Ekonom Universitas Medan Area (UMA): Bitcoin Ubah Cara Pandang Manusia tentang Uang dan Aset

Bitcoin yang mampu memberikan imbal hasil lebih besar daripada kelas aset lain di kala ekonomi sulit, dianggap unik, sekaligus mengubah cara pandang manusia terhadap konsep uang dan aset. Di sisi lain, Bitcoin yang bersifat disruptif di skala industri adalah percikan revolusi ekonomi dunia.

Demikian disampaikan Dr Ihsan Effendi Ekonom Universitas Medan Area (UMA) yang juga Dekan Fakultas Ekonomi UMA, beberapa waktu lalu di Medan dalam seminar “Kamu, Bitcoin dan Revolusi Ekonomi Itu” di Kampus UMA, yang diselenggarakan atas kerjasama UMA, Blockchainmedia dan Triv.co.id/tpro.co.id pada Sabtu, 29 Juni 2019 lalu.

Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Blockchainmedia.id (PT. Blockchain Media Indonesia), Triv (PT. Tiga Inti Utama) dengan Universitas Medan Area (Yayasan Pendidikan Haji Agus Salim) di bidang pendidikan dan pelatihan teknologi blockchain kepada sivitas akademika UMA dan masyarakat Sumatera Utara, di sela-sela seminar “Kamu, Bitcoin dan Revolusi Ekonomi Itu” di Universitas Medan Area (UMA), Sabtu, 29 Juni 2019. Dari kiri: Dr. Ihsan Effendi (Dekan Fakultas Ekonomi UMA), Vinsensius Sitepu, M.A (Pemimpin Redaksi Blockchainmedia.id), Rektor UMA, Prof. Dr. Dadan Ramdan, M.Eng., M.Sc.

Sebut Ihsan, jumlah unit Bitcoin yang terbatas, yakni maksimal 21 juta unit dan saat ini baru sekitar 17 juta unit yang beredar dan dilakukan melalui proses “penambangan”, mirip dengan karakteristik emas yang jumlahnya langka.

“Karakter Bitcoin sangatlah unik dan secara prinsip merupakan antitesis terhadap uang fiat seperti dolar AS dan rupiah yang sejatinya jumlahnya tak terbatas dan rentan inflasi. Sedangkan dari segi investasi, Bitcoin memang terbilang spekulatif dan harganya sangat volatil, namun memberikan imbal hasil yang tinggi pada periode waktu tertentu. Contohnya, ketika hasil referendum Brexit pada 24 Juni 2016. Satu hari setelah pengumuman itu, harga poundsterling ambruk hingga minus 8,1 persen dan euro jatuh tak terbendung hingga minus 2,4 persen. Di saat yang sama Bitcoin justru bullish dengan imbal hasil hingga 7,1 persen. Bitcoin hanya bersaing ketat dengan Indeks harga emas COMEX, yakni 4,7 persen dan yen 3,9 persen. Hingga akhir tahun 2016, poundsterling dan euro terus melemah. Hal serupa terjadi ketika Yunani gagal membayar utang luar negerinya pada 2015 dan kebijakan pemerintah Tiongkok untuk melemahkan yuan pada Desember 2016. Di dua peristiwa itu, Bitcoin memberikan imbal hasil lebih besar, yakni 28 persen dan 53,6 persen,” ujarnya.

Ihsan juga melihat kenaikan harga Bitcoin cenderung naik dan turun dengan sangat cepat. Katanya, ini mencerminkan kelas aset baru ini direspons positif oleh investor yang suka mendapatkan imbal hasil yang tinggi.

Ihsan menelisik lebih dalam soal perdagangan Bitcoin di Indonesia yang sudah dalam tahap yang lebih baik. Alasannya, karena sudah ada peraturan Menteri Perdagangan soal aset kripto yang diperdagangkan di bursa berjangka Indonesia, selain spot market seperti Triv.co.id dan Tpro.co.id.

Peraturan tersebut sejatinya memberikan perlindungan terhadap konsumen pengguna Bitcoin, termasuk meningkatkan penetrasi pasar Bitcoin kepada masyarakat.

“Soal apakah Bitcoin itu sebagai investasi, sangat tergantung pada lintasan mental penggunanya. Bagi risk taker yang hebat, Bitcoin adalah peluang besar. Dan sebaliknya, bagi yang sukar menghadapi risiko besar, Bitcoin akan dianggap sebagai kelas aset yang menakutkan,” kata Ihsan. [red]

Terkini

Warta Korporat

Terkait