Selama ini, Strategy dikenal sebagai perusahaan publik paling agresif dalam mengakumulasi Bitcoin. Di bawah kepemimpinan Michael Saylor, perusahaan terus menambah kepemilikan BTC bahkan saat pasar bergejolak.
Namun, kali ini muncul pandangan berbeda dari CryptoQuant. Firma analitik on-chain tersebut meminta Strategy menghentikan pembelian Bitcoin untuk sementara. Bukan karena prospek BTC memburuk, melainkan karena kondisi keuangan perusahaan masih rapuh.
Kas Strategy Menyusut, Kewajiban Dividen Membengkak
Lewat unggahan di X pada Rabu (24/06/2026), CryptoQuant menyoroti STRC, saham preferen perpetual milik Strategy yang kini menjadi salah satu sumber pendanaan utama perusahaan untuk terus mengakumulasi Bitcoin.
Menurut CryptoQuant, kewajiban dividen tahunan Strategy kini melonjak hampir empat kali lipat dibandingkan sebelumnya. Di saat yang sama, cadangan kas perusahaan menyusut drastis, sehingga mulai memberikan tekanan terhadap struktur keuangannya.
“Kewajiban dividen tahunan Strategy melonjak hampir empat kali lipat menjadi US$1,2 miliar, sementara cadangan kas turun 38 persen sepanjang 2026. Kemampuan perusahaan untuk menutup kewajiban dividen anjlok dari 7 tahun menjadi hanya 14 bulan,” tulis CryptoQuant.

Grafik yang dibagikan menunjukkan perubahan yang mencolok. Pada awal 2026, cadangan kas Strategy berada di kisaran US$2,2 miliar. Namun, beberapa bulan kemudian angkanya merosot tajam hingga US$870 juta, sebelum sedikit pulih ke kisaran US$1,4 miliar.
Berdasarkan perhitungan CryptoQuant, Strategy membutuhkan sekitar US$2,8 miliar dalam bentuk kas untuk mengembalikan dividend coverage ke level 24 bulan. Jumlah itu hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan cadangan kas perusahaan saat ini.
Pembelian BTC Strategy Tak Lagi Menggerakkan Pasar
Kekhawatiran serupa juga disampaikan langsung oleh pendiri sekaligus CEO CryptoQuant, Ki Young Ju. Menurutnya, strategi membeli Bitcoin secara agresif saat ini tidak lagi memberikan dampak besar terhadap harga seperti pada siklus sebelumnya.
Ia menilai pembelian Bitcoin oleh Strategy kini lebih berfungsi sebagai penyerap likuiditas pasar dibandingkan pendorong reli. Dengan tekanan jual yang tinggi, permintaan dari Strategy dianggap hanya mampu mempertahankan area harga tertentu.
“Pembelian BTC oleh Strategy saat ini lebih menyerupai penyerap likuiditas daripada katalis yang mampu mendorong kenaikan harga,” ujar Ki Young Ju di X, Rabu (24/06/2026).
Pandangan tersebut didukung oleh data yang cukup menarik. Dalam dua tahun terakhir, realized cap Bitcoin bertambah sekitar US$467 miliar. Namun di periode yang sama, harga Bitcoin justru turun sekitar 1 persen.

Menurut Ju, kondisi itu menunjukkan bahwa arus modal yang masuk ke pasar belum mampu menciptakan tren kenaikan yang kuat. Uang memang terus mengalir, tetapi hanya berpindah tangan.
“Bahkan ketika ratusan miliar dolar AS modal mengalir ke pasar, yang terjadi saat ini hanya perpindahan kepemilikan saja. Harganya tidak naik,” ujarnya.
Ia menilai akumulasi Bitcoin yang terus berlanjut justru menunda siklus pembersihan pasar, sehingga BTC bergerak sideways dalam rentang lebar selama hampir dua tahun tanpa kapitulasi maupun akumulasi ulang.
Karena itu, Ju menyarankan Strategy menghentikan sementara pembelian Bitcoin, membangun kembali cadangan kas, dan menerapkan kerangka pembelian berbasis model yang lebih disiplin daripada sekadar membeli BTC setiap kali modal tersedia.
Peter Schiff Sebut Strategy Hadapi Ancaman Baru
Di tengah kritik dari CryptoQuant, ekonom sekaligus pendukung emas Peter Schiff turut melontarkan pandangan yang tidak kalah tajam terhadap Strategy dan juga Michael Saylor.
Menurut Schiff, tekanan dari pelaku short selling terhadap MSTR bisa menciptakan situasi yang sangat tidak nyaman bagi perusahaan. Jika harga saham turun terlalu dalam, Strategy mungkin terpaksa mengambil keputusan yang selama ini dianggap tabu.
“Jika para short seller berhasil menekan harga saham MSTR cukup rendah, mereka bisa menempatkan Saylor pada posisi di mana pilihan terbaiknya adalah menjual Bitcoin untuk membeli kembali saham perusahaan,” kata Schiff di X, Rabu (24/06/2026).
Meski demikian, pandangan Schiff bersifat spekulatif dan belum tentu terjadi. Michael Saylor sendiri selama ini dikenal sangat konsisten mempertahankan strategi akumulasi Bitcoin bahkan ketika pasar menghadapi koreksi besar.
Strategy dalam Bahaya? STRC Dinilai Bisa Bernasib Seperti Terra Luna
Namun satu hal yang kini mulai menjadi perhatian banyak pihak adalah manajemen risiko. Bagi CryptoQuant, kelangkaan Bitcoin memang tetap menjadi fundamental yang kuat. Meski begitu, waktu pembelian dan pengelolaan kas tetap memiliki peran penting.
Dengan tekanan keuangan yang semakin besar, pertanyaan apakah Strategy mampu terus mempertahankan strategi akumulasi Bitcoin sekaligus menjaga nilai saham kini menjadi salah satu isu yang paling banyak diperbincangkan di pasar.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


