Dominasi Bitcoin Naik, Tapi Ini Bukan Bull Run Sebenarnya

Kenaikan dominasi Bitcoin dalam beberapa waktu terakhir tampak mencerminkan kondisi pasar kripto yang sedang mengalami konsentrasi modal, bukan tanda dimulainya bull run baru.

Hal tersebut terungkap dari analisis on-chain XWIN Research Japan di CryptoQuant dan dikutip dalam artikel Nikkei pada 23 April 2026. Analis menyatakan bahwa kenaikan harga Bitcoin yang terjadi bersamaan dengan lonjakan dominasi menunjukkan terbentuknya rezim pasar yang berfokus pada Bitcoin (BTC-dominant regime).

Kondisi ini berbeda dari siklus bullish sebelumnya, di mana aliran dana biasanya beralih ke altcoin sehingga menurunkan dominasi Bitcoin.

“Ini bukan reli yang didorong oleh permintaan luas, melainkan akibat tidak adanya distribusi modal ke aset lain,” ungkap XWIN Research Japan.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Likuiditas Menyusut, Altcoin Melemah

Data yang dianalisis menunjukkan bahwa sekitar 75 hingga 80 persen dari 50 altcoin teratas mengalami penurunan harga. Aktivitas dari pemegang besar juga relatif rendah, menandakan lemahnya partisipasi pasar di luar Bitcoin. Meskipun Ethereum menunjukkan ketahanan relatif, secara umum minat risiko belum pulih.

dominasi Bitcoin

Kondisi ini diperparah oleh kontraksi likuiditas di pasar kripto. Total kapitalisasi pasar tercatat turun sekitar 20 persen, sementara volume perdagangan di bursa terpusat menyusut hingga 40 persen.

BACA JUGA:  Harga XRP Hari Ini 29 Maret 2026, Rp22.689 per Koin

Di sisi lain, pasokan stablecoin stagnan atau menurun, yang mengindikasikan terbatasnya aliran dana baru ke pasar. Akibatnya, dana yang tersedia cenderung terkonsentrasi pada Bitcoin, sehingga mendorong dominasi Bitcoin tetap tinggi.

Arus dana institusional melalui Bitcoin ETF spot juga memperkuat tren ini. Produk ETF tersebut terus menarik modal masuk secara spesifik ke Bitcoin, tanpa memberikan dampak serupa pada altcoin.

Selain itu, faktor makro seperti penguatan dolar AS dan suku bunga tinggi turut menekan aset berisiko, menjadikan Bitcoin sebagai pilihan relatif lebih aman di dalam ekosistem kripto.

XWIN menegaskan bahwa selama kondisi makro belum membaik, ETF masih terfokus pada Bitcoin, serta likuiditas pasar belum pulih, maka dominasi Bitcoin berpotensi tetap tinggi dalam jangka pendek.

Untuk terjadinya perubahan tren yang lebih luas, dibutuhkan pemulihan aktivitas on-chain, pertumbuhan pasokan stablecoin, serta distribusi modal yang lebih merata ke altcoin.

santiment BTC 24 apr

Analisis tambahan dari Santiment menunjukkan bahwa sentimen pasar bergerak cepat dari pesimisme ekstrem ke fase FOMO dalam waktu singkat. Setelah sempat turun pasca penolakan di level US$80.000, harga Bitcoin kembali naik ke atas US$78.700.

BACA JUGA:  Analisis Kripto: SOL Jadi Sorotan, 4 Altcoin Ikut Bersiap

Namun, lonjakan optimisme yang terlalu cepat justru dianggap sebagai sinyal kehati-hatian, karena pasar cenderung bergerak berlawanan dengan ekspektasi mayoritas.

Momentum Ada, Namun Siklus Belum Benar-Benar Berbalik

Menurut analis on-chain lainnya di CryptoQuant, Zizcrypto, metrik MVRV untuk pemegang jangka panjang masih berada di atas level stres historis.

Artinya, meskipun terjadi penurunan keuntungan yang belum direalisasikan, investor jangka panjang belum memasuki fase tekanan seperti pada dasar siklus sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar belum mencapai titik kapitulasi penuh.

MVRV BTC

Dari sisi teknikal, analis GainMuse mengidentifikasi bahwa Bitcoin saat ini bergerak dalam fase transisi struktur yang cukup kompleks pada timeframe 4 jam, setelah keluar dari pola segitiga besar dan membentuk ascending wedge di dalam channel naik.

analisis Bitcoin 24 april

Dalam struktur ini, area support di sekitar US$76.000 menjadi titik krusial yang terus dipertahankan oleh pembeli. GainMuse menilai bahwa posisi harga saat ini berisiko memicu short squeeze, terutama bagi pelaku pasar yang terlambat membuka posisi jual, dengan potensi dorongan menuju area resistance atas yang mengarah ke level psikologis US$85.000.

BACA JUGA:  Harga XRP Mulai Tunjukin Tanda Reversal, Akumulasi Kian Ngebut

Namun, ia juga mengingatkan bahwa skenario kenaikan tersebut kemungkinan akan diawali oleh koreksi kecil untuk memperkuat support sebelum terjadi pergerakan impulsif berikutnya.

Di sisi lain, pandangan jangka panjang dari analis kawakan Peter Brandt menunjukkan bahwa pola siklus Bitcoin masih berpotensi berlanjut seperti dalam 15 tahun terakhir.

Ia memperkirakan titik terendah berikutnya yang layak untuk akumulasi dapat terjadi pada periode September hingga Oktober 2026 di kisaran US$50.000 hingga US$60.000, sebelum kemudian membuka jalan menuju fase kenaikan besar dengan target puncak siklus di area US$300.000 hingga US$500.000 pada sekitar 2029, dengan syarat, pola historis tetap terjaga.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait