Co-Founder Zcash Sebut Batas Supply 21 Juta Bitcoin Perlu Diubah

Selama ini, batas maksimal 21 juta Bitcoin (BTC) menjadi salah satu fondasi utama yang membedakannya dari mata uang fiat. Kelangkaan tersebut membuat Bitcoin kerap dijuluki sebagai digital gold.

Namun, pandangan itu kembali diperdebatkan setelah Co-Founder Zcash, Eli Ben-Sasson. Ia mengusulkan perubahan kebijakan moneter Bitcoin. Gagasannya pun memicu diskusi baru mengenai masa depan BTC.

Eli Ben-Sasson Nilai Supply Tetap BTC Bisa Jadi Masalah

Perdebatan bermula dari unggahan Eli Ben-Sasson di X pada Selasa (08/07/2026). Menurut Co-Founder Zcash tersebut, membatasi pasokan Bitcoin di angka 21 juta tidak lagi masuk akal untuk jangka panjang.

“Membatasi pasokan Bitcoin di angka 21 juta tidak masuk akal. Seiring waktu, kunci akan hilang. Bahkan, jika waktu berjalan tanpa batas, semua kunci pada akhirnya akan hilang,” jelasnya.

Ben-Sasson berpendapat jumlah Bitcoin yang dapat digunakan akan menyusut. Bukan karena dijual atau dibakar, melainkan akibat banyaknya pengguna yang kehilangan akses terhadap private key.

Menurutnya, kondisi tersebut akan terus terjadi selama jaringan Bitcoin beroperasi. Karena itu, ia mendukung kebijakan moneter baru yang tetap memiliki batas jelas, tetapi tidak membatasi total pasokan BTC secara absolut.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Siap Meledak? Pola Ini Buka Jalan ke US$108.000

“Saya sangat mendukung kebijakan moneter yang jelas dengan batas atas yang absolut terhadap jumlah Bitcoin di masa depan. Misalnya, tetapkan tingkat penerbitan maksimum sekitar 4 persen per tahun,” tambahnya.

Menurut Ben-Sasson, mekanisme tersebut akan memastikan jumlah Bitcoin tetap mencukupi pada masa depan. Ia juga menilai persoalan keamanan jaringan akan menjadi tantangan besar yang belum diperhitungkan dalam usulannya.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Mengapa Satoshi Memilih Angka 21 Juta Bitcoin?

Pandangan tersebut tentu bertolak belakang dengan filosofi yang sejak awal dibangun oleh Satoshi Nakamoto. Sejak Bitcoin diluncurkan pada 2009, batas maksimal 21 juta BTC telah menjadi bagian dari protokol untuk menciptakan kelangkaan digital.

Menariknya, Satoshi Nakamoto tidak pernah memberikan alasan pasti mengapa batas pasokan Bitcoin ditetapkan sebanyak 21 juta BTC. Ia hanya menjelaskan bahwa jumlah tersebut dipilih sejak awal dan tidak dapat diubah setelah jaringan berjalan.

“Mengenai jumlah koin dan distribusinya merupakan perkiraan pada educated guess. Ini adalah keputusan yang sulit karena begitu jaringan berjalan, aturannya terkunci dan tidak mudah diubah,” jelas Satoshi dalam korespondensinya dengan pengembang Bitcoin, Martti Malmi.

BACA JUGA:  Michael Saylor Akhiri Era HODL? Strategy Kini Bisa Jual Bitcoin
Penjelasan Satoshi Nakamoto Soal Suplai Maksimal Bitcoin
Penjelasan Satoshi Nakamoto Soal Suplai Maksimal Bitcoin

Dalam pesan yang sama, Satoshi menjelaskan bahwa angka tersebut dipilih sebagai titik tengah. Jika Bitcoin hanya digunakan oleh komunitas kecil, nilainya akan relatif rendah. Namun, jika diadopsi secara global, setiap BTC akan bernilai jauh lebih tinggi.

Bagi Satoshi, yang terpenting bukanlah angka 21 jutanya, melainkan kepastian bahwa pasokan Bitcoin memiliki batas yang tidak dapat diubah secara sepihak. Dengan begitu, siapa pun dapat memprediksi jumlah BTC yang akan beredar.

Prinsip tersebut diperkuat melalui mekanisme halving. Setiap 210.000 blok atau empat tahun, imbalan penambang dipangkas setengah sehingga laju penerbitan Bitcoin terus melambat hingga diperkirakan berakhir pada 2140.

Pendekatan ini menjadi pembeda Bitcoin dibanding mata uang fiat. Berbeda dengan uang yang dapat dicetak bank sentral, pasokan Bitcoin telah diprogram sejak awal dan hanya dapat diubah melalui konsensus mayoritas jaringan.

Saat Kelangkaan BTC Kembali Jadi Perdebatan

Meski menuai perhatian, argumen Ben-Sasson bukan hal baru di kalangan komunitas Bitcoin. Selama bertahun-tahun, Fortune sebelumnya mengungkap setidaknya 4 juta BTC telah hilang hilang akibat private key yang lenyap atau dompet yang tidak lagi bisa diakses.

BACA JUGA:  CEO Galaxy Digital: Bitcoin Bisa Jatuh ke US$45.000 karena Strategy

Artinya, jumlah Bitcoin yang benar-benar beredar kemungkinan sudah lebih sedikit dibanding total BTC yang telah ditambang. Fenomena inilah yang menjadi dasar pemikiran Ben-Sasson bahwa pasokan efektif Bitcoin akan terus menyusut seiring waktu.

Jumlah Bitcoin yang Mungkin Telah Hilang Selamanya - Fortune
Jumlah Bitcoin yang Mungkin Telah Hilang Selamanya – Fortune

Di sisi lain, pendukung Bitcoin justru melihat kondisi tersebut sebagai kekuatan utama aset ini. Semakin langka, semakin kuat pula narasi bahwa BTC merupakan aset dengan kelangkaan yang tidak bisa ditiru oleh sistem keuangan tradisional.

Karena itu, usulan untuk mengubah batas pasokan 21 juta BTC diperkirakan sulit memperoleh dukungan. Selain membutuhkan konsensus mayoritas, perubahan tersebut juga berpotensi mengubah salah satu prinsip fundamental yang selama ini menjadi identitas Bitcoin.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait