XRP menunjukkan sinyal peringatan dari sisi fundamental on-chain meskipun sejumlah analis teknikal masih melihat peluang kenaikan besar dalam jangka panjang.
Data terbaru dari analis on-chain CryptoOnchain di CryptoQuant mengungkap adanya peningkatan rasio valuasi jaringan yang tidak diimbangi oleh aktivitas pasar spot maupun penggunaan jaringan yang memadai.
Dalam laporan terbarunya, CryptoOnchain mencatat rasio Network Value to Transactions (NVT) XRP naik sekitar 20,3 persen dibandingkan rata-rata tiga bulan terakhir. Kenaikan tersebut terjadi ketika harga XRP masih berupaya berkonsolidasi di sekitar level US$1,33.
Aktivitas Pasar Spot Mengering di Tengah Kenaikan Valuasi
CryptoOnchain menjelaskan bahwa kenaikan rasio NVT mengindikasikan nilai pasar jaringan tumbuh lebih cepat dibanding aktivitas transaksi aktual yang terjadi di blockchain.
Dalam kondisi normal, peningkatan valuasi yang sehat biasanya didukung oleh pertumbuhan penggunaan jaringan dan volume transaksi yang sejalan.

Namun, data yang diamati menunjukkan kondisi berbeda. Aktivitas spot XRP di Binance justru mengalami penurunan tajam.
Arus masuk dan arus keluar aset ke bursa tersebut tercatat turun sekitar 98 persen dibandingkan rata-rata tiga bulan sebelumnya. Selain itu, jumlah alamat aktif yang melakukan deposit ke Binance juga anjlok sekitar 94 persen.
Menurut CryptoOnchain, kombinasi antara kenaikan metrik valuasi dan minimnya partisipasi pasar spot menjadi sinyal bahwa harga saat ini tidak memperoleh dukungan organik yang kuat dari aktivitas jaringan maupun minat beli baru.
“Pasar mempertahankan valuasinya tanpa bahan bakar fundamental yang diperlukan untuk menopangnya,” ujar CryptoOnchain.
Ia menilai kondisi seperti ini dalam sejumlah kasus historis sering muncul sebelum pasar melakukan repricing atau penyesuaian harga menuju area yang dianggap lebih mencerminkan nilai fundamental sebenarnya.
Karena itu, tanpa adanya katalis baru yang mampu meningkatkan permintaan dan aktivitas transaksi, XRP berpotensi menguji zona likuiditas yang lebih rendah untuk menemukan harga wajarnya.
CryptoOnchain juga menyebut kembalinya arus masuk aset ke bursa secara berkelanjutan dapat menjadi salah satu sinyal awal bahwa minat pasar mulai pulih setelah periode aktivitas yang sangat rendah.
XRP Belum Lepas dari Bayang-bayang Resistance Jangka Panjang
Di tengah sinyal kehati-hatian dari data on-chain, analis teknikal ChartNerd menyoroti pola historis yang selama ini terbentuk pada grafik mingguan XRP.
Menurutnya, indikator Weekly Exponential Moving Average atau WEMA 50 telah berulang kali menjadi pembatas utama antara fase bullish dan bearish jangka panjang.

Berdasarkan pola yang diamati pada beberapa siklus sebelumnya, kehilangan support WEMA 50 tidak langsung memicu kejatuhan besar. Sebaliknya, harga biasanya membentuk beberapa reli sementara yang berakhir dengan penolakan sebelum akhirnya menemukan dasar siklus berikutnya.
ChartNerd menilai pola tersebut terlihat konsisten pada seluruh bear market XRP sebelumnya. Dalam setiap siklus, harga umumnya mencetak setidaknya tiga lower high atau tiga kali penolakan di area WEMA 50 setelah support tersebut hilang.
Saat ini, sejak XRP kehilangan WEMA 50 pada November 2025, harga baru mengalami satu kali penolakan yang terjadi pada Januari 2026 ketika bergerak mendekati area US$2,40. Karena itu, ia menilai masih terbuka kemungkinan terbentuknya pola penolakan tambahan seperti yang pernah terjadi pada siklus sebelumnya.
Level yang kini menjadi fokus utama berada di sekitar US$1,79, yang merupakan posisi WEMA 50 saat ini. Area tersebut berfungsi sebagai resistance dinamis jangka panjang. Jika XRP mampu kembali bergerak di atas level itu dan bertahan, struktur bearish berpotensi melemah.
Sebaliknya, apabila harga kembali ditolak di sekitar US$1,79, maka hal tersebut dapat membentuk lower high kedua dalam pola historis yang diamati. Sementara itu, area US$1,31 menjadi support terdekat setelah koreksi dari puncak awal 2026.
Target US$17 Muncul Jika Skenario Bullish Terwujud
Meski sejumlah indikator masih menunjukkan tantangan, analis teknikal Celal Kucuker justru melihat struktur jangka panjang XRP tetap berada dalam kondisi yang kuat.
Dalam analisis mingguan yang dibagikannya, XRP disebut masih berhasil mempertahankan tren naik multi-tahun dengan tetap bergerak di atas ascending trendline utama yang telah menopang harga sejak 2020.

Koreksi yang terjadi saat ini dinilai lebih menyerupai fase konsolidasi setelah reli besar yang sebelumnya membawa harga mendekati US$3,88.
Celal menempatkan area US$1,30 sebagai support paling penting saat ini. Zona tersebut bertepatan dengan area pantulan terbaru sekaligus berada dekat dengan garis resistance lama yang kini berpotensi berubah fungsi menjadi support.
Selama level tersebut mampu dipertahankan, ia menilai XRP masih memiliki peluang untuk membangun kembali momentum bullish menuju area US$3,88 yang merupakan puncak siklus terbaru sekaligus resistance utama berikutnya.
Dalam proyeksi jangka panjangnya, Celal memperkirakan XRP berpotensi mencapai kisaran US$17,53 yang berada di bagian atas ascending channel multi-tahun. Target tersebut dinilai dapat tercapai apabila pasar memasuki fase euforia seperti yang pernah terjadi pada siklus-siklus sebelumnya.
Berdasarkan skenario yang ia gambarkan, perjalanan menuju target tersebut membutuhkan breakout kembali di atas US$3,88 sebelum memasuki fase price discovery baru.
Jika hal itu terjadi, Celal menilai XRP berpeluang menjadi salah satu aset dengan performa paling kuat pada siklus bullish berikutnya dan bahkan berpotensi menantang posisi Ethereum dari sisi kapitalisasi pasar.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


