Deputi Bank Sentral Tiongkok: AS Gagal Kawal Crypto

Salah satu pejabat Bank Sentral Tiongkok menilai bahwa AS telah gagal kawal crypto, sembari menyoroti perlunya aturan yang ketat terhadap aset digital.

Watcher News melaporkan bahwa Tiongkok sedang berniat untuk memperketat pengawasan dan aturan terkait kripto di wilayahnya. Sementara, Hong Kong semakin bersemangat untuk menjadi pusat aset digital.

Bank Sentral Tiongkok dan Crypto 

Deputi Gubernur di Bank Sentrak Tiongkok (PBoC) Xuan Changneng mengatakan bahwa bentuk baru keuangan dan teknologi baru lainnya tidak boleh diterima dan diakui begitu saja. Itu termasuk crypto.

“Ekonomi digital telah mengubah format layanan keuangan, tetapi tidak mengubah model keuangan itu sendiri. Crypto meminjamkan diri pada risiko yang berkaitan dengan penipuan dan transaksi yang melanggar hukum,” tambahnya.

Xuan pun menilai, AS telah gagal dalam bagiannya untuk mengatur aset digital.

Menurut Deputi tersebut, siklus di sektor keuangan digital, risiko kredit mikro dan ketidaksesuaian risiko likuiditas masih ada dan tidak dapat diabaikan.

Terlebih, ia menggarisbawahi bahwa tidak semua bursa kripto saat ini memiliki cukup likuiditas.

“Mata uang digital dan crypto yang baru ditemukan, alih-alih menyelesaikan masalah keuangan, sebenarnya dapat menciptakan tantangan baru,” ujar Xuan, dilansir dari Reuters.

Di sisi lain, analis dari Keiko menjelaskan bahwa Binance telah memfasilitasi pluralitas volumenya di sepanjang sesi perdagangan AS. Itu menandakan pedagang menyukai Binance karena memiliki likuiditas yang lebih baik dari kebanyakan bursa.

“Likuiditas sangat penting dalam crypto, terutama untuk institusi yang membangun atau menjual posisi besar atau sering dalam berdagang,” ujar para peneliti Keiko.

Peneliti pun membagikan temuannya mengenai spread, di mana spread Binance 36 kali lebih ketat dari Binance US dan 8 kali lebih ketat dari Coinbase.

Namun, peneliti Keiko tetap melihat likuiditas yang tipis untuk meja perdagangan yang lebih kecil yang disebabkan oleh ketidakpastian regulasi.

“Masalah terbesar saat ini adalah situasi likuiditas di crypto. Likuiditas Bitcoin berada pada level terendah 10 bulan, ini akan mendorong harga naik atau turun secara dramatis,” ujar Analis Riset dan Data James V. Straten.

Diketahui,volatilitas Bitcoin saat ini masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan level tertinggi di bulan November 2022. [st]

 

Terkini

Warta Korporat

Terkait