Dolar Loyo Usai AS Guyur Likuiditas, Bitcoin Terbang ke US$69.000

Harga Bitcoin kembali mencuri perhatian setelah melonjak lebih dari 6 persen dan menembus area US$69.000 usai bergerak sideways cukup lama. Kenaikan itu datang bersamaan dengan pelemahan dolar AS serta kabar baru dari Departemen Keuangan AS.

AS Perbesar Buyback Obligasi Jangka Panjang

Departemen Keuangan AS mengumumkan pada Rabu (19/08/2026) bahwa pihaknya akan memperbesar operasi buyback obligasi nominal jangka panjang. Kebijakan tersebut mencakup surat utang tenor 10 hingga 20 tahun serta 20 hingga 30 tahun.

“Batas maksimum saat ini sebesar US2miliarperoperasiakandinaikkanmenjadisetidaknyaUS4 miliar per operasi,” tulis Departemen Keuangan AS dalam pengumumannya mengenai peningkatan dukungan likuiditas di pasar obligasi.

Kebijakan ini mulai berlaku pada 9 September 2026 dan akan berlangsung hingga 4 November 2026. Pemerintah AS kemudian akan memberikan pembaruan mengenai ukuran buyback pada agenda Quarterly Refunding berikutnya.

Departemen Keuangan AS menjelaskan bahwa peningkatan tersebut bertujuan memberikan dukungan likuiditas lebih besar pada sektor obligasi jangka panjang, terutama karena minat pelaku pasar terhadap instrumen tersebut masih kuat.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Bisa Tiba-tiba Meledak, Likuiditas US$70.000 Jadi Incaran

Meski begitu, kebijakan ini bukan program pencetakan uang baru maupun stimulus langsung ke pasar kripto. Fokus utamanya adalah menjaga likuiditas serta kelancaran perdagangan obligasi pemerintah AS berjangka panjang.

Dolar AS Loyo, Bitcoin Langsung Tancap Gas

Di pasar, sentimen bergerak cukup cepat. Indeks dolar AS atau DXY melemah ke sekitar 98,801, turun sekitar 0,85 persen dalam sehari dan melanjutkan tren penurunan dalam beberapa hari terakhir.

Indeks Dolar AS (DXY) - TradingView
Indeks Dolar AS (DXY) – TradingView

Secara umum, dolar yang lebih lemah kerap memberikan ruang lebih besar bagi aset berisiko. Tekanan finansial dapat berkurang, sementara aset seperti saham, emas, hingga kripto relatif menjadi lebih menarik.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Momentum tersebut bertepatan dengan pergerakan Bitcoin yang melonjak lebih dari 6 persen dan menembus US$69.000. Kenaikan ini menjadi perubahan cukup tajam dibandingkan kondisi pasar sebelumnya yang cenderung mendatar.

Kombinasi dolar yang melemah, kondisi likuiditas yang lebih mendukung, serta masuknya kembali minat beli memberikan dorongan baru bagi Bitcoin. Namun, reli cepat belum otomatis menghapus seluruh risiko koreksi.

BACA JUGA:  Habis Jual Bitcoin 1,1 Triliun Rupiah, Strategy Berencana Borong BTC Tahun Ini Juga

Pasar kini akan melihat apakah BTC mampu bertahan di atas US$69.000 dan membangun struktur harga yang lebih kuat. Jika gagal, lonjakan kali ini masih berpotensi berubah menjadi rebound jangka pendek.

Retail Mulai FOMO, Risiko Local Top Masih Mengintai

Namun, di balik reli tersebut, ada satu sinyal penting yang tetap perlu diperhatikan. Pada hari yang sama, analis Darkfost sudah menyoroti peningkatan tajam permintaan dari investor ritel.

Menurutnya, aktivitas kelompok investor kecil mulai mendekati level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Data yang dibagikannya juga menunjukkan perubahan permintaan ritel 30 hari meningkat secara signifikan.

Menariknya, pola serupa sebelumnya beberapa kali muncul ketika harga Bitcoin mulai mendekati area local top. Artinya, lonjakan permintaan ritel tidak selalu menjadi sinyal bullish murni.

“BTC saat ini mengalami rebound yang relatif lemah, tetapi permintaan dari investor ritel justru meningkat tajam,” tulisnya di X, Rabu (19/08/2026).

BACA JUGA:  Jackpot! Beres-beres Brankas, Pria Indonesia Malah Nemu 10 BTC dari 2012

Pada saat analisis itu dipublikasikan, rebound harga BTC memang masih terlihat relatif lemah. Namun beberapa jam, Bitcoin justru melesat lebih dari 6 persen dan menembus area US$69.000.

Demand Bitcoin dari Investor Ritel - Darkfost
Demand Bitcoin dari Investor Ritel – Darkfost

Pergerakan ini membuat analisisnya menarik untuk diperhatikan. Lonjakan permintaan ritel bisa membantu memperkuat momentum, tetapi juga dapat menjadi tanda bahwa investor mulai mengejar harga terlalu agresif.

Karena itu, reli ke US$69.000 belum otomatis menghapus risiko koreksi. Jika kenaikan harga mulai kehilangan tenaga sementara permintaan ritel tetap tinggi, skenario pembentukan local top masih perlu diwaspadai.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait