CLARITY Act Bisa Ubah Arah Bitcoin, Ini Tandanya

Rencana pembahasan CLARITY Act oleh Komite Perbankan Senat AS pada hari Kamis mendatang (15/1/2026) dinilai berpotensi mengubah posisi Bitcoin dalam kerangka regulasi keuangan AS.

Meski harga Bitcoin cenderung stabil, data on-chain menunjukkan adanya pergeseran perilaku pasar yang mengarah pada pola kepemilikan jangka panjang dan meningkatnya peran investor institusional.

Analis on-chain XWIN Research Japan di CryptoQuant menilai bahwa momentum ini bukan sekadar isu kebijakan, melainkan sinyal awal dari perubahan struktural di pasar Bitcoin.

“Data on-chain menunjukkan bahwa pasar tidak bereaksi defensif terhadap proses legislasi ini,” ungkap XWIN Research Japan.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Bitcoin netflow

Indikator Exchange Netflow memperlihatkan arus masuk BTC ke bursa tetap terbatas, berbeda dengan pola historis saat ketidakpastian regulasi biasanya memicu aksi jual.

BTC SOPR

Selain itu, metrik Spent Output Profit Ratio (SOPR) berada di sekitar atau sedikit di bawah angka 1, menandakan aktivitas ambil untung relatif rendah dan pergerakan koin yang minim di jaringan.

“Investor tampak memilih menahan Bitcoin sambil menunggu kejelasan regulasi,” ungkap XWIN Research Japan, menegaskan bahwa pasar saat ini lebih bersikap menunggu daripada bereaksi agresif.

BACA JUGA:  Bitcoin Masih Seret, Modal Parkir di Stablecoin

Sinyal Institusionalisasi dari Data On-Chain Bitcoin

CLARITY Act dipandang sebagai upaya untuk mengintegrasikan Bitcoin ke dalam sistem keuangan AS sebagai komoditas digital yang diatur. XWIN menilai, sebelum terjadi pergerakan harga besar, data on-chain sudah mencerminkan proses institusionalisasi tersebut.

Minimnya aliran Bitcoin ke bursa menunjukkan bahwa pelaku pasar tidak menganggap pembahasan RUU ini sebagai risiko jangka pendek. Sebaliknya, mereka terlihat menahan aset dan memperpanjang horizon investasi.

SOPR yang berada di sekitar level impas juga mengindikasikan bahwa sebagian besar transaksi on-chain tidak didorong oleh keinginan merealisasikan keuntungan. Aktivitas ini mencerminkan sikap “hold” yang lebih dominan dibandingkan pola spekulatif jangka pendek.

Menurut XWIN Research Japan, kondisi tersebut membuat Bitcoin semakin “sticky” atau jarang berpindah tangan. Hal ini menandakan pergeseran dari perdagangan berbasis momentum menuju pola kepemilikan yang lebih menyerupai standar investor institusional.

“Bitcoin mulai menunjukkan karakteristik aset yang lebih matang, bukan sekadar instrumen spekulasi,” tulis XWIN Research Japan.

BACA JUGA:  Modal Kabur dari Bitcoin, Investor Lari ke Emas dan Saham AS

Tekanan Distribusi dari Pemegang Jangka Panjang

Di sisi lain, analis CryptoZ mencatat adanya perubahan perilaku dari kelompok pemegang jangka panjang atau long-term holder (LTH). Data menunjukkan LTH BTC kembali masuk ke fase distribusi, dengan net position change yang bergerak agresif ke zona merah.

“Para pemegang jangka panjang kembali melakukan distribusi besar-besaran, dengan perubahan posisi bersih yang secara agresif mendorong posisi ke zona merah,” tulis CryptoZ.

Ia menilai pola ini biasanya muncul pada fase akhir siklus, ketika pemegang berkeyakinan tinggi mulai merealisasikan keuntungan.

BTC LTH

Yang membuat fase ini menonjol adalah kekuatan harga Bitcoin yang masih bertahan di atas level support makro, meskipun tekanan distribusi meningkat. CryptoZ menilai pasar sejauh ini mampu menyerap pasokan dari LTH secara lebih efisien dari perkiraan.

Secara historis, periode distribusi besar dari LTH sering menjadi pendahulu perubahan tren besar. CryptoZ menilai ada dua kemungkinan skenario, yaitu pasar bersiap untuk pemulihan kuat setelah tekanan pasokan mereda, atau memasuki fase pendinginan yang lebih dalam dengan distribusi berlanjut ke kantong likuiditas.

BACA JUGA:  Akan Stake 70.000 ETH, Ini Strategi Baru Ethereum Foundation

Arah Selanjutnya Ditentukan Daya Serap Pasar

Pergerakan Bitcoin berikutnya sangat bergantung pada kemampuan pembeli menyerap pasokan yang dilepas LTH.

Jika aliran masuk kembali menguat atau distribusi melambat, BTC berpeluang mencoba mengembalikan momentum. Namun, jika tekanan jual berlanjut tanpa diimbangi permintaan yang cukup, volatilitas diperkirakan meningkat.

CryptoZ menegaskan bahwa keseimbangan antara pasokan dan permintaan akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah pasar.

Sementara itu, dari sisi regulasi, CLARITY Act dinilai dapat memperjelas status Bitcoin dalam sistem keuangan AS. Kejelasan ini berpotensi menarik lebih banyak partisipasi institusional, sejalan dengan sinyal on-chain yang menunjukkan pergeseran menuju pola kepemilikan jangka panjang.

XWIN Research Japan menilai bahwa proses ini sedang berlangsung, bahkan sebelum regulasi resmi disahkan.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia