Citi: Tokenisasi Bukan Lagi Eksperimen, Adopsi Institusi Mulai Nyata

Tokenisasi mulai bergerak ke fase yang jauh lebih serius. Bukan lagi sekadar membawa aset ke blockchain, institusi kini mulai menggunakannya untuk collateral, margin, dan pengelolaan likuiditas secara nyata.

Citi Lihat Tokenisasi Sudah Masuk Fase Praktis

Perubahan itu terlihat dalam laporan Digital Collateral: A Practical Reality yang dirilis Citi pada Kamis (24/09/2026). Pesannya cukup jelas, tokenisasi collateral mulai bergeser dari konsep menuju penggunaan nyata.

Citi mencatat 27 persen broker institusional, bank, dan manajer aset berencana memakai sekuritas on-chain untuk menjaminkan obligasi serta kas tokenisasi pada 2027, menandai perubahan besar di pasar modal.

Arah tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak 2024, ketika eksperimen tokenisasi RWA mulai bergerak lebih cepat. Pada 2026, hingga 77 persen perusahaan diperkirakan menggunakan suatu bentuk tokenized collateral.

Skema Peluang Tokenized Collateral - Citi
Skema Peluang Tokenized Collateral – Citi

Aset yang dibidik pun bukan cuma satu jenis. Kas, money market fund, obligasi pemerintah, ekuitas, hingga kripto mulai masuk pembahasan sebagai collateral yang dapat bergerak lebih fleksibel. 

Perubahan itu bukan sekadar soal mengganti format aset. Intinya adalah membuat collateral bisa berpindah lebih cepat, lebih mudah diprogram, dan tetap bergerak ketika sistem tradisional sudah tutup. 

“Tokenisasi bukan inisiatif terpisah dari optimalisasi collateral. Ini adalah tahap berikutnya. Bagi klien, artinya collateral tokenisasi dan tradisional tidak lagi diperlakukan sebagai dua program terpisah, melainkan sebagai satu inventaris,” ujar Ryan Marsh, Head of Digital Asset Product, Citi Investor Services.

BACA JUGA:  OJK Buka Jalan Tokenisasi di RI, Emas dan Properti Jadi Uji Coba Nyata

Masalah Lama Wall Street Mulai Terlihat Mahal

Kebutuhan itu muncul karena sistem lama masih menyimpan banyak batasan. Salah satunya berasal dari jam operasional yang membuat pergerakan collateral tidak selalu bisa mengikuti pasar yang terus berjalan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Efeknya terbilang cukup besar. Citi mencatat hingga 25 persen collateral saat ini menganggur dan menghasilkan sedikit atau bahkan tanpa imbal hasil, setara sekitar US$15 miliar pada rata-rata perusahaan. 

Gesekan tersebut diperkirakan menghilangkan sekitar US$346 juta pendapatan per tahun bagi rata-rata perusahaan besar. Institusi juga biasanya memasang collateral enam hingga tujuh persen lebih banyak dari kebutuhan. 

Di sinilah konsep tokenisasi terasa relevan. Collateral berbasis blockchain dapat bergerak dalam hitungan menit setelah margin call, bahkan pada malam hari atau akhir pekan ketika jalur tradisional tidak aktif. 

“Hari ini, bursa dan bank pada dasarnya hanya menahan risiko sampai pasar kembali buka. Tokenisasi membuat pengelolaan risiko dapat dilakukan secara real-time,” tutur Marsh.

SEC Resmi Buka Jalan Saham AS Masuk Blockchain, Ini Aturan Ketatnya

Regulator dan Bank Besar Mulai Bergerak Sejalan

Cerita Citi muncul saat regulator Amerika Serikat juga mulai membuka ruang lebih besar. Ketua CFTC Michael Selig bahkan meminta pasar bersiap menghadapi “mass tokenization” dan ekspansi keuangan on-chain. 

BACA JUGA:  Sawah Masuk Blockchain? HARA dan IDRX Buka Jalan RWA Pertanian Indonesia

Sinyal lain datang dari SEC melalui Innovation Exemption. Kebijakan ini membuka jalur bagi platform tertentu untuk memperdagangkan token saham AS menggunakan mekanisme AMM dan liquidity pool dengan persyaratan tertentu. 

Perubahan serupa muncul di sistem perbankan. Swift bersama IBM tengah menguji tokenized deposit dengan lebih dari 40 institusi keuangan, sementara 17 institusi first mover mulai menjalankan pengujian transaksi langsung. 

Di Eropa, ECB juga menyiapkan langkah untuk berinvestasi pada sekuritas tokenisasi berbasis DLT menggunakan sebagian kecil portofolio dananya, memperlihatkan bahwa eksperimen mulai menyentuh level bank sentral. 

Rangkaian langkah tersebut membuat cerita tokenisasi terhubung. Infrastruktur, regulator, bank, dan pasar modal perlahan bergerak ke arah yang sama, meski kecepatan implementasinya tetap berbeda-beda. 

Dari Treasury sampai Kripto, Collateral On-Chain Makin Luas

Perluasan itu mulai terlihat dari US Treasury. Citi saat ini tengah mengembangkan model yang memungkinkan treasury direpresentasikan sebagai token RWA, sehingga nilainya dapat dipindahkan selama 24 jam tanpa memindahkan aset dasarnya.

BACA JUGA:  Trading Emas Meledak di Gate, Kuasai 54 Persen Volume TradFi

Dari sana, konsep yang sama bisa diperluas ke aset lain. Citi melihat obligasi pemerintah, ekuitas, money market fund, hingga kripto berpeluang masuk ke multi-asset margin pool berbasis blockchain.

Tokenized money market fund menjadi salah satu contoh paling menarik. Sekitar 35 persen perusahaan diperkirakan ingin menggunakannya sebagai collateral pada 2027 karena menggabungkan mobilitas, yield, dan kemampuan untuk diprogram.

Aset yang Paling Banyak Dipertimbangkan Institusi untuk Ditokenisasi - Citi
Aset yang Paling Banyak Dipertimbangkan Institusi untuk Ditokenisasi – Citi

Arah tersebut sejalan dengan tren RWA yang sebelumnya disorot Binance sebagai “Activation Era”, ketika aset tokenisasi mulai digunakan untuk pinjaman, perdagangan, dan collateral, bukan sekadar diterbitkan lalu disimpan.

Dengan arah itu, babak tokenisasi berikutnya tampaknya bukan lagi soal berapa banyak aset yang berhasil dibawa on-chain. Fokusnya mulai bergeser pada seberapa produktif aset tersebut setelah berada di blockchain.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait