CoinDCX Akui Kehilangan 15,99 Juta USDT, Sistem Wallet Lama Gagal

Bursa kripto asal India, CoinDCX, mengakui kehilangan 15,99 juta USDT setelah sistem otomatis yang bertugas memindahkan dana dari alamat dompet lama mengalami kegagalan. Dana tersebut sebelumnya terkumpul di infrastruktur wallet yang telah dinonaktifkan menyusul insiden keamanan pada Juli 2025.

Pengakuan itu disampaikan melalui pernyataan resmi CoinDCX pada Minggu (25/10/2026), setelah perusahaan melakukan penyelidikan terhadap aktivitas transaksi mencurigakan yang kali pertama terdeteksi pada 21 Oktober.

CoinDCX menyatakan seluruh kerugian ditanggung oleh perusahaan. Pihaknya juga menegaskan bahwa saldo pelanggan, sistem perdagangan aktif, serta layanan deposit dan penarikan tidak terdampak oleh kejadian tersebut.

Perkembangan ini mendapat perhatian karena alamat yang terdampak masih menerima deposit meskipun telah dinyatakan tidak digunakan. Penelusuran blockchain bahkan menemukan sebagian besar dana yang hilang berasal dari satu alamat yang menyimpan USDT selama berbulan-bulan.

Kegagalan Sistem Pemindahan Dana di Wallet Lama

Menurut penjelasan CoinDCX, perusahaan mendeteksi aktivitas tidak biasa dalam sistemnya pada 21 Oktober. Mekanisme keamanan dan tindakan penanganan awal disebut berhasil mencegah gangguan terhadap infrastruktur wallet serta perdagangan yang masih aktif.

Namun, sehari kemudian, pemeriksaan data blockchain dan laporan komunitas memperlihatkan adanya perpindahan dana tidak wajar dari infrastruktur dompet lama.

Penyelidikan internal menemukan bahwa layanan automated sweeping, yakni sistem yang secara otomatis memindahkan aset dari alamat deposit ke wallet utama, tidak berfungsi selama periode tertentu.

BACA JUGA:  3 Kripto Ini Diprediksi Breakout Minggu Ini, Mana Altcoin Paling Menarik?

Kegagalan tersebut menyebabkan deposit pengguna terakumulasi pada alamat yang sebelumnya telah dinyatakan tidak aktif dan masih memiliki kerentanan keamanan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

“Hal ini mengakibatkan kerugian sebesar 15,99 juta USDT yang ditanggung oleh perusahaan,” ungkap CoinDCX dalam keterangannya.

Perusahaan menjelaskan bahwa sebagian pengguna masih mengirimkan aset ke alamat deposit lama, meskipun sebelumnya sudah diminta menggunakan alamat baru yang tersedia di aplikasi.

Untuk menangani transaksi semacam itu, CoinDCX menerapkan dua proses terpisah.

Pertama, dana yang diterima pada alamat lama langsung dicatat sebagai saldo pengguna. Kedua, sistem otomatis memindahkan aset tersebut menuju wallet utama yang lebih aman.

Dengan mekanisme ini, pengguna tetap memperoleh kredit saldo tanpa harus menunggu proses pemindahan aset selesai. Akan tetapi, ketika sistem pemindahan gagal beroperasi, aset yang seharusnya diteruskan justru tertahan di alamat lama.

CoinDCX belum merinci berapa lama kegagalan sistem tersebut berlangsung maupun penyebab teknis yang membuat mekanisme pemindahan dana berhenti bekerja.

Perusahaan menyatakan akan memperkuat pemantauan terhadap infrastruktur lama dan meningkatkan pengingat kepada pengguna mengenai pentingnya memperbarui alamat deposit.

Jejak 15,99 Juta USDT: Sebagian Dana Dibekukan Tether

Temuan tambahan muncul dari investigasi on-chain Bitquery, yang menelusuri transaksi USDT pada jaringan TRON terkait insiden CoinDCX.

Berdasarkan pemeriksaan transaksi hingga 23 Oktober, Bitquery mengidentifikasi aliran keluar sekitar 15,99 juta USDT dari 40 wallet yang dikaitkan dengan CoinDCX pada 21 Oktober.

BACA JUGA:  OJK Ungkap 5 Insiden di Ekosistem Kripto RI, Rekening Dibekukan dan Dana Diupayakan Pulih

Sebanyak 15,82 juta USDT, atau hampir seluruh nilai kerugian, berasal dari satu alamat deposit yang diawali TQKJQ.

Menurut Bitquery, alamat tersebut menerima 88 deposit dalam rentang akhir Januari hingga Maret 2026. Dana yang terkumpul tidak dipindahkan ke wallet utama dan tetap berada di alamat tersebut hingga perpindahan mencurigakan terjadi pada Oktober.

Penyelidikan juga menemukan bahwa sejumlah wallet yang disebut sebagai bagian dari infrastruktur lama masih digunakan untuk memproses deposit setelah insiden Juli 2025.

Temuan ini memperlihatkan adanya perbedaan antara status penonaktifan wallet menurut perusahaan dan aktivitas yang tercatat di blockchain.

Bitquery kemudian melacak pergerakan dana setelah aset meninggalkan alamat yang terkait dengan CoinDCX.

Sekitar 9,63 juta USDT teridentifikasi masuk ke alamat deposit yang dikaitkan dengan tiga bursa kripto, yakni OKX, Binance dan Gate, dalam waktu sekitar 18 jam setelah transaksi utama.

Dari jumlah tersebut, sekitar 5,46 juta USDT terlacak menuju OKX, 2,77 juta USDT ke Binance, dan 1,39 juta USDT ke Gate.

Meski demikian, aliran dana menuju alamat bursa tidak dengan sendirinya membuktikan keterlibatan platform tersebut dalam pencurian. Data itu juga tidak menunjukkan bahwa dana telah berhasil dipulihkan.

Bitquery turut mengidentifikasi pembekuan 2.212.850 USDT pada sembilan alamat di jaringan TRON oleh penerbit stablecoin Tether pada 22 Oktober.

BACA JUGA:  Ngawur! Pelaku Penipuan Kripto Malah Tawarkan Jasa Pengembalian Uang Korban

Pembekuan tersebut membatasi perpindahan token dari alamat terkait, tetapi tidak dapat langsung dianggap sebagai pengembalian dana kepada CoinDCX.

Bitquery menegaskan bahwa catatan blockchain tidak dapat memperlihatkan saldo internal pengguna maupun memastikan siapa yang menandatangani transaksi mencurigakan. Oleh karena itu, klaim keamanan dana pelanggan masih bergantung pada informasi dan pencatatan internal perusahaan.

Insiden terbaru ini terjadi sekitar 15 bulan setelah CoinDCX mengalami serangan keamanan pada Juli 2025.

Dalam laporan insiden tertanggal 20 Juli 2025, CoinDCX mengungkap bahwa salah satu akun operasional internal yang digunakan untuk menyediakan likuiditas di bursa mitra telah disusupi. Kerugian pada kejadian tersebut mencapai sekitar US$44 juta.

Saat itu, CoinDCX juga menyatakan bahwa aset pelanggan tidak terdampak karena disimpan terpisah dari akun operasional perusahaan.

Dalam perkembangan terbaru, CoinDCX kembali menegaskan bahwa seluruh saldo deposit pelanggan telah diperhitungkan, sementara sistem perdagangan maupun penarikan tetap berjalan normal.

Perusahaan turut mengingatkan pengguna agar selalu memeriksa alamat deposit terbaru melalui aplikasi atau situs resminya sebelum melakukan pengiriman aset kripto.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait