Pasar prediksi pemilu paruh waktu AS menghadapi sorotan setelah analisis terbaru menemukan bahwa aktivitas perdagangan ternyata sangat terkonsentrasi pada kelompok kecil trader.
Berdasarkan laporan CryptoRank pada Sabtu (22/8/2026), hanya 1 persen wallet terbesar di Polymarket Global yang tercatat menyumbang sekitar 68 persen dari seluruh volume perdagangan pada pasar pemilu Kongres AS 2026.
Temuan tersebut berasal dari Anti-Corruption Data Collective (ACDC), organisasi riset nirlaba yang menganalisis 7.466 pasar terkait pemilihan DPR dan Senat AS 2026 di Kalshi, Polymarket, dan Polymarket US.
Data yang dihimpun hingga 10 Agustus 2026 menunjukkan total taruhan untuk pemilu paruh waktu November telah mencapai US$133 juta, melampaui US$92,4 juta sepanjang siklus pemilu Kongres 2024.
Segelintir Wallet Jadi Penguasa Polymarket
Konsentrasi tidak berhenti pada kelompok 1 persen teratas. ACDC menemukan hanya 10 wallet menyumbang sekitar 17 persen dari total volume perdagangan pasar Kongres di Polymarket. Wallet-wallet tersebut juga tercatat memasang posisi pada pasar yang mencakup 426 dari 470 kursi yang diperebutkan, atau sekitar 91 persen dari seluruh kontestasi.
Di sisi lain, partisipasi pada banyak pasar masih relatif tipis. Sekitar 39.820 wallet telah berpartisipasi dalam pasar Kongres 2026 di platform tersebut. Namun, 80 persen pasar memiliki kurang dari 100 wallet yang ikut bertransaksi, sementara hanya 10 pasar yang berhasil menembus 1.000 peserta.
Kondisi itu menjadi perhatian karena harga kontrak di prediction market atau pasar prediksi kerap digunakan untuk membaca probabilitas suatu peristiwa. Ketika sebuah kontrak kandidat diperdagangkan pada tingkat tertentu, harga tersebut dapat diterjemahkan sebagai perkiraan peluang pasar terhadap hasil pemilu.
Namun, konsentrasi modal yang tinggi membuat probabilitas itu tidak selalu identik dengan pandangan kolektif dari kelompok peserta yang luas.
ACDC mencatat 87 persen pasar yang dianalisis memiliki volume rendah di bawah US$10.000 atau volume tinggi tetapi perdagangan terkonsentrasi pada sangat sedikit trader. Dalam kondisi seperti itu, masuknya modal dalam jumlah relatif kecil dapat mengubah odds yang ditampilkan pasar.
Peneliti di ACDC, Michelle Kendler-Kretsch, mengatakan bahwa cakupan prediction market telah meningkat drastis dibandingkan pemilu sebelumnya. Akan tetapi, pertumbuhan jumlah pasar tidak diikuti distribusi partisipasi yang sama luasnya.
Menurut ACDC, kombinasi antara sedikitnya peserta pada sebagian besar pasar dan dominasi trader terbesar membuat prediction market sulit diperlakukan begitu saja sebagai sinyal representatif mengenai pandangan publik.
Benarkah Odds Mewakili Suara Publik?
Temuan tersebut menjadi relevan menjelang pemilu paruh waktu AS pada 3 November 2026 yang akan menentukan kendali atas Kongres. Volume perdagangan pasar pemilu tahun ini bahkan berpotensi meningkat jauh lebih tinggi.
ACDC memperkirakan total taruhan dapat mencapai US$1,6 miliar apabila aktivitas perdagangan meningkat mengikuti pola siklus 2024.
Jumlah pasar yang tersedia juga melonjak. Platform utama telah membuka sekitar 16 kali lebih banyak pasar terkait midterm dibandingkan 2024. Pertumbuhan tersebut didorong oleh munculnya pasar yang semakin spesifik, mulai dari pemilihan primer, tingkat partisipasi pemilih, perolehan suara hingga dukungan politik dan pidato.
Meski demikian, ACDC mengingatkan bahwa harga prediction market berbeda dengan hasil survei opini publik yang menggunakan sampel dan metodologi tertentu.
Harga di Polymarket terbentuk melalui aktivitas jual-beli kontrak, sehingga trader dengan modal besar dapat memiliki pengaruh lebih besar terhadap pembentukan harga dibandingkan peserta dengan posisi kecil.
Konsentrasi tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa odds yang muncul salah atau telah dimanipulasi. Namun, ACDC menilai struktur pasar perlu diperhatikan ketika probabilitas dari prediction market digunakan oleh media, analis politik, donor atau kampanye sebagai indikator mengenai sentimen masyarakat.
Salah satu Pendiri dan Direktur ACDC, David Szakonyi, turut memperingatkan adanya risiko lain dari semakin luasnya pasar politik.
Menurutnya, pasar mengenai peristiwa seperti dukungan politik dan pidato dapat membuka peluang perdagangan berdasarkan informasi orang dalam. Odds prediction market juga berpotensi memengaruhi kepercayaan terhadap pemilu apabila hasil akhir berbeda jauh dari ekspektasi pasar.
Sorotan terhadap Polymarket muncul ketika prediction market semakin popular sebagai tempat memperdagangkan ekspektasi terhadap peristiwa dunia nyata.
Pertumbuhan volume dan jumlah pasar menunjukkan minat yang semakin besar, tetapi data terbaru ACDC menunjukkan besarnya angka perdagangan belum tentu mencerminkan luasnya jumlah peserta yang membentuk probabilitas tersebut.
Bagi pengguna yang menjadikan Polymarket sebagai salah satu indikator untuk membaca pemilu AS, temuan ini menunjukkan bahwa komposisi peserta dan distribusi volume perdagangan menjadi faktor penting untuk diperhatikan.
Odds yang terlihat sebagai konsensus pasar dapat terbentuk dari aktivitas kelompok trader yang jauh lebih kecil daripada yang tersirat dari besarnya volume perdagangan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


