Ekonom: Dominasi Dolar AS Mulai Alami Retakan Besar

Dolar AS yang selama puluhan tahun dikenal sebagai mata uang utama perdagangan dan cadangan global dinilai mulai menghadapi tekanan serius.

Dalam artikel opini yang diterbitkan di Wired pada hari Minggu (28/12/2025), Ekonom dan Profesor Keuangan Hong Kong University of Science and Technology, Keyu Jin, menilai bahwa momentum pelemahan dominasi dolar AS dapat terlihat semakin nyata pada 2026, seiring semakin banyaknya negara yang beralih pada sistem pembayaran dan mata uang alternatif dalam perdagangan internasional.

“Tahun 2026 akan menjadi periode ketika erosi pengaruh dolar AS mulai membangun momentum,” ungkap Jin.

Ia menegaskan bahwa semakin sering dolar AS digunakan sebagai instrumen tekanan geopolitik, semakin kuat pula motivasi negara lain untuk mencari jalan keluar.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Beberapa Negara Mulai Beralih ke Sistem Pembayaran Alternatif

Penurunan dominasi dolar AS dipandang berkaitan dengan perubahan lanskap perdagangan global. Proporsi perdagangan AS terhadap total perdagangan dunia disebut menurun dibanding dua dekade lalu, sementara kerja sama ekonomi antar negara berkembang meningkat pesat.

BACA JUGA:  US$321 Juta Token Unlock Siap Guncang Pasar Kripto Minggu Ini

Sejumlah negara mulai melakukan penyelesaian transaksi lintas batas menggunakan mata uang lokal. India dan Rusia dilaporkan memanfaatkan rupee, dirham, serta yuan dalam sebagian perdagangan mereka.

Sementara itu, lebih dari separuh transaksi perdagangan Tiongkok kini disebut telah menggunakan CIPS, sistem pembayaran lintas batas yang dikembangkan sendiri, sebagai alternatif SWIFT.

Di kawasan lain, inisiatif perdagangan lokal juga berkembang, termasuk kerja sama pembayaran antara Brasil–Argentina, Uni Emirat Arab–India, serta Indonesia–Malaysia yang menguji penyelesaian perdagangan dengan mata uang masing-masing.

Tren ini dinilai sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan tunggal pada dolar AS sekaligus memperlebar celah bagi perubahan struktur dominasi dolar AS.

Selain sektor perdagangan, perubahan juga terlihat pada kebijakan cadangan devisa bank sentral berbagai negara.

Jika dahulu dolar AS menyumbang porsi terbesar dari cadangan global, kini proporsinya terus menurun karena sejumlah negara mulai menambah porsi mata uang lain. Pergeseran persepsi keamanan mata uang disebut menjadi faktor kunci perubahan tersebut.

BACA JUGA:  12 Polisi Malaysia Ditangkap Usai Peras Kripto Senilai Rp841,5 Juta

Tekanan Internal dan Lahirnya Infrastruktur Pembayaran Baru

Di sisi lain, faktor internal AS juga dianggap memberikan tekanan terhadap dominasi dolar AS. Defisit fiskal yang membesar, defisit transaksi berjalan, serta penerbitan obligasi pemerintah dalam jumlah sangat besar turut menimbulkan pertanyaan mengenai ketahanan jangka panjang dolar.

Bahkan pasar obligasi pemerintah AS yang selama ini dinilai sebagai aset paling aman, menurut analisis Jin, tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap risiko, seperti terlihat ketika pasar membutuhkan intervensi bank sentral untuk menjaga stabilitas pada periode tertentu.

Ancaman terbesar terhadap dominasi dolar AS bukan diperkirakan hadir dari satu mata uang tandingan tunggal, melainkan dari munculnya ekosistem pembayaran global baru.

Sejumlah proyek lintas negara mulai dikembangkan untuk memungkinkan penyelesaian transaksi langsung menggunakan mata uang masing-masing tanpa melalui jalur dolar.

Proyek mBridge yang melibatkan Tiongkok, Hong Kong, Thailand, Uni Emirat Arab, bersama Bank for International Settlements (BIS), menjadi salah satu contoh. Selain itu, inisiatif BRICS Pay dirancang untuk memfasilitasi pembayaran dan investasi antar anggota BRICS menggunakan mata uang lokal.

BACA JUGA:  Payoneer Incar Lisensi Bank AS untuk Terbitkan Stablecoin Sendiri

Teknologi keuangan digital juga masuk dalam sorotan. Stablecoin dan aset digital lintas negara dipandang berpotensi menjadi “jalur netral” pembayaran global karena mampu menyediakan transaksi cepat, biaya rendah dan tidak bergantung pada sistem perbankan tradisional berbasis dolar AS.

Jin menilai bahwa Tiongkok kemungkinan akan mendorong penggunaan stablecoin berbasis yuan di berbagai kawasan strategis.

“Dunia mulai membangun cara baru untuk bertransaksi tanpa harus selalu bergantung pada jaringan dolar,” ujar Jin.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia