DPR Soroti Investor Kripto Indonesia yang Naik, Tapi Dana Lari ke Luar

Komisi XI DPR RI menyoroti fenomena meningkatnya jumlah investor kripto Indonesia yang tidak diikuti dengan kenaikan nilai transaksi domestik.

Berdasarkan laporan RRI pada Kamis (2/4/2026), anggota Komisi XI DPR, Habib Idrus Al-Jufri, menyampaikan bahwa kondisi ini berpotensi menunjukkan adanya aliran dana masyarakat ke luar negeri melalui platform perdagangan kripto global.

Fenomena tersebut mencuat dalam pembahasan sektor ekonomi digital, ketika jumlah investor kripto Indonesia tercatat terus bertambah hingga mencapai sekitar 19 juta orang. Namun, di saat yang sama, aktivitas transaksi dalam negeri justru mengalami penurunan signifikan dalam periode satu tahun terakhir.

“Nilai transaksi justru mengalami penurunan dari sekitar Rp650 triliun pada 2024. Menjadi Rp482 triliun pada 2025,” ungkap Habib Idrus.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Menurutnya, ketimpangan antara pertumbuhan jumlah investor kripto Indonesia dan penurunan nilai transaksi menjadi sinyal penting yang tidak bisa diabaikan. Ia menilai kondisi ini perlu dicermati lebih dalam karena berpotensi mencerminkan perubahan arah aktivitas perdagangan para investor.

BACA JUGA:  Pakistan Resmi Legalkan Kripto, Industri Aset Digital Kian Terbuka

“Kalau investornya naik tajam tetapi nilai transaksi di dalam negeri menurun, ini bisa menjadi indikasi. Bahwa dana masyarakat berpotensi mengalir ke luar negeri,” ujar Habib Idrus.

Pergeseran Aktivitas Investor Kripto Indonesia ke Luar Negeri

DPR menilai bahwa salah satu penyebab utama fenomena ini adalah pergeseran aktivitas investor kripto Indonesia ke platform luar negeri. Banyak investor dinilai mulai memilih exchange global yang menawarkan berbagai keunggulan dibandingkan platform domestik.

Beberapa faktor yang mendorong peralihan tersebut antara lain biaya transaksi yang lebih rendah, likuiditas pasar yang lebih besar, serta ketersediaan produk investasi yang lebih beragam.

Platform global juga umumnya menyediakan fitur lanjutan seperti perdagangan derivatif, leverage tinggi, serta akses ke lebih banyak aset kripto.

Kondisi ini membuat investor kripto Indonesia, khususnya yang telah memiliki pengalaman lebih dalam perdagangan aset digital, cenderung mencari peluang yang lebih luas di pasar internasional. Akibatnya, meskipun jumlah pengguna di dalam negeri meningkat, aktivitas transaksi yang tercatat secara domestik justru mengalami penurunan.

BACA JUGA:  Kongsi Skyholic Goyah? Adam Deni Putar Haluan di Kasus Timothy

Investor Adaptif, Tapi Ekosistem Lokal Terancam

Fenomena ini dinilai memiliki implikasi terhadap perkembangan industri kripto di Indonesia. Jika sebagian besar aktivitas perdagangan dilakukan di luar negeri, maka nilai ekonomi yang dihasilkan dari transaksi tersebut tidak sepenuhnya tercatat dalam sistem domestik.

Hal ini berpotensi membuat Indonesia hanya menjadi basis pengguna tanpa memperoleh manfaat maksimal dari pertumbuhan industri kripto. Selain itu, penurunan nilai transaksi dalam negeri juga dapat memengaruhi likuiditas pasar domestik dan mengurangi daya saing platform lokal.

Di sisi lain, tren ini juga mencerminkan bahwa investor kripto Indonesia semakin adaptif terhadap dinamika pasar global. Mereka tidak lagi terbatas pada satu ekosistem, melainkan aktif memilih platform yang dianggap paling efisien dan menguntungkan.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait