Menjadi delegator berarti kamu menitipkan aset kriptomu ke validator supaya bisa ikut membantu menjaga keamanan jaringan blockchain sekaligus dapat imbalan. Kalau kamu ingin dapat passive income dari kripto tanpa repot mengelola node sendiri, memahami apa itu delegator bisa jadi langkah awal yang penting. Yuk, kenali lebih jauh di bawah ini!
BACA JUGA: Bunga Deposito Kripto Sampai 35 Persen Per Tahun, Ini Daftar Platformnya!
Apa Itu Delegator?
Secara sederhana, delegator adalah pemilik aset kripto yang “meminjamkan” kekuatan staking mereka ke validator untuk ikut terlibat dalam mekanisme konsensus jaringan. Kamu tetap memiliki asetnya, tetapi validator yang akan bekerja mulai dari memproses transaksi, menjaga keamanan blockchain, hingga menghasilkan blok baru.
Karena sudah memberikan dukungan berupa token, kamu sebagai delegator akan mendapatkan imbalan berupa staking rewards. Konsep ini membuat siapa pun, tanpa perangkat mahal atau skill teknis, tetap bisa berkontribusi dalam menjaga jaringan blockchain.
Dalam banyak protokol PoS seperti Solana, Polkadot, Tezos, hingga NEAR, delegator crypto menjadi pilar penting dalam menjaga desentralisasi.
BACA JUGA: Inilah 5 Crypto Wallet 2025 Cocok untuk Staking
Cara Kerja Delegator dalam Kripto

Secara sederhana, kamu cukup memilih validator atau staking pool yang ingin kamu dukung, lalu mendelegasikan tokenmu ke mereka. Setelah itu, validator akan menjalankan tugas teknis seperti memvalidasi transaksi dan menjaga keamanan jaringan.
Dari hasil pekerjaan itu, mereka memperoleh reward yang kemudian dibagikan kembali ke para delegator setelah dipotong komisi.
Selama periode staking, tokenmu tetap menjadi milikmu, tetapi tidak bisa digunakan sampai masa penguncian selesai. Kamu bebas memindahkan delegasi ke validator lain atau melakukan unstake sesuai aturan jaringan.
Namun perlu diingat, jika validator melakukan kesalahan seperti downtime atau pelanggaran protokol hingga terkena slashing, delegator juga bisa menanggung sebagian kerugiannya.
Delegator Crypto vs Validator
Perbedaan delegator crypto dengan validator adalah delegator hanya mendelegasikan token untuk mendukung jaringan, sedangkan validator menjalankan node dan bertanggung jawab langsung atas proses validasi transaksi.
Delegator tidak perlu perangkat khusus atau pengetahuan teknis. Mereka cukup memilih validator terpercaya, mengunci token, dan menerima imbalan staking tanpa harus terlibat dalam operasional jaringan.
Peran mereka lebih ke memberikan dukungan berupa “kekuatan staking” agar validator memiliki peluang lebih besar untuk dipilih memvalidasi blok.
Sebaliknya, validator adalah pihak yang bekerja di balik layar dengan menjalankan node 24/7, memproses transaksi, menjaga keamanan jaringan, hingga menanggung risiko teknis seperti slashing. Tanpa validator yang aktif dan aman, jaringan tidak bisa berjalan.
Namun tanpa delegator, validator terutama yang kecil akan sulit bersaing, sehingga kedua peran ini saling melengkapi dalam ekosistem blockchain.
BACA JUGA: Layer 1 Aster vs Hyperliquid: Begini Perbandingan Lengkap Antara Keduanya!
Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Menjadi Delegator
Sebelum kamu memutuskan untuk menjadi seorang delegator, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan terlebih dahulu. Mulai dari aturan jaringan, likuiditas, tingkat imbalan (inflasi), hingga biaya layanan validator, berikut ini adalah penjelasan lengkapnya:
1. Aturan jaringan dan parameter protocol
Setiap blockchain punya aturan berbeda, mulai dari masa unbonding sampai syarat minimal staking jadi pelajari parameter spesifik jaringan sebelum mendelegasikan. Memahami aturan ini mencegah kejutan seperti token terkunci lebih lama dari yang kamu harapkan.
2. Likuiditas
Periksa berapa lama token perlu dikunci sebelum mulai mendapat reward dan berapa lama proses unbonding ketika kamu ingin menariknya. Jika kamu butuh likuiditas cepat, pilih jaringan atau validator dengan periode unbonding yang lebih pendek.
3. Inflasi dan tingkat imbalan
Bandingkan tingkat reward delegasi dan laju inflasi token pada jaringan tersebut dengan alternatif lain, termasuk peluang di DeFi. Tingkat imbalan tinggi belum tentu menguntungkan jika inflasi juga tinggi sehingga daya beli reward cepat tergerus.
4. Biaya layanan validator
Validator biasanya memotong sebagian reward sebagai komisi, tapi jangan pilih hanya karena komisinya rendah, pertimbangkan juga uptime, keamanan, dan reputasi. Komisi rendah tapi validator sering offline atau berisiko slashing justru bisa merugikan kamu dalam jangka panjang.
Apakah Kamu Siap Menjadi Delegator?
Pada akhirnya, delegator adalah bagian penting dari sistem proof-of-stake, mereka membantu menjaga jaringan tetap aman, sekaligus mendapatkan keuntungan berupa staking rewards. Jika kamu ingin asetmu bekerja sambil tetap berkontribusi pada ekosistem blockchain, menjadi delegator bisa jadi langkah awal yang solid.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



