Kartu kripto kini berubah dari sekadar alat bagi trader dan investor menjadi metode pembayaran yang dekat dengan aktivitas sehari-hari. Tren ini terlihat dari meningkatnya penggunaan crypto card di berbagai kondisi pasar.
Menariknya, lonjakan transaksi terjadi saat harga Bitcoin berfluktuasi. Hal ini mengindikasikan bahwa aset kripto mulai dimanfaatkan sebagai alat pembayaran praktis, bukan hanya sebagai instrumen investasi atau spekulasi.
Aktivitas Crypto Card Melesat, Tak Lagi Bergantung Harga Bitcoin
Tren baru mulai terlihat di industri aset digital. Head of Research di Utexo, Alex Obchakevich, mengungkapkan bahwa crypto card kini semakin dekat dengan aktivitas pembayaran harian masyarakat.
Melalui analisis yang diunggah pada Sabtu (13/06/2026), Alex meneliti 76 pekan transaksi dari 16 layanan crypto card sepanjang Januari 2025 hingga Juni 2026 dan menemukan perubahan perilaku pengguna yang cukup mencolok.
Menariknya, lonjakan aktivitas tersebut tidak memiliki korelasi dengan harga Bitcoin. Artinya, masyarakat tetap memanfaatkan aset kripto untuk bertransaksi sehari-hari, baik saat pasar sedang bullish maupun bearish.
“Aktivitas penggunaan kartu kripto terus meningkat tanpa dipengaruhi pasar. Transaksinya telah melonjak hingga 2,7 kali lipat. Korelasinya dengan harga BTC nyaris nol, sehingga masyarakat tetap membelanjakan kripto setiap hari, baik saat pasar sedang bullish maupun bearish,” jelas Alex.
Fenomena ini menjadi sinyal bahwa fungsi kripto mulai bergeser dari sekadar instrumen investasi menjadi alat pembayaran yang lebih praktis. Perlahan namun pasti, aset digital mulai menemukan perannya dalam aktivitas finansial sehari-hari.
Pola Berubah, Pengguna Lebih Sering Top Up Nominal Kecil
Perubahan juga terlihat dari pola pengisian saldo crypto card. Jika sebelumnya pengguna cenderung menyimpan dana dalam jumlah besar, kini kebiasaan tersebut bergeser menjadi top up rutin sesuai kebutuhan transaksi.
“Pengguna kini lebih sering mengisi saldo dalam nominal kecil daripada menyimpan dana besar. Median deposit berada di kisaran US$90-US$135, setelah sempat menyentuh sekitar US$165 dan kembali turun ke sekitar US$100,” jelas Alex.
Grafik yang dibagikannya juga memperlihatkan tren tersebut. Sepanjang awal 2026, median deposit sempat bertahan di kisaran US$180 sebelum perlahan turun hingga kembali berada di sekitar US$90-US$110 menjelang pertengahan tahun.

Menurut Alex, salah satu penyebabnya adalah sikap hati-hati pengguna. Kekhawatiran akun diblokir atau penyedia layanan kehilangan lisensi membuat banyak orang memilih mengisi saldo seperlunya untuk kebutuhan pembayaran sehari-hari.
Perubahan perilaku juga terlihat dari distribusi nilai deposit yang semakin merata. Rasio rata-rata deposit terhadap median menurun, menandakan pengaruh transaksi besar dari kelompok crypto whale mulai berkurang dan penggunaan crypto card semakin meluas.
“Perilaku pengguna juga mulai menunjukkan pola yang stabil. Rasio rata-rata deposit terhadap median turun dari sekitar 6 kali menjadi 4 kali, menandakan pengaruh investor kakap semakin berkurang dan penggunaan kartu kripto semakin merata di masyarakat,” tambahnya.
Jika tren ini berlanjut, batas antara kripto dan sistem pembayaran konvensional semakin tipis. Bagi industri kripto, kondisi ini menjadi sinyal bahwa adopsi nyata mulai terjadi, bukan lagi sekadar mengejar kenaikan harga, tetapi hadir dalam aktivitas sehari-hari masyarakat.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


