dari ETF, institusi, dan sentimen makro, Bitcoin tampak bersiap menyambut fase kenaikan berikutnya, mengikuti jejak emas yang sudah lebih dulu melesat. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



