Duh! USDT Tembus Rp17.500, Rupiah Makin Tidak Berdaya?

Nilai tukar rupiah terhadap USDT kembali membuat banyak pihak gelisah. Berdasarkan data CoinGecko per Rabu (13/05/2026), harga 1 USDT kini berada di Rp17.490 hingga Rp17.510. Kondisi ini membuat banyak orang mulai mempertanyakan kekuatan rupiah terhadap dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan global yang memanas. Lonjakan harga minyak dunia, konflik geopolitik, hingga arus keluar dana asing membuat dolar AS terus menguat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dampaknya langsung terasa di pasar kripto. Saat dolar menguat dan permintaan meningkat, harga stablecoin seperti USDT ikut melonjak dalam mata uang RI dan memperlihatkan tekanan besar yang sedang dialami mata uang domestik.

Harga Minyak Meledak, Rupiah Ikut Tertekan

Tekanan terhadap mata uang Asia sebenarnya sudah terlihat sejak konflik antara Iran dan AS kembali memanas. Dikutip dari laporan Reuters pada Selasa (12/05/2026), disebutkan bahwa perang yang berlangsung sejak akhir Februari membuat harga minyak Brent melonjak 50 persen.

Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia dan negara Asia lainnya. Ketika harga minyak naik, kebutuhan dolar untuk impor energi otomatis membengkak. Akibatnya, permintaan dolar AS meningkat dan nilai tukar rupiah tertekan.

“Mata uang defensif, khususnya INR, IDR, dan PHP, saat ini diperdagangkan dengan tekanan yang berat. Mata uang di kawasan ini kemungkinan baru mendapat ruang bernapas jika minyak turun di bawah US$100 untuk meredakan tekanan inflasi impor,” tulis DBS.

BACA JUGA:  ZachXBT Tawarkan Hadiah Rp172 Juta untuk Buru Pelaku Pump & Dump

Oleh karena itu, selama harga minyak bertahan tinggi, tekanan terhadap rupiah kemungkinan belum akan mereda. Apalagi, Brent crude kini sudah berada di kisaran US$108 per barel, level yang membuat kekhawatiran inflasi impor semakin meningkat.

Harga Brent Crude Oil Terbaru - Trading Economics
Harga Brent Crude Oil Terbaru – Trading Economics

Musim Haji dan Dividen Bikin Permintaan Dolar AS Membludak

Di sisi lain, faktor domestik juga ikut memperburuk nilai rupiah terhadap USDT. Dikutip dari laporan IDX pada Selasa (05/05/2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pelemahan tidak hanya dipicu kondisi global, tetapi juga karena permintaan dolar di dalam negeri.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Menurut Airlangga, musim Haji menjadi salah satu faktor utama yang membuat kebutuhan dolar meningkat. Aktivitas pembayaran perjalanan, akomodasi, hingga kebutuhan jamaah membuat permintaan mata uang AS melonjak secara musiman.

“Terkait dengan rupiah itu, berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap USD, dan biasanya juga pada saat ibadah Haji demand terhadap dolar itu meningkat,” kata Airlangga.

Tidak hanya itu, kuartal kedua juga identik dengan periode pembayaran dividen perusahaan. Ketika banyak perusahaan menukar mata uang rupiah ke dolar AS untuk membayar kewajiban kepada investor asing, tekanan terhadap rupiah menjadi semakin besar.

“Dan juga biasanya di kuartal kedua itu juga ada pembayaran dividen, jadi demand terhadap dolar tinggi dan kita lihat tetap memantau bagaimana dengan negara-negara lain,” tambahnya.

Kombinasi faktor eksternal dan internal inilah yang membuat nilai tukar mata uang Indonesia terlihat semakin rapuh dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut akhirnya ikut tercermin di pasar kripto, di mana harga USDT menembus Rp17.500.

BACA JUGA:  Whale Bitcoin Bergerak Lagi, Harga Naik Tapi Alarm Bahaya Mulai Menyala
Nilai Tukar Stablecoin USDT Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia Hari Ini - CoinGecko
Nilai Tukar Stablecoin USDT Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia Hari Ini – CoinGecko

DPR dan Bank Indonesia Mulai Waspada

Pelemahan rupiah yang semakin dalam kini menjadi perhatian pemerintah. Dikutip dari laporan Antara pada Selasa (12/05/2026), Ketua DPR RI, Puan Maharani, meminta pemerintah segera mengantisipasi kondisi tersebut agar tidak berdampak terhadap ekonomi RI.

Menurutnya, pemerintah harus terus memantau situasi global karena tekanan terhadap rupiah tidak hanya terjadi di Indonesia. Ia juga mengingatkan agar pelemahan nilai tukar ini tidak menyeret kondisi ekonomi domestik ke arah yang lebih buruk.

“Kondisi ini tidak boleh sampai berdampak lebih luas dan membuat Indonesia jatuh ke dalam keterpurukan,” ujarnya usai memimpin rapat paripurna di kompleks parlemen.

Di tengah tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia mungkin akan mengambil langkah yang agresif. Laporan Tempo pada Selasa (12/05/2026) menyebut BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan menjadi 5 persen jika pelemahan rupiah berlanjut.

Hal ini diungkapkan Kepala Riset Makroekonomi dan Pasar PermataBank, Faisal Rachman. Menurutnya, suku bunga acuan BI berpotensi naik dari 4,75 persen seiring tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang semakin besar.

“Pada 2026, ada kemungkinan kenaikan BI Rate. Proyeksi kami menunjukkan potensi kenaikan sekitar 25 basis poin,” ujarnya dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review pada Selasa (12/05/2026).

Kenaikan suku bunga memang dapat membantu menjaga stabilitas rupiah. Namun, di sisi lain, langkah tersebut juga berisiko menahan pertumbuhan ekonomi. Di tengah tekanan global dan domestik yang meningkat, BI tampaknya berada dalam posisi yang tidak mudah.

BACA JUGA:  Rp4,9 Triliun Digondol dari KelpDAO, Justin Sun Ajak Hacker Negosiasi

USDT Naik, Rupiah Benar-Benar Melemah?

Naiknya harga USDT dolar AS hingga mencapai Rp17.500 memang memberi kesan bahwa rupiah sedang kehilangan tenaga. Namun, kondisi ini sebenarnya bukan hanya soal melemahnya mata uang Indonesia.

Dolar AS saat ini memang sedang berada dalam penguatan akibat tingginya ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga energi. Ketika investor dunia memilih menyimpan dolar sebagai aset aman, hampir seluruh mata uang negara berkembang ikut terkena tekanan.

OJK Buka Suara! Kripto Dipastikan Tak Bisa Gantikan Rupiah

Meski begitu, fakta bahwa USDT kini semakin mahal dalam mata uang RI tetap menjadi sinyal penting. Stablecoin yang sebelumnya sering dianggap “parkiran aman” oleh pengguna kini justru memperlihatkan seberapa besar tekanan terhadap nilai tukar domestik.

Jika konflik global terus berlanjut, harga minyak tetap tinggi, dan arus keluar modal asing belum mereda, bukan tidak mungkin harga stablecoin USDT terhadap rupiah bisa bergerak lebih tinggi lagi dalam beberapa waktu ke depan.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait