Crypto Crash Jilid Dua? Faktor Ini Bisa Jadi Pemantiknya

Pasar kembali dilanda narasi crypto crash setelah menunjukkan tanda pemulihan. Harga Bitcoin turun ke bawah US$100.000 untuk pertama kalinya dalam empat bulan terakhir, memicu kepanikan di kalangan investor dan menekan sentimen di seluruh pasar.

Koreksi ini menekan kapitalisasi pasar crypto hingga ke bawah US$3,4 triliun. Menurut RLinda dalam analisis yang diunggah pada Kamis (6/11/2025), ada beberapa faktor yang memperkuat narasi runtuhnya pasar kripto, mulai dari melemahnya sektor AI hingga ketidakpastian ekonomi.

AI Lesu, Sentimen Crypto Crash Kian Menguat

Kelesuan di sektor AI menjadi pemicu awal koreksi di pasar kripto. Minat investor terhadap aset digital menurun seiring kekhawatiran akan “AI bubble”. Kondisi ini melemahkan keyakinan pasar bahwa teknologi masih mampu menjadi motor utama reli aset digital.

“Penghindaran risiko akibat potensi koreksi di pasar aset berbasis kecerdasan buatan (AI) turut memengaruhi industri kripto,” jelasnya.

IKLAN
Chat via WhatsApp
BACA JUGA:  Nyaris Jadi Bencana, AI Bongkar Celah Kritis di XRP Ledger

Keresahan ini sejalan dengan peringatan Michael Burry, investor legendaris yang lebih dulu menyoroti potensi koreksi tajam akibat euforia AI yang terlalu berlebihan. 

Michael Burry Update Status, Isyarat Pasar Saham Crash Seperti 2008?

Kini, efek domino dari penurunan saham teknologi mulai terasa. Bitcoin dan juga altcoin ikut terkoreksi karena investor tampaknya mulai beralih ke aset yang dianggap lebih aman, contohnya seperti emas.

Koreksi ini menjadi sinyal berakhirnya fase optimisme yang sempat mendorong Bitcoin menyentuh level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini juga memperkuat narasi crypto crash yang kembali menghantui pasar.

The Fed Ragu, Investor Ikut Bingung

Selain AI, narasi runtuhnya pasar kripto juga diperkuat oleh ketidakpastian kebijakan moneter AS. Gubernur The Fed, Jerome Powell, belum memberikan sinyal tegas mengenai arah kebijakan likuiditas ke depan.

BACA JUGA:  Sindikat E-Tilang Palsu Terbongkar, Operatornya Dibayar Pakai Kripto

Kebijakan pengetatan likuiditas dolar AS yang masih berlangsung turut mempersempit ruang gerak aset berisiko, termasuk kripto. Seiring berkurangnya suplai dolar di pasar, tekanan jual terhadap Bitcoin semakin besar.

Meski sempat terjadi rebound pada Rabu lalu, pergerakan itu belum cukup untuk mengubah tren. Tekanan kembali meningkat setelah harga BTC menembus US$100.000, yang kemudian mempercepat gelombang penjualan di berbagai crypto exchange.

Mencari Titik Balik di Tengah Ketidakpastian

Kini, nasib pasar kripto sangat bergantung pada stabilisasi di pasar saham, khususnya saham teknologi, serta kejelasan langkah The Fed terkait kebijakan likuiditas. Jika sinyal positif tidak muncul, pasar berpotensi melanjutkan fase koreksi dalam beberapa pekan mendatang.

Jika The Fed Pangkas Suku Bunga, Begini Bakal Nasib Dolar, Emas, dan Bitcoin

RLinda menilai bahwa menjaga harga Bitcoin tetap berada di atas level psikologis menjadi kunci utama untuk mencegah tekanan lebih lanjut yang dapat berdampak pada seluruh pasar kripto.

BACA JUGA:  4 Proyek Kripto RI yang Sempat Booming, Kini Tinggal Kenangan?

“Pergerakan selanjutnya bergantung pada stabilisasi pasar saham teknologi serta sinyal yang jelas dari The Fed mengenai likuiditas di masa depan. Pasar kripto rentan, dan menjaga Bitcoin di atas US$95.000 menjadi hal krusial untuk mencegah koreksi,” jelasnya.

Jika mampu bertahan, peluang pemulihan pasar kripto secara bertahap masih terbuka. Namun jika kembali menembus ke bawah, gelombang jual lanjutan berpotensi memperkuat narasi crypto crash yang kini menghantui investor. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia