Dolphin Sibuk Serok Bitcoin, Whale Malah Jual Perlahan

Data on-chain terbaru menunjukkan pergeseran signifikan dalam struktur permintaan Bitcoin.

Investor berukuran menengah atau yang dikenal sebagai dolphin Bitcoin tercatat terus menambah kepemilikan, sementara pemegang besar atau whale justru mengurangi saldo mereka secara bertahap. Tren ini menandai perubahan pola distribusi aset kripto terbesar di dunia tersebut.

Dalam analisis terbarunya, CryptoZeno di CryptoQuant mengungkapkan bahwa selama satu tahun terakhir dompet kategori dolphin telah mengakumulasi lebih dari 1,3 juta BTC secara bersih.

Akumulasi ini berlangsung seiring dengan pesatnya pertumbuhan Bitcoin ETF spot serta meningkatnya adopsi Bitcoin oleh perusahaan sebagai bagian dari neraca keuangan mereka.

IKLAN
Chat via WhatsApp

dolphin bitcoin

Menurut CryptoZeno, arus akumulasi oleh dolphin Bitcoin mencerminkan perubahan sifat permintaan pasar. Jika sebelumnya pergerakan modal lebih didorong oleh spekulasi jangka pendek, kini permintaan Bitcoin dinilai semakin bersifat struktural dan berjangka panjang.

Investor dengan modal menengah terlihat menyerap pasokan dengan keyakinan yang lebih kuat terhadap prospek aset tersebut.

“Dari perspektif makro on-chain, ini menunjukkan peralihan dari arus spekulatif menuju permintaan yang lebih berjangka panjang dan berlandaskan keyakinan,” ungkap CryptoZeno.

BACA JUGA:  Ahli Sebut Kripto Mungkin Tidak Dirancang untuk Manusia

Akumulasi Dolphin Bitcoin Perkuat Permintaan Struktural

Pertumbuhan kepemilikan oleh dolphin Bitcoin terjadi di tengah ekspansi produk Bitcoin ETF, terutama di AS, serta meningkatnya partisipasi perusahaan dalam menyimpan Bitcoin sebagai aset cadangan.

Kondisi ini membuat permintaan terhadap Bitcoin tidak lagi hanya bergantung pada trader jangka pendek, tetapi juga pada investor dengan horizon investasi yang lebih panjang.

CryptoZeno menilai bahwa akumulasi oleh dolphin Bitcoin membantu menciptakan struktur pasar yang lebih sehat. Dengan distribusi kepemilikan yang lebih merata, risiko konsentrasi pasokan pada segelintir pihak menjadi berkurang. Hal ini berpotensi memperkuat stabilitas pasar dalam jangka menengah hingga panjang.

Whale BTC

Di sisi lain, data yang sama menunjukkan bahwa kepemilikan Bitcoin oleh whale justru menurun sekitar 220.000 BTC dalam periode yang sama. Penurunan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berlangsung secara perlahan dan teratur.

Secara historis, pola seperti ini kerap muncul ketika harga Bitcoin berada di area valuasi yang relatif tinggi. Para pemegang besar biasanya memanfaatkan kondisi tersebut untuk merealisasikan keuntungan atau menyesuaikan risiko portofolio mereka.

BACA JUGA:  Tekanan Mengintai, Token Unlock Pekan Ini Tembus US$278 Juta

Namun, CryptoZeno menegaskan bahwa distribusi oleh whale saat ini tidak mengindikasikan tekanan jual ekstrem atau kepanikan pasar.

Penurunan saldo yang gradual justru menunjukkan bahwa pasokan didistribusikan secara tertib kepada investor lain, termasuk dolphin Bitcoin yang tengah agresif melakukan akumulasi.

“Distribusi yang terjadi saat ini bersifat teratur, bukan didorong oleh tekanan atau kepanikan,” ujar CryptoZeno.

Whale Mendistribusi, Pasar BTC Dinilai Lebih Sehat

Kombinasi antara akumulasi dolphin Bitcoin dan distribusi whale dinilai membentuk ulang dinamika pasokan di pasar. Dari sudut pandang on-chain, struktur kepemilikan Bitcoin menjadi lebih tersebar, sehingga mengurangi risiko dominasi oleh satu kelompok besar.

Secara makro, arus masuk institusional melalui ETF serta adopsi korporasi memperkuat pandangan bahwa permintaan Bitcoin kini semakin luas, lebih dalam dan lebih tahan terhadap gejolak jangka pendek. Dengan semakin banyaknya investor jangka panjang, pasar dinilai memiliki fondasi yang lebih kuat dibandingkan siklus-siklus sebelumnya.

BACA JUGA:  Tak Setengah Hati, Morgan Stanley Kembangkan Infrastruktur Crypto Sendiri

Di sisi lain, analis pasar Rekt Fencer juga menyoroti bahwa pergerakan Bitcoin saat ini mulai menyerupai pola pada siklus tahun 2020. Ia menjelaskan bahwa Bitcoin cenderung mengalami penurunan cepat, diikuti fase konsolidasi, sebelum memasuki fase kenaikan parabolik.

pergerakan harga Bitcoin

Jika pola tersebut kembali terulang, Bitcoin berpotensi melanjutkan tren naik tanpa mengalami koreksi besar dalam waktu dekat.

Dalam analisisnya, Rekt Fencer menyebut bahwa skenario tersebut dapat membuka peluang bagi harga Bitcoin untuk bergerak menuju kisaran level US$200.000, selama tidak terjadi tekanan jual signifikan dari pasar.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia