Kasus dugaan drainer yang menimpa pengguna Ledger di Asia Tenggara kini ikut menyeret nama CryptoBilis.
Reseller hardware wallet tersebut disorot setelah sejumlah pembelinya dilaporkan kehilangan dana, sementara Ledger masih menelusuri apa yang sebenarnya terjadi.
Kasus ini terasa semakin dekat dengan pengguna Indonesia. CryptoBilis ternyata punya jejak yang cukup jelas di Tanah Air, mulai dari situs resmi, akun marketplace, media sosial, hingga alamat toko di Jakarta.
CryptoBilis Masuk dalam Investigasi Ledger
Ledger sebelumnya mengkonfirmasi lewat sebuah tweet di X pada Jumat (09/10/2026) bahwa pihaknya sedang menyelidiki laporan kehilangan dana yang dialami pengguna di Asia Tenggara setelah membeli perangkat melalui CryptoBilis.
“Ledger sedang menyelidiki laporan kehilangan dana dari pengguna di Asia Tenggara yang membeli produk melalui reseller bernama CryptoBilis,” tutur mereka.
Dompet Kripto Ledger Disusupi Alat Pengintai? Eks Bos Mt. Gox Ungkap Temuan
Sebagai langkah pencegahan, Ledger juga meminta CryptoBilis menghentikan sementara penjualan dan pengiriman perangkat selama investigasi berlangsung.
Skala kasusnya tidak kecil. Laporan sebelumnya menyebut banyak pengguna Ledger yang membeli perangkat melalui CryptoBilis mengalami kehilangan dana, dengan total kerugian yang mendekati US$90 juta.
Bukan Sekadar Reseller, CryptoBilis Hadir di Indonesia
Yang membuat kasus ini terasa lebih dekat adalah jejak CryptoBilis yang ternyata cukup kuat di Indonesia. Bukan hanya lewat situs resmi, reseller hardware wallet ini juga hadir di marketplace lokal dan memiliki alamat di Jakarta.
Pada akun Instagram resminya, CryptoBilis Indonesia secara terbuka memperkenalkan diri sebagai reseller hardware wallet resmi di Tanah Air.
Situsnya juga menampilkan produk Ledger dan menyebut pesanan dikirim dari Jakarta. Di halaman yang sama, CryptoBilis mengklaim telah menjual 25.000 produk, memiliki lebih dari 200 mitra merek, serta hadir di lima negara.

Nama PT Crypto Bilis Indonesia juga tercantum pada bagian bawah situs sebagai bagian dari CryptoBilis International. Sementara di Google Maps, CryptoBilis Indonesia tercatat berada di kawasan The Mansion Bougenville Tower Fontana, Kemayoran, Jakarta Utara.
Jangkauannya di Indonesia juga terlihat dari Tokopedia. Tokonya tercatat memiliki rating 5,0 dari lebih dari 700 ulasan, membukukan lebih dari 2.400 produk terjual, dan menawarkan Ledger, Trezor, Tangem, SafePal hingga OneKey.

Beberapa materi produknya memakai label “Reseller Resmi Ledger Indonesia”, sementara toko tersebut tercatat aktif di Tokopedia sejak Mei 2022. Jejak serupa juga terlihat di marketplace Shopee.
“Sebagai reseller resmi brand-brand hardware wallet, produk terbaru 100% original dan tersegel,” sebagaimana tercantum pada toko resminya.

Keterangan ini kini menjadi sangat relevan karena investigasi insiden drainer Ledger justru menyoroti kemungkinan masalah yang terjadi sebelum perangkat digunakan konsumen.
Ada Perubahan Pengelolaan CryptoBilis?
Di luar persoalan distribusi perangkat, muncul perkembangan lain yang membuat kasus ini semakin menarik.
Aravind Prabu, sosok yang sebelumnya dikaitkan dengan CryptoBilis, menyatakan bahwa dirinya sudah tidak lagi memiliki maupun mengoperasikan perusahaan tersebut karena CryptoBilis telah diakuisisi.
“Kami sudah tidak lagi memiliki atau mengoperasikan CryptoBilis. Perusahaan tersebut telah diakuisisi pada awal tahun ini,” tutur akun bernama Aravind di X, Jumat (09/10/2026).
Aravind menambahkan bahwa pihak lama telah keluar dari seluruh operasional, akses sistem, dan manajemen perusahaan.
Ia kemudian menyebut manajemen baru sebagai pihak yang kini menjalankan akun serta operasional CryptoBilis.
Pernyataan tersebut membuka pertanyaan baru mengenai siapa pihak yang mengendalikan CryptoBilis ketika insiden drainer Ledger terjadi.
Sampai sekarang, belum ada dokumen publik yang cukup untuk memastikan struktur pemilik baru, detail proses akuisisi, maupun apakah perubahan pengelolaan tersebut memiliki kaitan dengan kasus yang sedang diselidiki Ledger.
Risiko Hardware Wallet Kini Bukan Cuma soal Teknologi
Kasus CryptoBilis memperlihatkan sisi lain dari keamanan hardware wallet yang sering luput diperhatikan, yakni rantai distribusi.
Perangkat seperti Ledger memang dirancang untuk menyimpan kunci kriptografis secara terpisah, tetapi keamanannya bergantung pada kondisi perangkat sebelum sampai ke tangan pembeli.
Jika kompromi terjadi lebih awal, risiko tidak lagi hanya berasal dari malware, phishing, atau kebocoran seed phrase.
Berkaca pada Insiden Drainer Ledger, Adakah Cara Lebih Aman Menyimpan Kripto?
Distributor, reseller, penyimpanan barang, hingga proses pengiriman ikut menjadi bagian dari lapisan keamanan yang perlu diperhitungkan.
Bagi pengguna, kasus ini terasa lebih dekat karena CryptoBilis punya di RI. Karena itu, hasil investigasi Ledger akan penting untuk mengetahui apakah ada titik tertentu dalam rantai distribusi yang bermasalah.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


