Di Balik Anjloknya Pasar Kripto, Apakah Binance yang Jadi Sasaran Utama?

Penurunan tajam pasar kripto pada Jumat lalu mengguncang seluruh ekosistem. Di tengah spekulasi tentang penyebabnya—mulai dari faktor makroekonomi hingga teknikal—muncul teori yang jauh lebih menarik: dugaan adanya serangan terkoordinasi yang menargetkan Binance, crypto exchange terbesar di dunia.

Serangan Terencana Terhadap Binance?

Dalam sebuah blog yang dibagikan oleh WuBlockchain pada Minggu (12/10/2025), seorang penulis dengan nama pena Forgiven memaparkan dugaan bahwa kejatuhan pasar sebelumnya merupakan hasil dari “serangan yang telah direncanakan” yang menyasari sistem Binance.

“Saya berspekulasi bahwa kejatuhan pasar pada 11 Oktober adalah serangan yang disengaja yang menargetkan Binance dan salah satu pembuat pasar utamanya. Titik lemah terletak pada Unified Account Margin System milik Binance,” jelasnya.

Berbeda dari sistem margin standar yang menggunakan aset dengan patokan kuat seperti USDT, Binance memperbolehkan penggunaan turunan aset Proof-of-Stake (PoS) dan yield-bearing stablecoin seperti USDE, wBETH, dan BnSOL sebagai jaminan. 

IKLAN
Chat via WhatsApp

Ketika harga pasar tiba-tiba merosot, ketiga aset ini justru mengalami depegging ekstrem—USDE turun ke US$0,65, wBETH ke US$0,20, dan BnSOL ke US$0,13 yang menyebabkan gelombang liquidation berantai di seluruh posisi futures Binance.

BACA JUGA:  Purbaya: UU P2SK Akan Jadikan Pasar Kripto Indonesia Lebih Tertata

Kondisi ini semakin parah karena harga likuidasi ditentukan dari spot order book internal, bukan data oracle dengan patokan tetap. Akibatnya, nilai margin jatuh drastis, bahkan portofolio yang sebelumnya di-hedge pun tak mampu menahan dampaknya.

Beberapa market-maker besar pun terpaksa menutup posisi dan juga menjual aset margin mereka secara bersamaan, sehingga tekanan jual di bursa kripto semakin dalam.

Sistem yang Rentan, Timing yang Tepat

Menariknya, kejadian ini bertepatan dengan jeda antara pengumuman Binance mengenai penyesuaian harga oracle (6 Oktober) dan jadwal implementasi (14 Oktober). Menurutnya, celah waktu dan sistem inilah yang dimanfaatkan para pelaku untuk melancarkan serangan.

“Pilihan agunan margin dan desain harga likuidasi telah menjadi titik kunci yang diuji oleh peristiwa pasar ini. Inovasi produk keuangan membutuhkan kehati-hatian lebih, dan bursa masih memiliki banyak hal yang perlu diperbaiki dalam sistem manajemen risikonya,” jelasnya.

Selain likuidasi, program imbal hasil 12 persen milik Binance untuk pemegang USDE ternyata memperparah situasi. Skema ini mendorong pengguna untuk melakukan pinjaman berulang (recursive borrowing) melalui Bn lending, yang menciptakan tekanan tambahan pada sistem margin ketika pasar mulai bergejolak.

BACA JUGA:  Wintermute Luncurkan Trading Emas Saat Pasar Kian Ganas

Saat harga mulai turun, struktur pinjaman berlapis ini berubah menjadi bom waktu. Efek domino pun tak terhindarkan—nilai jaminan menyusut, posisi dilikuidasi, dan tekanan jual semakin besar. Akibatnya, harga USDE di Binance merosot jauh di bawah harga bursa lain, meskipun proses penukaran aset di blockchain berjalan normal.

Ketika Gejolak Pasar Kripto Dianggap Sebagai Peluang

Meski suasana pasar tampak tegang, beberapa analis justru melihat sisi positif dari gejolak ini. Tom Lee, Chairman dari perusahaan DAT Ethereum BitMine, dalam wawancaranya dengan CNBC pada Sabtu lalu menyebut penurunan ini sebagai “koreksi yang sehat”.

“Sejak titik terendah April, pasar telah naik 36 persen. Penurunan kali ini memang tajam, tapi termasuk salah satu dari 1 persen pergerakan ekstrem sepanjang sejarah. Ini adalah refleksi dari kepanikan pasar, bukan perubahan fundamental,” jelasnya.

Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Simon Dedic, Founder dan Managing Partner di Moonrock Capital. Ia menilai bahwa kejatuhan pasar kripto kali ini berbeda, kemungkinan besar bersifat sistematis terhadap Binance, namun menyimpan potensi jangka panjang.

Pasar Kripto Berdarah! Total Likuidasi Tembus US$19 Miliar

Namun, tidak semua pihak sepakat. Investor kripto Mindao menilai situasi ini menyerupai tragedi LUNA-UST pada 2022, ketika stablecoin non-fiat dijadikan jaminan bernilai tinggi di bursa besar. 

BACA JUGA:  Arthur Hayes Lepas Token Ini Demi Borong HYPE Rp31,5 Miliar

Ia menegaskan bahwa kombinasi antara harga pasar yang ditentukan secara dinamis dan rasio jaminan tinggi merupakan “kombinasi paling berbahaya”, terutama di bursa dengan efisiensi arbitrase rendah.

Pelajaran Pahit bagi Industri Kripto

Kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa inovasi harus selalu dibarengi dengan disiplin manajemen risiko yang kuat. Binance, sebagai salah satu pemain utama, kini menjadi sorotan untuk meninjau kembali sistem margin dan mekanisme harga likuidasinya.

Apakah kejatuhan pasar ini benar-benar akibat serangan terencana, atau sekadar kelemahan sistem yang terlalu kompleks, masih menjadi pertanyaan terbuka. Situasi ini menekankan pentingnya evaluasi risiko secara menyeluruh di setiap produk finansial yang ditawarkan.

Satu hal yang pasti, pasar kripto kembali membuktikan bahwa di balik janji desentralisasi dan efisiensi, tersimpan risiko sistemik yang dapat mengguncang seluruh ekosistem hanya dalam hitungan jam. Industri perlu belajar dari pengalaman ini untuk memperkuat ketahanan sistem. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia