CoinShares: Ancaman Komputer Kuantum ke Bitcoin Masih Jauh

Laporan terbaru dari CoinShares pada Jumat (6/2/2026) menyebutkan bahwa ancaman komputer kuantum terhadap keamanan Bitcoin saat ini masih berada dalam kategori risiko yang dapat dikelola dan belum masuk zona bahaya.

Perusahaan manajer aset digital tersebut menilai bahwa meskipun secara teori teknologi kuantum dapat mengancam sistem kriptografi Bitcoin, risiko praktisnya masih jauh dari kondisi darurat.

CoinShares menjelaskan bahwa potensi ancaman berasal dari kemampuan algoritma Shor pada komputer kuantum yang secara teoritis mampu memecahkan sistem tanda tangan digital Bitcoin, seperti ECDSA dan Schnorr.

Jika teknologi tersebut telah matang, private key dapat diturunkan dari public key. Namun, hingga kini, kapasitas komputer kuantum global masih belum mendekati level yang dibutuhkan untuk melakukan serangan secara efektif.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Dalam laporan itu, CoinShares juga mencatat bahwa sekitar 1,6 juta BTC atau setara 8 persen dari total pasokan berada di alamat lama jenis Pay-to-Public-Key (P2PK) yang menampilkan public key secara terbuka. Alamat-alamat ini dianggap paling rentan terhadap potensi serangan kuantum.

BACA JUGA:  VP Indodax Singgung Beli Bitcoin Bertahap Usai Jatuh Pasca FOMC

Meski demikian, hanya sekitar 10.200 BTC yang berada dalam UTXO berukuran besar dan berpotensi menimbulkan gangguan pasar apabila dicuri.

“Berdasarkan kondisi teknologi saat ini, ancaman komputer kuantum terhadap Bitcoin masih bersifat jangka panjang dan belum menjadi risiko sistemik,” tulis CoinShares dalam laporannya.

Laporan tersebut dipublikasikan pada awal 2026 dan menjadi rujukan utama bagi pelaku industri kripto global dalam menilai kesiapan jaringan Bitcoin menghadapi perkembangan teknologi komputasi tingkat lanjut.

Risiko Terbatas pada Alamat Lama

CoinShares mengungkapkan bahwa mayoritas Bitcoin yang berpotensi terdampak ancaman kuantum tersebar dalam unit kecil di berbagai alamat lama. Kondisi ini membuat upaya peretasan secara massal menjadi tidak efisien dari sisi biaya maupun waktu.

Untuk meretas satu per satu alamat kecil, dibutuhkan sumber daya komputasi yang sangat besar dan tidak sebanding dengan potensi keuntungan.

Selain itu, sebagian besar pengguna Bitcoin saat ini telah menggunakan format alamat yang lebih modern, seperti P2PKH, P2SH dan Taproot, yang tidak langsung menampilkan public key sebelum transaksi dilakukan. Format ini dinilai lebih aman dari potensi eksploitasi berbasis komputasi kuantum.

BACA JUGA:  RSI Bitcoin Capai Level Terendah Sejak 2022, BTC Masuki Fase Kritis?

CoinShares juga menyoroti bahwa sistem hash SHA-256 yang menjadi fondasi proses mining dan keamanan jaringan Bitcoin masih relatif kuat menghadapi ancaman kuantum. Meskipun algoritma Grover secara teori dapat mempercepat pencarian hash, dampaknya belum cukup signifikan untuk membahayakan jaringan secara keseluruhan.

Dalam konteks mitigasi jangka panjang, komunitas kripto global juga mulai mengamati perkembangan kriptografi pasca-kuantum yang tengah distandarisasi oleh National Institute of Standards and Technology.

Standar tersebut dirancang untuk menghadapi era komputer kuantum, meski penerapannya dalam sistem Bitcoin masih membutuhkan kajian teknis mendalam.

Strategi Antisipasi dan Tantangan Teknis

Sebagai langkah pencegahan, CoinShares menyarankan agar pemilik Bitcoin yang masih menyimpan aset di alamat lama segera memindahkannya ke alamat yang lebih aman. Migrasi ini dinilai sebagai langkah paling realistis dalam jangka menengah untuk mengurangi eksposur terhadap risiko kuantum.

BACA JUGA:  Hyperliquid Policy Center Hadir di Washington, Didukung 1 Juta HYPE

Namun, laporan tersebut juga mengingatkan bahwa perubahan protokol Bitcoin secara tergesa-gesa justru dapat menimbulkan masalah baru. Pembaruan besar melalui soft fork atau hard fork tanpa persiapan matang berpotensi menciptakan celah keamanan, gangguan jaringan, hingga konflik di dalam komunitas.

“Setiap pembaruan besar harus dilakukan secara bertahap, berbasis riset dan melalui konsensus luas komunitas,” tulis CoinShares dalam analisisnya.

Dari sisi waktu, para analis memperkirakan bahwa komputer kuantum yang mampu mengancam sistem kriptografi Bitcoin secara nyata baru mungkin muncul dalam satu hingga dua dekade mendatang. Rentang waktu ini dinilai cukup bagi pengembang, peneliti dan pelaku industri untuk menyiapkan solusi teknis yang memadai.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia