Konsep Digital Asset Treasury (DAT) yang sempat menjadi tren panas di awal 2025 kini mulai menunjukkan retakannya. Apa yang dulu tampak seperti strategi cerdas untuk menghadapi inflasi kini berubah menjadi ujian nyata bagi stabilitas korporasi.
Dari Ambisi Kolektif ke Krisis Kolektif
Segalanya berawal dari langkah berani Michael Saylor lewat Strategy (MicroStrategy). Pada Agustus 2020, mereka menjadi pionir dengan menjadikan Bitcoin sebagai bagian inti dari kas perusahaan. Langkah itu dipuji sebagai terobosan finansial—menggabungkan aset digital dengan neraca korporasi konvensional.
Namun, di awal 2025, euforia berubah jadi wabah. Lonjakan harga Bitcoin memicu gelombang peniruan masif, seolah setiap perusahaan ingin ikut mencicipi “efek Saylor”. Metaplanet, yang semula dikenal sebagai pengembang hotel, ikut terjun ke arena yang sama.
Tak berhenti di situ, KindlyMD melalui merger dengan Nakamoto Holdings juga mengadopsi strategi serupa. Dalam hitungan bulan, model Digital Asset Treasury (DAT) menjelma dari inovasi menjadi kompetisi, dengan banyak perusahaan publik yang ikut mengakumulasi BTC.
Nampaknya semua ingin tampil “visioner” di mata investor, tanpa benar-benar memahami risiko di balik langkah itu. Perlombaan akumulasi Bitcoin berubah menjadi ajang adu keberanian yang berisiko tinggi.
Kini, di tengah volatilitas yang menggila, banyak perusahaan mulai goyah. Apa yang dulu disebut strategi berani kini terasa seperti langkah gegabah—dan “ambisi kolektif” itu perlahan berubah menjadi “krisis kolektif”.
DAT Mulai Goyah di Tengah Volatilitas Bitcoin
Saat ini, banyak perusahaan dengan model Digital Asset Treasury (DAT) yang memilih menempatkan dana mereka pada Bitcoin. Namun, tiga nama yang sering mencuri perhatian adalah Strategy, Nakamoto Holdings, dan Metaplanet — tiga pemain besar yang kini mulai “goyah”.
Bukan dari visi atau strateginya, melainkan dari indikator paling dasar yang mudah dipahami publik: performa harga saham. Setelah berbulan-bulan dipenuhi optimisme, berbagai DAT kini memperlihatkan tanda bahwa ekspektasi manis yang selama ini digemborkan mulai memudar.
Strategy menjadi contoh paling awal. Saham Strategy (MSTR) sempat menyentuh US$455,9 pada pertengahan Juli kini turun 33 persen menjadi US$254. Penurunan ini terjadi mengikuti harga Bitcoin yang sangat volatil dalam beberapa wakt terakhir, menandakan bahwa pasar mulai ragu terhadap efektivitas model DAT.

Kondisi lebih parah menimpa Nakamoto Holdings yang telah merger dengan KindlyMD. Saham perusahaan ini (NAKA) anjlok dari US$25,03 pada akhir Mei menjadi hanya sekitar US$0,8 pada akhir Oktober— penurunan lebih dari 54 persen dalam periode yang sama.

Metaplanet, di sisi lain, masih mencoba bertahan. Dalam periode yang sama, sahamnya (MTPLF) memang naik sekitar 5 persen dan kini diperdagangkan di kisaran US$3. Namun, angka itu masih jauh dari puncaknya di US$15 saat DAT pertama kali booming dan BTC memulai reli besarnya.

Kenaikan kecil Metaplanet pun bukan sepenuhnya organik yang datang dari publik. Dorongan utamanya berasal dari share repurchase senilai 75 miliar yen (sekitar US$500 juta) yang didukung fasilitas kredit beragunkan Bitcoin, setelah valuasi pasar perusahaan turun di bawah nilai aset bersihnya (mNAV).
Menimbang Ulang Strategi DAT
Kini, ketika volatilitas Bitcoin kembali menguji ketahanan pasar, konsep Digital Asset Treasury (DAT) tampak berada di persimpangan. Apa yang dulu dianggap sebagai inovasi kini menuntut kedewasaan strategi dan disiplin manajemen risiko.
Ke depan, perusahaan DAT yang bertahan bukanlah yang paling agresif dalam mengakumulasi Bitcoin atau aset digital lainnya, melainkan yang paling berhati-hati menyeimbangkan ambisi dan risiko. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



