Apa Itu Crypto Bubble? Ini Pengertian dan Cara Mudah Menghindarinya!

Crypto bubble adalah kondisi ketika harga aset kripto naik terlalu cepat karena spekulasi dan hype, lalu anjlok tajam ketika pasar menyadari nilainya tidak sebanding dengan kenyataan. Yuk, pelajari lebih lanjut dan cari tahu cara menghindarinya di bawah ini!

BACA JUGA: Apa Itu Tokenisasi Aset? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya!

Apa Itu Crypto Bubble?

Saat kamu mendengar istilah crypto bubble, bayangkan sebuah balon yang terus ditiup oleh ekspektasi, hype, dan spekulasi. Harganya melonjak bukan karena teknologi atau utilitasnya berkembang, tetapi karena pasar terlalu optimis dan ikut-ikutan. Sampai akhirnya, seperti balon, gelembung itu pecah, dan harga jatuh dalam waktu singkat.

Fenomena seperti ini bukan hal baru di dunia kripto. Setiap siklus bull market hampir selalu menghadirkan euforia yang membuat banyak investor masuk tanpa riset, berharap profit besar secepat mungkin.

IKLAN
Chat via WhatsApp
BACA JUGA:  7 Prompt ChatGPT Terbaru 2026 untuk Trading Kripto, Wajib Coba!

Penyebab Crypto Bubble

Penyebab crypto bubble berasal dari kombinasi euforia pasar, spekulasi berlebihan, dan masuknya investor yang membeli tanpa melihat fundamentalnya. Melansir laman Koinly, yuk simak penyebab-penyebab utamanya berikut ini.

1. Masuknya Banyak Investor Baru

Ketika cerita profit besar menyebar, banyak investor pemula ikut masuk tanpa riset. Lonjakan pembeli ini mendorong harga naik jauh lebih cepat daripada nilai sebenarnya.

2. FOMO (Fear of missing out)

Rasa takut ketinggalan membuat banyak orang membeli hanya karena melihat harga terus naik. FOMO biasanya mempercepat inflasi harga dan memperbesar tekanan bubble.

3. Media Hype

Liputan media yang intens membuat semakin banyak orang tertarik membeli kripto tertentu. Semakin sering diberitakan, semakin kuat dorongan pasar untuk terus membeli.

4. Efek Ikut-Ikutan (Bandwagon effect)

Melihat orang lain untung besar memicu dorongan untuk ikut membeli tanpa pertimbangan logis. Akibatnya, semakin banyak orang masuk di harga tinggi, yang justru memperbesar risiko ketika bubble pecah.

BACA JUGA:  5 Kesalahan Umum dalam Staking yang Sering Dilakukan Pemula dan Cara Menghindarinya!

Sejarah Crypto Bubble

Sejarah Crypto Bubble
Timeline sejarah crypto bubble.

Sejarah crypto bubble menunjukkan bagaimana pasar kripto berkali-kali mengalami kenaikan harga ekstrem yang diikuti kejatuhan tajam karena euforia dan spekulasi. Melansir laman Webopedia, yuk simak perjalanan sejarahnya dari masa ke masanya supaya kamu tahu bagaimana pola ini berulang:

2011: Bitcoin Bubble Pertama

Pada 2011, Bitcoin masih sangat asing dan hanya dikenal oleh komunitas kecil. Namun dalam hitungan bulan, harganya melonjak dari US$1 ke US$32 karena antusiasme awal dan pemberitaan media yang membuat banyak orang penasaran.

Gelembung ini pecah secepat kenaikannya, dan Bitcoin jatuh kembali ke sekitar US$2. Kejadian ini memperlihatkan betapa rapuhnya pasar kripto di tahap awal dan bagaimana hype bisa mengalahkan fundamental.

2013–2015: Gelembung Baru dan Skandal Mt. Gox

Pada 2013, Bitcoin menyentuh rekor US$1.127 berkat optimisme besar terhadap teknologi blockchain. Tapi euforia itu runtuh setelah isu regulasi dan insiden peretasan muncul, termasuk tumbangnya Mt. Gox, exchange yang menangani lebih dari 70% transaksi Bitcoin.

Kehilangan 850.000 BTC membuat kepercayaan pasar hancur dan harga jatuh ke US$172 pada 2015. Meski begitu, Bitcoin perlahan pulih dan memberi pelajaran penting soal keamanan dan risiko menyimpan aset di platform terpusat.

BACA JUGA: Apa Itu Degen Kripto? Gaya Spekulatif yang Bisa Bikin Kaya atau Rugi Seketika

2017–2018: ICO Craze dan Runtuhnya Ribuan Proyek

Rentang 2017–2018 menjadi era ICO, di mana proyek baru bermunculan setiap hari, menawarkan token untuk layanan yang sebagian besar belum ada. Antusiasme ini mendorong kapitalisasi pasar kripto hingga lebih dari US$800 miliar.

Sayangnya, banyak ICO adalah scam atau proyek tanpa masa depan. Ketika hype memudar, pasar ambruk dan investor kehilangan miliaran dolar. Era ini menegaskan pentingnya melakukan riset mendalam sebelum membeli token baru.

2020–2022: NFT Boom, DeFi, dan Kejatuhan Terra–Luna

Pasar kembali pulih pada 2020, didorong adopsi institusional, DeFi, dan tren NFT. Bitcoin melonjak hingga mencetak ATH di US$67.566 pada akhir 2021. Namun, di balik euforia, tekanan regulasi dan kekhawatiran lingkungan mulai terlihat.

Puncaknya terjadi pada 2022 ketika Terra–Luna runtuh dan menghapus lebih dari US$45 miliar dalam seminggu. NFT juga anjlok hingga kehilangan 90 persen nilai pasar. Gelembung ini menunjukkan bahwa bahkan aset yang dianggap stabil pun bisa roboh jika fondasinya tidak kuat, sekaligus mengingatkan pentingnya manajemen risiko bagi semua investor.

BACA JUGA:  Apa Itu Web4? Ini Pengertian dan Perbandingannya dengan Web3!

Bagaimana Cara Mengetahui Crypto Bubble Sedang Terjadi?

Kamu bisa mengetahui crypto bubble sedang terjadi ketika harga aset naik tidak wajar dan didorong oleh hype, bukan oleh fundamental yang jelas. Untuk mengenalinya dengan lebih mudah, yuk kamu simak beberapa tanda paling umum yang perlu diperhatikan.

BACA JUGA: 8 Cara Investasi Crypto Jangka Pendek untuk Investor Pemula!

1. Harga Naik Secara Eksponensial

Salah satu tanda paling jelas adalah ketika harga kripto tiba-tiba meroket tanpa alasan yang masuk akal. Jika suatu aset terus naik hanya karena banyak orang membeli, bukan karena peningkatan teknologi atau adopsi nyata, itu biasanya pertanda bubble mulai terbentuk.

Dalam kondisi seperti ini, FOMO sering membuat investor ikut berlari mengejar harga tinggi, padahal kenaikan tersebut tidak didukung oleh nilai yang kuat.

2. Liputan Media Berlebihan dan Endorse Selebriti

Tweet Elon Musk Crypto Bubble
Salah satu tweet Elon Musk yang ikut membangun hype pada Dogecoin. Foto: X/elonmusk

Ketika sebuah kripto tiba-tiba dibahas di mana-mana, mulai dari berita TV hingga influencer besar, itu bisa menjadi sinyal peringatan. Liputan semacam ini sering mendorong hype yang tidak sejalan dengan kenyataan.

Banyak investor pemula akhirnya tertarik hanya karena “katanya akan naik,” bukan karena memahami proyeknya. Ketika hype menguasai pasar, risiko bubble meningkat.

3. Ledakan Proyek Baru dan ICO Frenzy

Bila muncul banyak proyek baru yang menjanjikan solusi untuk semua masalah, kamu perlu berhati-hati. Lonjakan ICO biasanya menandakan banyak pihak ingin memanfaatkan hype pasar.

Masalahnya, sebagian besar proyek ini belum terbukti dan fokusnya lebih pada mengumpulkan dana daripada membangun produk nyata. Tren seperti ini sering menjadi pemicu bubble besar.

4. Hype Berlebihan di Media Sosial

Saat linimasa penuh dengan prediksi “to the moon” atau ajakan beli cepat sebelum terlambat, bubble biasanya sedang memanas. Media sosial sering memperbesar ekspektasi yang tidak realistis dan menjerat investor pemula.

Jika semua orang tampak terlalu optimistis tanpa alasan konkret, itu saatnya kamu bersikap lebih skeptis dan kembali menilai fundamentalnya.

Cara Menghindari Crypto Bubble

Kamu bisa menghindari crypto bubble dengan membatasi risiko sejak awal, memilih aset yang lebih aman, dan tetap disiplin dalam mengelola portofolio.

Untuk membantumu memahami langkah-langkahnya, berikut cara yang paling efektif menghindari dampak bubble.

1. Tidak Perlu Memaksakan Diri untuk Punya Crypto

Cara paling sederhana untuk menghindari risiko bubble adalah dengan tidak memiliki aset crypto sama sekali. Banyak investor konservatif memilih fokus pada instrumen dengan rekam jejak panjang seperti saham atau obligasi.

Jika kamu masih ragu atau belum siap menghadapi volatilitas ekstrem, menjauh sementara dari crypto bisa menjadi pilihan yang lebih bijak.

2. Hindari Koin yang Terlalu Spekulatif

Jika kamu tetap ingin berinvestasi, pilihlah kripto yang memiliki utilitas jelas dan komunitas kuat. Menghindari meme coin atau proyek baru yang belum terbukti bisa mengurangi risiko kamu terseret hype.

Koin-koin spekulatif biasanya naik karena tren sesaat, bukan karena fundamental, sehingga potensi jatuhnya juga jauh lebih besar.

3. Batasi Persentase Crypto dalam Portofolio

Volatilitas crypto yang tinggi membuatnya penting untuk membatasi alokasi dalam portofolio. Banyak investor menyarankan agar porsi crypto hanya beberapa persen saja dari total aset.

Jika porsinya sudah lebih dari 5 persen, kamu bisa mempertimbangkan rebalancing agar risiko tetap terkendali. Pendekatan ini membantu kamu bertahan meski pasar tiba-tiba koreksi tajam.

BACA JUGA:  Mengenal Hal Finney: Sang Legenda Bitcoin dan Warisannya!

Jadi, bagaimana kamu akan menghadapi potensi crypto bubble ke depannya?

Crypto bubble adalah fase alami dalam perkembangan teknologi baru: naik cepat, dipenuhi ekspektasi berlebihan, lalu jatuh ketika hype tidak lagi sejalan dengan kenyataan. Dari bubble Bitcoin 2011 hingga NFT boom 2022, pola psikologis pasar selalu berulang dan sering menjebak investor yang terbawa euforia.

Dengan memahami tanda-tandanya lebih awal, membatasi risiko, dan tetap rasional dalam mengambil keputusan, kamu bisa menghadapi pasar kripto dengan lebih cerdas dan tidak mudah terguncang oleh gejolak harga.

Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia