Ekosistem decentralized finance (DeFi) tampaknya masih belum menemukan titik baliknya pada 2026. Setelah sempat menjadi salah satu sektor paling bersinar, kini DeFi justru menghadapi tekanan yang datang dari berbagai arah.
Riset Cryptorank yang dirilis pada Rabu (24/06/2026) menunjukkan TVL DeFi mengalami penurunan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Pelemahan ini terjadi di tengah maraknya peretasan yang terus menghantam sektor DeFi.Â
TVL DeFi Menurun, Modal Keluar dari Pasar
TVL DeFi terus menyusut sepanjang 2026. Dari sekitar US$115 miliar pada Januari, nilainya turun menjadi US$70 miliar pada akhir Juni. Penurunan tersebut setara dengan US$45 miliar atau lebih dari Rp800 triliun, serta turun 39 persen sejak awal tahun.
Kondisi tersebut mencerminkan koreksi yang lebih luas di pasar kripto setelah reli besar pada akhir 2025. Saat itu, harga Bitcoin sempat mencetak ATH baru di atas US$122.000, sementara kapitalisasi pasar kripto global mencapai sekitar US$4,2 triliun.
Meski demikian, tekanan tidak dirasakan secara merata oleh seluruh jaringan blockchain. Dari 10 ekosistem terbesar berdasarkan TVL, hanya TRON dan Hyperliquid yang berhasil mencatat pertumbuhan sepanjang tahun ini.

TVL TRON naik 5 persen, sementara Hyperliquid tumbuh 6,7 persen. Menurut Cryptorank, ketahanan TRON didukung oleh perannya sebagai jaringan untuk transfer dan settlement USDT, serta aktivitas staking dan lending yang relatif stabil.
Di sisi lain, Hyperliquid menarik perhatian karena pertumbuhannya lebih banyak didorong oleh penggunaan nyata. Aktivitas perdagangan perpetual, layanan pinjaman, liquid staking, dan berbagai produk DeFi lainnya masih mampu menarik arus modal baru.
Sementara itu, jaringan seperti Ethereum, Solana, BNB Chain, hingga Arbitrum mengalami penurunan TVL yang signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor cenderung berhati-hati dalam menghadapi ketidakpastian pasar.
Peretasan Makin Marak, Kepercayaan Pengguna DeFi Mulai Luntur
Selain pelemahan pasar, sektor DeFi juga dibayangi masalah keamanan yang belum kunjung mereda. Menurut laporan tersebut terdapat ratusan insiden peretasan dengan total kerugian mencapai triliunan rupiah.
“Insiden keamanan menambah tekanan bagi DeFi. Sepanjang 2026, tercatat 121 peretasan dengan total kerugian mencapai US$942 juta atau Rp16,8 triliun. Pada kuartal kedua saja, terjadi 85 insiden dengan kerugian sekitar US$775 juta atau Rp13,8 triliun,” jelas mereka.
Cryptorank menilai peretasan bukan penyebab utama turunnya TVL. Namun frekuensi serangan yang semakin tinggi berpotensi mengikis kepercayaan pengguna dan mempercepat arus keluar modal dari berbagai protokol DeFi.

Meski kondisi saat ini terlihat suram, Cryptorank menilai siklus kali ini berbeda dibandingkan pasar bearish 2021–2022. Saat itu, TVL DeFi sempat anjlok lebih dari 70 persen hanya dalam tujuh bulan setelah mencapai puncak sekitar US$177 miliar.
Berbeda dengan siklus sebelumnya, penurunan kali ini berlangsung lebih lambat dan terukur. Kondisi tersebut menunjukkan pasar kripto semakin matang, dengan aktivitas yang didukung berbagai sektor utilitas, bukan hanya spekulasi.Â
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


