Analisis terbaru dari XWIN Research Japan di CryptoQuant menunjukkan bahwa Bitcoin saat ini berada dalam fase akumulasi, meskipun tekanan dari kebijakan moneter AS masih membayangi pasar.
Temuan ini muncul setelah sorotan terhadap sidang Kevin Warsh yang menandai pergeseran pendekatan bank sentral dari fokus suku bunga ke pengetatan struktural melalui pengurangan likuiditas.
Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa kebijakan terbaru The Fed tidak hanya mengatur “harga uang” melalui suku bunga, tetapi juga mengurangi jumlah likuiditas di sistem keuangan.
Dampaknya, imbal hasil obligasi jangka panjang berpotensi naik, yang secara historis menjadi tekanan bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Kondisi ini mendorong sebagian modal beralih ke instrumen yang lebih aman, sehingga menahan potensi kenaikan harga dalam jangka pendek.

Namun, data on-chain menunjukkan arah yang berbeda. XWIN Research Japan mencatat bahwa indikator Long-Term Holder SOPR (LTH-SOPR) berada di sekitar level 1,0, yang menandakan investor jangka panjang tidak melakukan aksi jual besar-besaran.
“Meskipun likuiditas makro melemah, pasokan tidak bertambah banyak, yang mencerminkan fase akumulasi yang tenang,” ungkap XWIN Research Japan.
Kondisi ini menunjukkan tekanan jual relatif terbatas dan pasokan tetap terkendali di tengah tekanan eksternal.
Divergensi Langka Bitcoin di Tengah Tekanan Likuiditas Global
Perbedaan antara kondisi makro dan data on-chain menciptakan divergensi yang jarang terjadi pada Bitcoin. Di satu sisi, likuiditas global sedang mengetat akibat kebijakan The Fed. Di sisi lain, struktur suplai justru menunjukkan penguatan karena minimnya distribusi dari pemegang jangka panjang.
Dalam situasi ini, harga Bitcoin cenderung bergerak dalam rentang terbatas. Namun, keterbatasan suplai membuka peluang kenaikan tajam apabila permintaan kembali meningkat, terutama dari instrumen institusional seperti ETF.
XWIN Research Japan menilai kondisi ini sebagai fase akumulasi yang belum sepenuhnya tercermin dalam harga pasar.
Analisis teknikal turut memperkuat pandangan tersebut. Secara terpisah, analis Jonathan Carter menilai bahwa BTC saat ini sedang melakukan pantulan dari area support penting pada time frame mingguan.

Area tersebut sebelumnya merupakan resistance yang berhasil ditembus dan kini berfungsi sebagai support, dengan proses retest yang dinilai kuat. Kondisi ini mengindikasikan tekanan jual mulai mereda, sementara minat beli kembali muncul di level krusial.
Lebih lanjut, struktur pasar BTC dinilai masih bullish selama support tersebut mampu dipertahankan. Pola inverse head and shoulders yang terbentuk memperkuat potensi kelanjutan tren naik, dengan target bertahap di kisaran US$95.000 hingga US$200.000 dalam skenario jangka menengah hingga panjang.
BTC Terjepit Likuiditas, Tiga Skenario Harga Mengemuka
Di tengah fase akumulasi yang teridentifikasi dari sisi on-chain, pergerakan jangka pendek Bitcoin masih dipengaruhi oleh dinamika likuiditas yang kompleks.
Analis Aralez menjelaskan bahwa harga kini kembali berada di kisaran US$76.000, dengan pasar yang secara umum masih mempertahankan bias bullish, meskipun ketidakpastian arah tetap tinggi.

Ia menguraikan tiga skenario utama yang kemungkinan terjadi dalam waktu dekat. Skenario pertama, yang dinilai paling potensial, adalah kenaikan harga menuju area di atas US$78.000 untuk menyapu likuiditas, sebelum kembali terkoreksi ke kisaran US$73.000 hingga US$70.000.
Skenario kedua melibatkan penyapuan likuiditas di area US$73.000 terlebih dahulu, diikuti pembentukan struktur bullish baru yang berpotensi mendorong harga kembali naik ke atas US$78.000.
Sementara itu, skenario ketiga, yang dianggap paling kecil kemungkinannya dalam waktu dekat, adalah penurunan berlanjut setelah harga menembus dan bertahan di bawah US$73.000, yang dapat membuka jalan menuju level di bawah US$70.000 serta menyapu klaster likuiditas lebih dalam.
Sejalan dengan itu, analis Leviathan menyoroti posisi harga Bitcoin yang saat ini berada di antara dua zona likuiditas besar. Ia mengidentifikasi level sekitar US$76.900 sebagai area di atas klaster likuidasi long, sementara level US$75.300 berada di bawah klaster likuidasi short.

Kondisi ini menunjukkan bahwa harga sedang “terjepit” di antara dua kumpulan likuiditas besar, yang berpotensi tersapu satu per satu dalam pergerakan berikutnya. Situasi tersebut meningkatkan risiko volatilitas mendadak, terutama bagi trader yang masuk di tengah rentang harga tanpa konfirmasi arah yang jelas.
Sementara itu, dari perspektif siklus pasar yang lebih luas, analis Ash Crypto menilai bahwa fase bearish dalam siklus saat ini berpotensi lebih singkat dibandingkan periode sebelumnya.

Ia mengacu pada pengalaman tahun 2022, ketika banyak pelaku pasar memperkirakan penurunan hingga US$10.000, namun tidak terjadi, dan harga justru berbalik naik menuju level tertinggi baru. Menurutnya, narasi serupa kini kembali muncul dengan proyeksi penurunan ke US$30.000, tetapi dinamika pasar telah berubah.
Ash menekankan bahwa siklus saat ini semakin didorong oleh likuiditas institusional. Salah satu contoh yang disorot adalah strategi akumulasi agresif oleh perusahaan yang dipimpin Michael Saylor, yang dilaporkan telah membeli hampir US$10 miliar Bitcoin sepanjang 2026.
Ia juga menggambarkan kondisi saat ini sebagai fase koreksi yang lebih ringan dibandingkan siklus sebelumnya.
Selain itu, ia menilai bahwa jika kejelasan regulasi meningkat, misalnya melalui pengesahan Clarity Act, dan diikuti kebijakan moneter yang lebih longgar dari The Fed, termasuk potensi penurunan suku bunga, maka peluang terjadinya reli lanjutan bagi Bitcoin akan semakin terbuka.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


