Drama CME Bikin Pasar Beku, Sisi Keren Dunia Kripto Kian Terlihat

CME Group mengalami gangguan operasional selama hampir 10 jam pada Jumat (28/11/2025), menghentikan sebagian besar perdagangan futures dan options di pasar global.

Berdasarkan laporan Investing, gangguan itu terjadi akibat masalah pendinginan pada pusat data CyrusOne di AS, yang menjadi tulang punggung infrastruktur teknis CME.

CME Alami Gangguan, Perdagangan Global Terhenti

Perhentian mendadak ini memengaruhi berbagai instrumen, termasuk indeks saham, obligasi, forex (FX) dan komoditas, terutama kontrak gold atau emas berjangka yang menjadi acuan utama harga XAUUSD di seluruh dunia.

Akibatnya, likuiditas di pasar emas membeku, price discovery terhenti, dan pelaku pasar tidak dapat melakukan hedging atau mengeksekusi transaksi penting pada jam perdagangan.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Gangguan tersebut juga berdampak luas pada pasar keuangan global karena CME merupakan penyedia utama kontrak derivatif yang dipantau oleh perbankan, lembaga lindung nilai dan institusi perdagangan.

Ketika pusat data tempat operasional CME bermasalah, seluruh feed harga dan akses order book terputus sehingga broker dan lembaga keuangan tidak dapat memproses transaksi.

BACA JUGA:  Sinyal On-Chain Ini Isyaratkan Bitcoin Siap Ulangi Reli Besar

Waktu kejadian yang bertepatan dengan periode pasca-libur Thanksgiving memang membuat volume pasar lebih rendah, namun skala gangguan ini tetap menimbulkan kekhawatiran tentang ketergantungan industri keuangan pada satu titik infrastruktur.

Dalam pernyataannya, CME memastikan bahwa tidak ada kehilangan data maupun pelanggaran keamanan selama proses pemulihan berlangsung. Operasional perdagangan dipulihkan secara bertahap hingga seluruh pasar kembali berjalan normal.

Meski begitu, kejadian ini tetap memunculkan pertanyaan tentang ketahanan infrastruktur finansial terpusat, terutama ketika gangguan fisik di satu pusat data dapat menghentikan perdagangan global dalam hitungan menit.

Pasar Emas Membeku, Blockchain Tetap Berjalan

Salah satu sektor yang paling terdampak dalam insiden CME adalah pasar komoditas, terutama emas. Kontrak emas berjangka yang diperdagangkan melalui CME menjadi acuan utama dalam pembentukan harga XAUUSD. Ketika perdagangan dihentikan, aktivitas pasar emas global ikut terhenti.

Pelaku pasar tidak dapat melihat harga acuan, tidak bisa menempatkan order baru dan tidak dapat melakukan lindung nilai terhadap volatilitas. Kondisi ini menyebabkan “vakum likuiditas” pada instrumen yang biasanya menjadi pelarian saat ketidakpastian meningkat.

BACA JUGA:  Bitcoin Masih Sepi Minat Institusi? Data On-Chain Ini Jawabannya

Di sisi lain, pasar kripto menunjukkan ketahanan yang kontras. Selama gangguan CME berlangsung, jaringan blockchain seperti Bitcoin dan Ethereum tetap beroperasi normal tanpa jeda.

Sistem terdesentralisasi ini berjalan 24 jam sehari dan tidak mengandalkan pusat data tunggal, sehingga tidak terpengaruh oleh insiden seperti yang menimpa CME.

Perdagangan aset digital di bursa kripto, baik terpusat maupun terdesentralisasi, berjalan seperti biasa, menyediakan price discovery yang tetap aktif di tengah situasi pasar global yang terputus.

Transparansi blockchain juga menjadi sorotan. Saat pasar tradisional gelap total, perpindahan aset digital dan aktivitas on-chain tetap dapat dipantau secara real time. Kondisi ini memperlihatkan kontras yang kuat terhadap sistem terpusat yang blackout ketika infrastruktur fisiknya terganggu.

Pergerakan aset kripto yang terus berlangsung memberikan alternatif bagi pelaku pasar yang membutuhkan akses likuiditas pada saat instrumen lain, termasuk emas, tidak dapat diperdagangkan.

Drama CME Soroti Risiko Sentralisasi Pasar Global

Drama di CME sekaligus menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada satu pusat data menciptakan titik kegagalan tunggal (single point of failure) dalam sistem keuangan global.

BACA JUGA:  Anak Purbaya Sebut Emas Bisa Diproduksi Massal, Mungkinkah?

Ketika satu fasilitas mengalami masalah teknis, dampaknya langsung menjalar ke seluruh dunia, menghentikan transaksi bernilai triliunan dolar. Ini menunjukkan bahwa skala besar tidak otomatis berarti ketahanan, sementara sistem yang terdistribusi memiliki risiko yang berbeda.

Sementara itu, dunia kripto justru memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan karakter “anti-fragile.” Tidak adanya ketergantungan pada operator tunggal membuat blockchain lebih tahan terhadap gangguan semacam ini.

Ketika pasar tradisional menghadapi pembekuan karena gangguan CME, pasar kripto tetap menjadi satu-satunya ekosistem finansial global yang beroperasi tanpa hambatan.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia