Deutsche Bank memproyeksikan bank sentral di berbagai negara dapat mulai membeli dan menyimpan Bitcoin dalam neraca cadangan mereka pada tahun 2030, bersamaan dengan emas.
Prediksi tersebut tertuang dalam laporan riset terbaru yang menyoroti semakin matangnya pasar aset digital serta meningkatnya dorongan diversifikasi cadangan devisa di tengah kondisi geopolitik global.
Laporan itu menekankan bahwa Bitcoin diperkirakan tidak akan menggantikan emas maupun dolar AS sebagai mata uang cadangan utama, melainkan akan hadir sebagai aset pendamping.
Dengan karakteristik yang kian dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian, Bitcoin disebut berpotensi menempati posisi penting dalam portofolio cadangan bank sentral di masa mendatang.
Bank Sentral Bisa Pertimbangkan Bitcoin Saat Stabilitas Semakin Nyata
Deutsche Bank mengidentifikasi beberapa faktor kunci yang membuat skenario ini semakin mungkin.
Pertama, volatilitas Bitcoin dalam jangka pendek menunjukkan tren penurunan. Data mencatat bahwa pada Agustus 2025, volatilitas 30 harinya berada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini dianggap memberi sinyal stabilitas relatif yang lebih besar dibandingkan periode sebelumnya.
Selain itu, perbaikan infrastruktur pasar juga menjadi pendorong. Layanan kustodian khusus untuk institusi, regulasi yang lebih jelas di AS, Uni Eropa, serta Asia, dan penerapan standar audit serta akuntansi untuk aset digital memberikan landasan hukum yang lebih kokoh.
“Jika fondasi regulasi dan infrastruktur terus diperkuat, Bitcoin bisa menjadi bagian dari cadangan resmi,” bunyi kutipan dari laporan tersebut.
Tren global untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS turut menambah daya tarik Bitcoin sebagai alternatif. Bank sentral di sejumlah negara disebut semakin aktif mencari diversifikasi aset cadangan, baik untuk mengurangi risiko geopolitik maupun menjaga stabilitas portofolio devisa mereka.
Tantangan Regulasi dan Likuiditas
Kendati demikian, Deutsche Bank menekankan bahwa sejumlah hambatan masih membayangi.
Volatilitas Bitcoin memang menunjukkan penurunan, tetapi tetap tergolong tinggi jika dibandingkan dengan emas atau obligasi pemerintah. Kondisi ini berpotensi menyulitkan bank sentral yang membutuhkan stabilitas nilai dalam cadangan mereka.
Masalah lain adalah likuiditas pasar. Untuk dapat digunakan oleh bank sentral, pasar Bitcoin harus memiliki kedalaman yang cukup agar transaksi dalam jumlah besar bisa dilakukan tanpa menimbulkan guncangan harga signifikan.
Sementara itu, persoalan regulasi masih menjadi salah satu hambatan utama. Standar akuntansi, kepastian hukum, dan prosedur audit khusus untuk aset kripto belum seragam secara global, sehingga bank sentral akan berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Deutsche Bank memperkirakan jika hambatan-hambatan tersebut dapat diatasi, maka sekitar tahun 2030 merupakan waktu yang realistis bagi bank sentral untuk mulai memegang Bitcoin secara resmi.
Hal ini berpotensi mengubah wajah portofolio cadangan devisa global, yang selama ini didominasi emas, mata uang asing dan surat utang pemerintah.
Dengan masuknya Bitcoin ke dalam cadangan resmi, aset digital tersebut akan memperoleh legitimasi baru dalam sistem keuangan internasional. Bagi industri kripto, langkah ini juga bisa menjadi titik balik penting yang menandai penerimaan institusional di level tertinggi. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



