Kasus dugaan pencurian kripto yang menimpa pengguna hardware wallet Ledger di Asia Tenggara memasuki babak baru. Penelusuran on-chain terbaru mengidentifikasi aliran sekitar US$10,03 juta dalam bentuk Tether (USDT) menuju sejumlah alamat deposit yang dikaitkan dengan bursa kripto Binance.
Dana tersebut terlacak melalui 195 transaksi yang berlangsung pada 10–11 Oktober 2026, setelah sebelumnya melewati serangkaian pertukaran stablecoin di jaringan TRON.
Berdasarkan investigasi on-chain YFarmX yang diperbarui pada Minggu (11/10/2026), sebanyak 10.033.658 USDT teridentifikasi mengalir dari enam dompet perantara menuju tiga alamat yang dilabeli sebagai deposit Binance.
Temuan tersebut diperoleh dari penelusuran transaksi hingga 11 Oktober pukul 19.47 WIB. Namun, atribusi alamat dan hubungan seluruh dana dengan kasus Ledger masih didasarkan pada analisis pihak ketiga, bukan kesimpulan resmi aparat penegak hukum.
Perkembangan ini menarik perhatian karena Tether sebelumnya telah membekukan sekitar US$10 juta USDT yang dikaitkan dengan insiden serupa.
Meski demikian, dana yang teridentifikasi menuju Binance merupakan aliran berbeda dari saldo yang telah dibekukan tersebut.
Kasus ini bermula dari laporan kehilangan aset pengguna Ledger yang membeli perangkat melalui reseller CryptoBilis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia dan Filipina.
Jejak USDD Berujung ke Binance, Ratusan Transaksi Terlacak
Penelusuran YFarmX menunjukkan bahwa rangkaian perpindahan aset menuju Binance tidak berlangsung secara langsung dari dompet yang dilaporkan terdampak.
Sebagian USDT yang sebelumnya dikaitkan dengan pengurasan aset terlebih dahulu dikonversi menjadi USDD, stablecoin berbasis jaringan TRON.
Konversi tersebut penting karena mekanisme pembekuan yang dimiliki Tether hanya berlaku terhadap token USDT yang diterbitkannya, bukan terhadap USDD.
Dengan demikian, ketika aset telah berubah menjadi USDD, instruksi pembekuan pada kontrak USDT tidak lagi berlaku terhadap saldo tersebut.
Menurut YFarmX, sekitar 15,23 juta USDT telah dikonversi menjadi USDD selama rangkaian perpindahan dana yang dimulai pada 9 Oktober.
Namun, aset tersebut tidak seluruhnya dipertahankan dalam bentuk USDD.
Pada Sabtu (10/10/2026), sebanyak 5,1 juta USDD tercatat ditukar kembali menjadi USDT melalui sembilan alamat sekali pakai.
Aktivitas serupa berlanjut pada Minggu (11/10/2026) ketika sekitar 7,03 juta USDD dikonversi menjadi USDT menggunakan tujuh alamat sekali pakai lainnya.
Alamat-alamat tersebut kemudian meneruskan dana menuju enam dompet TRON yang diketahui telah dibuat pada 8 Oktober, sehari sebelum pengurasan besar terdeteksi.
Dari enam dompet inilah transfer menuju alamat deposit Binance dilakukan secara bertahap.
Nilai masing-masing transfer berkisar antara 20.000 hingga 70.000 USDT, sehingga aliran dana terbagi menjadi banyak transaksi dengan nominal relatif lebih kecil.
Berdasarkan atribusi alamat pada Arkham Intelligence yang digunakan dalam investigasi, tiga alamat tujuan dikategorikan sebagai alamat deposit Binance.
Salah satu alamat tersebut juga tercatat meneruskan aset menuju dompet operasional atau hot wallet yang diatribusikan kepada bursa tersebut.
Pada 11 Oktober pukul 19.47 WIB, akumulasi transfer menuju ketiga alamat mencapai 10.033.658 USDT melalui 195 transaksi.
Dari jumlah itu, sekitar 3,27 juta USDT dalam 69 transaksi tercatat bertambah sejak pembaruan investigasi sebelumnya pada hari yang sama.
Namun, terdapat sebagian dana masuk ke dompet perantara dari alamat di luar jalur transaksi utama yang ditelusuri. Karena itu, belum seluruh nilai transfer dapat dipastikan secara independen berasal dari aset korban Ledger.
Selain itu, masuknya aset ke alamat deposit Binance tidak otomatis membuktikan bahwa dana tersebut telah dicairkan menjadi uang fiat, ditarik kembali, atau berhasil dikuasai tanpa hambatan.
Belum ada bukti bahwa Binance terlibat dalam pencurian. Temuan ini justru membuka pertanyaan mengenai kemungkinan pelacakan dan pengamanan dana ketika aset telah memasuki layanan kustodian terpusat.
Tether Bekukan US$10 Juta, Dana Lain Masih Bergerak
Perpindahan aset menuju Binance memperlihatkan kompleksitas upaya menghentikan aliran dana dalam kasus dugaan pencurian kripto lintas blockchain.
YFarmX mencatat bahwa Tether sebelumnya memasukkan sejumlah alamat ke daftar hitam pada 9 Oktober, sehingga sekitar 10.000.001 USDT tidak lagi dapat dipindahkan dari 20 dompet yang dikaitkan dengan pelaku.
Namun, pembekuan tersebut tidak berlaku terhadap aset lain yang telah dipindahkan ke jaringan atau token dengan mekanisme pengendalian berbeda.
Pada pembaruan 11 Oktober pukul 19.48 WIB, enam dompet TRON yang dikaitkan dengan pengiriman dana menuju Binance masih menyimpan sekitar 2,62 juta USDT.
Sementara itu, dua alamat lainnya tercatat menampung sekitar 3 juta USDD.
Saldo USDT tersebut secara teknis masih berada dalam jangkauan mekanisme pembekuan Tether, apabila alamat terkait ditetapkan sebagai target pembekuan.
Di jaringan Ethereum, peneliti juga mengidentifikasi sekitar 14.879 ETH yang masih berada di 12 dompet terkait, dengan estimasi nilai US$37,26 juta berdasarkan harga yang digunakan dalam investigasi.
Sebagian ETH lainnya telah diproses melalui Tornado Cash dan kemudian dikaitkan dengan transaksi menuju Zcash, yang memiliki mekanisme privasi untuk menyembunyikan rincian transaksi tertentu.
Pada saat yang sama, estimasi total kerugian berdasarkan perhitungan YFarmX meningkat menjadi sekitar US$94,5 juta dari 521 alamat pengirim di tujuh jaringan blockchain.
Angka tersebut merupakan estimasi investigasi independen, bukan nilai kerugian yang telah dikonfirmasi Ledger. Jumlah alamat juga tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah korban individu.
Di tengah perkembangan tersebut, Ledger melalui pernyataan resminya pada 10 Oktober mengonfirmasi keberadaan komponen perangkat keras tidak sah pada salah satu perangkat milik pengguna terdampak.
Perusahaan menyatakan terus menghubungi pengguna terkait, bekerja sama dengan otoritas yang berwenang, dan melanjutkan investigasi mengenai insiden tersebut.
CryptoBilis juga telah menghentikan sementara penjualan seluruh inventaris hardware wallet hingga penyelidikan selesai.
Ledger tetap menyarankan pelanggan yang membeli perangkat melalui reseller tersebut agar tidak melakukan pengaturan awal apabila perangkat belum digunakan.
Sementara bagi pengguna yang sudah mengaktifkan perangkat, perusahaan menyarankan pertimbangan pemindahan aset menuju hardware wallet baru dengan recovery phrase yang juga dibuat ulang.
Meski perangkat yang dimodifikasi telah ditemukan, belum dapat dipastikan bahwa seluruh kehilangan aset yang teridentifikasi on-chain berasal dari metode pencurian yang sama.
Temuan 195 transaksi menuju alamat deposit Binance kini menjadi perkembangan penting dalam pelacakan dana, terutama karena sebagian aset telah mencapai layanan yang secara teknis dapat membantu proses identifikasi dan pengamanan dana apabila terdapat permintaan dari otoritas berwenang.
Namun, keberhasilan pemulihan aset tetap bergantung pada identifikasi pemilik akun, status saldo, tindakan pihak terkait, serta hasil penyelidikan yang masih berlangsung.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


